-11-

499 52 12
                                        

☆☆☆

Nata membuka perlahan-lahan matanya. Langit-langit rumah sakit yang berwarna putih, adalah pemandangan pertama yang dilihatnya. Kepalanya terasa berat dan kaku dengan perban putih yang melingkar menutupi luka di bagian belakang kepala. Kecelakaan kecil yang menimpanya semalam, membuat Nata harus rela mendapatkan luka dibeberapa bagian. Yang paling parah adalah luka di bagian lengan, yang tergores akibat digunakan untuk menumpu tubuhnya sebelum benar-benar jatuh mengenai aspal.

Tidak ada satupun orang yang menemaninya saat itu. Kemungkinan besar, kedua saudaranya tidak tau tentang kecelakaan Nata. Dan bisa jadi, mereka saat ini sedang mempertanyakan keberadaan Nata yang tidak juga kembali.

Nata menguatkan diri untuk bangun dari pembaringannya, sebelum seorang perawat tidak sengaja melintas dan singgah untuk membantunya. Dengan sopan, Nata mencoba menanyakan pada perawat itu tentang ponselnya. Dia harus mengabarkan pada Alin atau Resya, bahwa dia sedang di rumah sakit. Meskipun, Nata tau menyuruh mereka datang adalah hal yang mustahil. Ditambah lagi, pemakaman sang ibu harus ada yang menangani.

Setelah mendapatkan ponsel yang disimpan di loker rumah sakit oleh para perawat, Nata segera menghubungi Alin yang sudah menelponnya hingga lebih dari sepuluh kali. Waktu di layar ponsel sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Pasti sebentar lagi, pemakaman akan dimulai.

Nata harus menghadiri pemakaman ibunya sebagai tanda ikut serta dalam pengantaran menuju alam lain. Namun, perawat yang menunggunya melarang Nata. Selain itu, kakinya yang terkilir membuat Nata kesulitan untuk melawan larangan dari pihak rumah sakit. Dengan sangat terpaksa, Nata harus mengalah dan pasrah tidak ikut mengantarkan sang ibu ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Nata terus mencoba menghubungi nomor Alin dan Resya. Entah sudah berapa kali, keduanya tidak mengangkat panggilannya. Nata tidak menyerah hingga akhirnya, panggilan tersambung.

"Halo, Sya. Apa pemakaman udah mulai?"

"Kak, Lo di mana? Kok baru ngabarin? Kita semua khawatir. Kak Alin bahkan semalam sampai drop gara-gara berita Papa. Gue di sini sendirian, Kak."

"Maaf, Sya. Semalam Kakak kecelakaan. Ini masih di rumah sakit. Kaki gue terkilir dan pihak rumah sakit nggak izin-in gue pulang."

"Lo kecelakaan? Ya Ampun, cobaan apalagi ini." Suara Resya terdengar panik.

"Lo tenang aja, gue udah nggak pa-pa. Gue minta tolong, Lo tanganin dulu semua di sana, ya. Kalau udah enakan buat jalan, gue langsung pulang."

"Oke. Nggak usah dipaksain. Lo mending istirahat aja."

"Kak Alin gimana?"

"Gue belum cek kondisinya gimana sekarang. Tadi, ada teman-teman kampus Kak Alin yang datang jengukin dan bantu nenangin. Mbak Mina juga ada. Gue masih repot ngurus pemakaman."

"Ya udah. Lo hati-hati, jangan lupa makan."

Perkataan Nata mendapat dehaman dari Resya sebelum panggilan itu terputus. Nata kembali membaringkan tubuhnya, berharap secepatnya pulih agar bisa segera pulang menemui kedua saudaranya.

•°•°•

Resya turun ke liang kubur ibunya. Perasaan sedih yang menderanya, entah hilang ke mana. Tersisa perasaan pasrah dan ikhlas melihat tubuh sang ibu diturunkan perlahan-lahan dan disambut beberapa kerabat dekat yang turun bersamanya ke liang kubur.

Resya yang baru saja mendapatkan KTP-nya beberapa bulan lalu, belum bisa dikatakan sepenuhnya telah dewasa. Dia masih butuh beradaptasi dan dibimbing untuk bertanggung jawab, meskipun dimulai dari diri sendiri. Namun dalam satu malam, Resya harus meneriman tamparan semesta yang menuntutnya untuk secepatnya dewasa. Sialnya, dia bahkan tidak tau harus mengadu pada siapa. Kedewasaannya, merenggut orang-orang yang seharusnya memberi tahu, ke mana Resya akan melangkah.

Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang