-05-

707 77 19
                                        

☆☆☆

Kepulangan Wanda, harus menunggu dokter penanggung jawabnya tiba.. Cakra juga masih harus mengurus beberapa administrasi rumah sakit untuk keperluan rawat jalan nanti. Hal itu membuat mereka tiba di rumah jam 10 pagi setelah Nata sudah berangkat ke kampus.

Sebelum berangkat, Nata menyempatkan diri untuk membersihkan rumah. Dia juga menitipkan pesan pada pembantu rumah yang mulai bekerja pukul 8 pagi, dengan menempelkan sticky note di depan pintu kulkas.

"Mbak, tolong buatin mama sup sama bubur, ya. Jangan ditaruh garam, biar mama aja yang nambahin. Terus supnya, tolong ayamnya direbus terpisah. Nata udah beresin rumah, jadi Mbak fokus masak aja, ya. Terima kasih Mbak.
-Salam, Nata-"

Pesan dari Nata langsung dikerjakan Mbak Mina. Seorang janda yang sudah hampir 4 tahun bekerja di rumah keluarga Cakra.

Ketika keluarga Cakra tiba, sup buatan Mbak Mina sudah siap. Dia langsung menawarkan pada Wanda. Wanda berterimakasih dan meminta Mbak Mina untuk membawakan ke kamarnya. Setelahnya, Mbak Mina menyiapkan sarapan untuk yang lain.

Resya yang sejak tadi sudah kelaparan, meminta untuk dibuatkan nasi goreng agar lebih cepat. Sebenarnya bisa saja Resya makan bubur mamanya yang masih tersedia sedikit di wadah. Namun, setelah Resya mencicipi rasanya yang hambar, dia menyerah dan memilih menunggu nasi goreng tesedia.

"Mbak, tadi sempat ketemu kak Nata?" tanya Resya dari meja makan.

"Tadi Mbak nyampe rumah, udah nggak ada orang. Terus Mbak ke dapur, ngeliat pesan dari den Nata di tempel di kulkas, minta tolong buatin ibu bubur sama sup." Mba Mina meletakkan nampan nasi goreng di atas meja makan.

"Oalah, gitu ya. Kirain Mbak masih sempat ketemu kak Nata. Terimabkasih Mba, makanannya."

"Iya, Den. Sama-sama. Selamat menikmati."

Mbak Mina kembali ke dapur untuk membereskan bekas peralatan masak dan melanjutkan pekerjaannya yang lain.

Alin yang sudah selesai mandi, menuju meja makan untuk menikmati sarapan. Dia duduk di kursi tepat di samping Resya.

"Kapan persidangan teman lo mulai? Lo jadi saksi aja kan, ya? Bukan tersangka?" tanya Alin sambil menyendokkan nasi ke piringnya.

Resya menghentikan kunyahannya dan menjawab, "Kak, gue lagi nggak mood bahas yang kemarin. Bisa nggak, lo nggak bahas itu dulu. Gue tau, gue salah. Tapi, please ... kasih gue waktu untuk tenang dulu."

"Sensi banget, sih. Orang gue cuma nanya."

"Tapi cara lo nanya kayak nyindir gue!"

Resya mengangkat piringnya dan membawa ke ruang keluarga. Dia memilih untuk menghindar dari Alin, daripada terjadi perdebatan yang akan menambah panjang masalah. Selain itu, Resya juga tidak ingin memancing kemarahan Ayahnya.

Cakra turun dari lantai dua membawa piring dan gelas bekas Wanda. Dia melihat Resya yang sedang makan di ruang keluarga dan menghampirinya.

"Sya, kenapa kamu makan di ruang keluarga?"

"I-itu Pa ..."

"Papa nggak pernah, ya  ... ngajarin kalian makan di ruangan keluarga. Udah dibuatin ruangan khusus untuk makan, jadi makannya di sana. Bukan di sini! Namanya aja ruang keluarga, khusus untuk kumpul keluarga dan santai-santai. Sekarang kamu pindah!"

"Rasain lo ...." bisik Alin ketika mendengar suara Ayahnya mengomeli Resya.

Resya hanya bisa menurut dan kembali ke meja makan. Dia memilih duduk di kursi yang berjarak dua kursi dari Alin. Keduanya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Apalagi, saat ini Cakra bergabung untuk sarapan bersama.

Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang