☆☆☆
Dengan langkah lambat, Nata berjalan memasuki pekarangan rumah. Rumah yang sudah hampir dua minggu mereka tempati sejak kepulangan Alin di suatu malam, membuka diskusi antara ketiganya untuk pindah.
Ketiganya sepakat untuk menjual cepat rumah lama dengan harga di bawah. Ditambah sisa tabungan, mereka membeli rumah yang berlokasi di pusat keramaian. Hal itu dilakukan setelah mempertimbangkan kenyamanan Alin yang mengatakan tidak ingin berhubungan lagi dengan Jefry. Tidak masalah jika mereka mungkin harus mengalami kerugian, yang penting laki-laki brengsek itu tidak lagi menganggu hidup Alin.
Rumah ini sedikit lebih besar dan lebih layak dari sebelumnya. Meskipun halamannya tidak terlalu besar seperti rumah sebelumnya, setidaknya mereka memiliki lahan di samping rumah untuk menanam beberapa bahan makanan seperti tomat dan cabai agar lebih menghemat ketika memasak.
Satu hal yang membuat nyaman, setidaknya rumah ini memiliki tiga kamar meskipun tidak terlalu besar. Sehingga Nata dan Resya tidak perlu tinggal berdua dalam satu kamar.
Nata mengambil part time yang tadinya hanya di satu kafe, kini menambahnya menjadi dua kafe. Kesibukannya sebagai mahasiswa akhir, tidak lantas membuat Nata mengabaikan kewajibannya yang seolah berubah menjadi kepala rumah tangga.
Tidak hanya Nata, Alin yang baru selesai skripsi dan tinggal mempersiapkan berkas kelengkapan wisuda, mengambil tawaran pekerjaan sebagai asisten MUA dari salah satu tetangga mereka. Awalnya Alin ragu karena meskipun mahir menggunakan make up, nyatanya Alin tidak pernah merias wajah orang lain. Syukurlah, berkat dukungan Nata dan Resya, Alin berani mencobanya.
Berbeda dengan kedua kakaknya, Resya justru fokus dengan kuliah. Terhitung sejak dua minggu, dia resmi menjadi mahasiswa di jurusan teknik mesin, satu kampus dengan Alin dan Resya. Kesibukannya sebagai mahasiswa baru, membuat Resya harus mengalah untuk tidak bekerja dan mengikuti kemauan kedua kakaknya. Mereka yang lebih dulu menjadi mahasiswa, mereka tau bagaimana sulitnya beradaptasi dengan dunia kampus yang terkadang tidak manusiawi tugasnya.
"Aku pulang."
Alin yang sejak tadi menunggu kepulangan Nata, langsung bergegas membuka pintu.
"Gimana sidangnya?"
Dengan wajah lelah dan tampak raut kecewa, Nata menatap sendu ke arah kakaknya.
"Apa Papa beneran korupsi?" tanya Alin penuh harap.
"Kita bicara di dalam."
Keduanya duduk di sofa yang baru beberapa hari lalu datang ke rumah itu, sebab ketika mereka membeli rumah ini hanya ada satu lemari di kamar Alin. Selain itu, mereka harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli perlengkapan lainnya.
"Gue yakin, Papa nggak salah," ucap Nata dengan wajah menunduk.
Ada perasaan menyesal karena pernah tidak mempercayai Ayahnya. Nyatanya, persidangan tadi terasa sangat ganjal.
"Maksud lo? Terus kenapa lo nggak senang?"
Nata mengangkat wajahnya. Tatapannya frustasi dan bingung bagaimana menjelaskan pada Alin. Dia tau, perasaannya tidak bisa membuktikan apapun.
"Jawab gue!" bentak Alin karena kesal Nata hanya diam seperti linglung.
Nata menghela nafasnya dalam, "Papa nggak salah Kak. Persidangan tadi banyak banget yang ganjal. Mulai dari bukti tangkap tangan yang nggak disertain, serta dokumen-dokumen laporan keuangan yang nggak diperlihatkan kalau ada tanda tangan Papa di atasnya. Dan satu lagi, tuduhan Papa sebagai penggelapan dana proyek, jelas sangat nggak masuk akal. Bahkan nama Papa nggak ada di proyek itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)
Random[Diikutkan dalam Writing Maraton An.Fight x Solis Publisher] Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Winata Nara Winanda dituntut untuk menjadi adik yang patuh terhadap kakak tertua dan menjadi kakak yang penyayang terhadap adiknya. Tidak hanya itu...
