"Penyesalan selalu datang belakangan. Berhati-hatilah melewati masa kini aga tidak menyesal dikemudian hari."
☆☆☆
Nata menyusuri gang sempit setelah turun dari angkot. Dia tidak punya pilihan lain selain jalan kaki dari jalanan besar menuju rumah, karena angkot yang ditumpangi tidak bisa masuk ke dalam gang tempat tinggal mereka. Suasana sore di gang itu sangat ramai. Tawa anak-anak yang berlari-lari menyusuri gang, serta percakapan-percakapan oeang dewasa menemani langkah Nata dengan senyum yang merekah. Ada rasa syukur yang terbersit dalam hatinya. Kapan lagi Nata yang terbiasa dengan kehidupan mewah, bisa melihat secara nyata sisi lain dari Kota Jakarta?
Jika sebelumnya Nata hanya mengetahui kehidupan masyarakat yang berada di pertengahan atau bahkan di bawah garis kemiskinan, kini dia menatap mereka secara nyata. Bahkan, mungkin dia sudah menjadi bagian dari mereka.
Ditentengnya tas punggung sambil melewati anak-anak itu. Sesekali, Nata meladeni sapaan para tetangga yang terpesona dengan wajah tampannya. Mereka memang belum berkenalan dengan warga sekitar. Tetapi, lebih baik seperti itu dari pada nanti warga akan memusuhi mereka jika tau bahwa Nata dan kedua saudaranya adalah anak dari Cakra Adimas, pelaku korupsi yang kini ditahan KPK.
Sesampainya di depan rumah, Nata melihat sebuah mobil putih yang terparkir di halaman rumah. Pintu rumah juga terbuka sehingga Nata bisa melihat samar-samar seorang laki-laki yang sedang duduk di ruang tamu. Hanya saja, Nata perlu melihat lebih dekat untuk memastikan bahwa dugaannya salah.
"Aku pulang," ucap Nata, membuat dua orang yang sedang serius berbicara, menoleh ke arahnya.
Betapa terkejutnya Nata, ketika mengetahui bahwa dugaannya tidak salah. Jefry, laki-laki itu tersenyum memperlihatkan dua buah lesung pipi yang dalam. Dengan tanpa rasa bersalah, Jefry berdiri dan mengulurkan tangan pada Nata.
"Lo mau apa ke sini?" tanya Nata dengan mimik wajah tak suka.
Jefry tidak menjawab dan justru mengandeng pundak Nata. Dia menuntun Nata keluar dari rumah dan berbicara berdua di teras. Meninggalkan Alin yang sedari tadi hanya menunduk dengan tubuh gemetar menahan takut.
"Lepasin gue!" Nata melepaskan tautan tangan Jefry. Wajahnya merah menahan marah, dengan kepalan tangan yang siap dilayangkan diwajah tampan lelaki di depannya itu.
"Sabar, bro. Gue ke sini mau silaturahmi sama kalian. Sekalian, gue bawain karangan bunga. Nggak sempat gue turunin soalnya keburu kangen sama Alin. Nanti lo turunin, ya."
Ucapan Jefry membuat Nata tidak bisa menahan emosinya dan melayangkan satu pukulan di pipi kiri Jefry hingga laki-laki itu terpental ke arah pintu.
"Hentikan!" pekik Alin mencegah Nata yang saat ini sudah mencengkeram leher Jefry dengan tangan kirinya dan siap melayangkan satu pukulan lagi menggunakan tangan satunya.
"Gue bilang berhenti, Nat!"
Nata berusaha mengendalikan diri dan melepaskan cengkeramannya yang hampir membuat Jefry kehabisan nafas.
"Kamu nggak pa-pa, kan?" tanya Alin mendekati Jefry dan melihat lebih dekat bekas pukulan adiknya.
"Nggak. Nggak pa-pa!"
Jefry menepis tangan Alin dan membuang ludah yang bercampur darah.
"Sepertinya, kehadiran aku di sini nggak disambut baik-baik sama adik kamu. Kalau begitu, aku pergi," ucap Jefry melotot ke arah Nata yang juga sama sedang melototinya. Kalau bukan karena Alin, sudah habis nyawa Jefry di tangan Nata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)
Acak[Diikutkan dalam Writing Maraton An.Fight x Solis Publisher] Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Winata Nara Winanda dituntut untuk menjadi adik yang patuh terhadap kakak tertua dan menjadi kakak yang penyayang terhadap adiknya. Tidak hanya itu...
