-01-

1.2K 95 31
                                        

☆☆☆

Ada alasan mengapa Winata Nara Winanda tidak begitu menyukai senja. Memang tampak indah dengan guratan warna jingga yang berbagi peran dengan biru muda di langit angkasa. Jingga yang mengambil peran besar dengan memancar lebih terang, mengambil sebagian tempat biru, sedikit menambah kesan egois.

Keindahannya yang datang hanya beberapa saat sebagai penanda datangnya malam, terkadang membuat Nata merasa kasihan. Sering kali dia mempertanyakan maksud semesta, "Mengapa harus ada, jika sifatnya hanya sementara?" Tanpa disadari, kehidupannya tidak jauh berbeda dengan senja yang hanya menjadi penengah antara siang dan malam.

Selain alasan klasik yang sudah diyakininya sejak kecil, Nata juga memiliki alasan lain mengapa senja begitu menyedihkan. Kebanyakan aktivitas manusia, berakhir ketika malam tiba. Hal itu membuat senja seperti pengingat untuk manusia agar bersiap-siap pulang ke rumah.

Ada yang ingin secepatnya bertemu keluarga, ada pula yang pulang sekedar ingin beristirahat karena lelah. Atau alasan-alasan lain yang membuat manusia menjeda aktifitasnya.

Sementara untuk Nata, 'pulang' hanyalah sebuah kebiasaan yang tidak memiliki alasan. Bahkan ketika usianya sudah menginjak 20 tahun, Nata masih mencari alasan mengapa dia harus pulang.

Seperti saat ini, terjebak macet di tengah kepadatan kendaraan milik para penghuni kota Jakarta. Dengan motor scoopy kesayangannya, Nata mengambil kesempatan menyempil masuk di antara celah-celah kecil kendaraan lain.

Suara klakson dari beberapa kendaraan, membuktikan bahwa pulang adalah hal yang dinantikan hampir semua orang. Karena terbiasa dengan situasi ini, Nata tidak terlalu mempermasalahkannya. Setidaknya kemacetan memberinya waktu untuk menunda kepulangan.

Nata memarkirkan motornya di samping mobil putih milik Alin. Mencopot helm putih yang sudah setia melindungi kepalanya, dan menggantungkan pada setir motor. Hampir satu jam terjebak dikemacetan, membuat Nata tiba di rumah saat matahari sudah benar-benar bersembunyi. Nata masuk ke dalam rumah dengan menenteng tas punggung yang berisikan laptop serta beberapa tugas kuliah.

"Papa nggak adil!" Suara Alin terdengar ketika Nata membuka pintu.

Berasal dari ruang keluarga yang tepat bersebelahan dengan kamarnya, membuat Nata mau tak mau harus singgah.

"Apaan sih, kak. Lo kan udah dibeliin mobil, jangan egois dong!" Resya tak mau kalah.

Kehadiran Nata seperti tak terlihat. Namun demi memastikan dia dianggap, Nata duduk di samping ibunya yang sedari tadi kebingungan melihat perdebatan Alin dan Resya.

"Mereka debatin apa sih, Ma?" tanya Nata berbisik.

"Papa kan belum ngasih kado buat sweet seventen Resya kemarin. Tadi pagi, mama dapat paket dari Papa yang di dalamnya itu ditulis kado buat Resya." jawab Wanda. Nata mengangguk paham.

Alin beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar. Merasa tidak adil dengan hadiah yang diberikan papanya pada Resya. Karena saat dia merayakan sweet seventen hanya mendapatkan kue ulang tahun biasa.

"Lin, mau ke mana?"

Alin tidak menjawab pertanyaan mamanya dan terus berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai dua dengan wajah kesal menahan marah. Wanda hanya bisa menghela napas berat.

Dia juga bingung bagaimana menengahi perdebatan kedua anaknya. Cakra yang sedang bertugas di Kalimantan, membuat Wanda tidak ingin mengganggunya hanya karena permasalahan kecil seperti ini.

Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang