☆☆☆
Hari demi hari terus berlalu, bayangan Nata masih menyelimuti rumah sederhana yang ditempati Alin dan Resya. Berkat uang tabungan yang disiapkan Nata, keduanya tidak lagi merasa kekurangan. Resya menjadi perpanjang tangan dari Nata untuk mengatur keuangan mereka.
Berkat buku catatan keuangan yang Nata tinggalkan, Resya membagi kebutuhan-kebutuhan mereka dengan adil. Dia juga melanjutkan pekerjaan Nata di kafe setelah pulang kuliah. Satu lagi, Nata ternyata sudah menyiapkan motor untuk Resya. Bukan motor mahal, hanya motor beat biasa yang harganya tidak sampai setengah dari harga motor Resya sebelumnya.
Luthfi yang mengantarkan ke rumah mereka beberapa hari lalu. Sebelum Nata pergi, mereka memang sudah menyiapkan hadiah motor untuk Resya. Bukan untuk memperingati hari spesial, karena ulang tahun Resya juga masih beberapa bulan. Hanya sebuah keinginan yang tiba-tiba muncul ketika Nata melihat Resya berjalan kaki saat tidak menemukan angkot disuatu hari. Sejak saat itu, list keinginannya dimulai dari hadiah untuk Resya.
"Kak, dibuku ini, kak Nata ada keinginan beli rumah. Menurut lo gimana?" tanya Resya membuka buku catatan Nata yang entah sudah berapa kali dilihatnya dipagi itu.
Dengan bantuan Resya, Alin duduk di sampingnya.
"Coba sini, Kakak lihat."
Resya memperlihatkan catatan Nata.
Alin mengembuskan napasnya. Perlahan, air matanya mulai turun. Meskipun ini bukan pertama kalinya dia melihat catatan keuangan itu, tetapi Alin masih merasa sedih. Dia masih belum percaya bahwa Nata sudah menyiapkan semua ini. Untuk mereka, untuk dia dan Resya.
"Kak...," panggil Resya lirih.
Alin mengangguk dan menghapus air matanya.
"Kita ikutin aja yang Nata tulis di sini."
Resya mengangguk dan kembali menatap ke depan.
"Gimana hubungan lo sama Jefry? Apa dia benar-benar udah berubah?"
Sejak kepergian Nata, Jefry memang sering ke rumah. Menemani Alin dan memberikan perhatian pada wanita itu. Resya awalnya marah, tetapi dia tidak mungkin dia mencampuri hubungan kakaknya. Apalagi, Jefry benar-benar menunjukkan keseriusan untuk berubah.
"Sya," Alin menatap serius. "Jefry ngajak kakak nikah setelah kakak lahiran."
Resya mengangkat alisnya. "Terus?"
"Kakak mau minta restu dari kamu. Satu-satunya wali yang kakak punya, cuma kamu."
Resya menyapu wajahnya menggunakan kedua tangan. Meletakkan tangan kirinya di dagu, memikirkan apa langkah yang akan diambilnya.
"Lo yakin?"
Alin mengangguk dengan wajah penuh harap.
"Baiklah. Tapi lo harus janji sama gue, kalau laki-laki itu buat macam-macam, lo harus kasih tau gue."
"Tenang aja."
Jefry yang baru tiba langsung masuk ke dalam rumah. Pintu rumah memang sengaja dibuka saat pagi agar pertukaran udara bisa terjadi.
"Kamu dengar pembicaraan kita?" tanya Alin.
Jefry duduk di depan Alin dan Resya setelah sebelumnya meletakkan dua tas kresek putih berukuran besar di atas meja.
"Aku bawain pesanan kamu semalam," ucap Jefry tersenyum ke arah Alin.
Setelahnya, dia mengalihkan pandangan ke Resya.
"Sya, aku ke sini sekalian mau minta izin untuk melamar Alin. Kita udah bicarain ini beberapa hari lalu, tapi kata Alin semua keputusan tergantung kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)
Acak[Diikutkan dalam Writing Maraton An.Fight x Solis Publisher] Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Winata Nara Winanda dituntut untuk menjadi adik yang patuh terhadap kakak tertua dan menjadi kakak yang penyayang terhadap adiknya. Tidak hanya itu...
