-07-

647 67 7
                                        

☆☆☆

Hari menjelang siang, Nata harus segera bersiap-siap ke kampus untuk kuliah. Namun, dia juga tidak mungkin meninggalkan Alin dalam keadaan seperti ini. Sudah berjam-jam, dia dan Resya menunggu Alin keluar.

"Gue ada jadwal kuliah, gimana dong?"

"Ya, udah. Kak Nata kuliah aja. Biar gue yang jagain kak Alin."

"Beneran?"

"Iya. Udah, siap-siap sana! Nanti telat."

Nata pun berdiri dan menuju kamarnya. Mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Otaknya masih bekerja keras mencari cara bagaimana agar Alin mau keluar dari kamarnya. Namun hingga selesai memasukkan laptop dalam tas, Nata masih belum menemukan jawaban.

"Gue berangkat, ya. Kalau ada apa-apa, jangan lupa kabarin gue."

"Siap."

Selepas kepergian Nata, Resya kembali mengetuk pintu Alin.

"Kak, buka, dong. Lo makan dulu."

Tidak ada jawaban dari dalam. Tapi sepertinya, Alin sudah tenang karena Resya tidak lagi mendengar suara tangisnya.

Resya merasa perutnya mulai keroncongan. Dia memutuskan untuk pergi ke dapur mengisi perutnya yang lapar. Apalagi, sudah tercium bau enak masakan Mbak Mina yang semakin menggunggah selera.

"Mbak, makan siang udah siap?"

Mbak Mina yang sedang mengaduk kaldu, berbalik dan menjawab, "Bentar, ya, Den. Ini lagi sementara Mbak buatin."

"Siap, Mbak."

Sambil menunggu makanannya siap, Resya melanjutkan bermain game di ponselnya. Saat sedang asyik, Resya mendapat ide. Dia mencoba menelpon ponsel Alin, meskipun dia kurang yakin ide itu akan berhasil.

Benar saja, Alin tidak mengangkat telponnya. Resya mengirimkan Whats App berharap Alin membacanya. Setidaknya, Resya bisa tau kalau Alin baik-baik saja. Namun, hingga makanannya tiba, Alin tidak membaca pesannya.

"Silakan menikmati, Den."

"Terima kasih, Mbak. Mbak, Resya minta tolong panggilin kak Alin bisa?"

Resya mencoba cara lain. Siapa tau, dengan bantuan Mbak Mina Alin akan keluar dari kamarnya.

"Baik, Den. Mbak mau panggilin Ibu juga."

"Tapi panggilin kak Alin dulu, ya, Mbak. Nanti kalau kak Alin udah keluar, baru Mbak ke lantai dua."

"Siap, Den."

"Terima kasih Mbak."

Resya membalikkan piringnya dan mulai menyendokkan nasi. Menambahkan kaldu ayam serta sayuran sebagai lauk untuk makan siangnya.

Prinsip Resya tidak pernah berubah. Makan adalah utama untuk semua kondisi. Bahkan saat bersedih, kita butuh energi.

Mbak Mina tiba di depan kamar Alin dan mengetuk pintunya.

"Non, Mbak udah buatin makan siang. Ada kaldu ayam juga, kesukaan Non Alin."

Alin yang sejak tadi memeluk lututnya disamping kasur, mendengar suara Mbak Mina. Hatinya sedikit tergerak untuk membuka pintu. Biar bagaimanapun, Alin juga manusia yang berselera. Apalagi, setelah mendengar kaldu Ayam buatan Mbak Mina. Menu kesukaan yang tidak pernah dia lewatkan. 

Ditambah perutnya yang kosong karena tidak sarapan, membuat Alin tidak bisa lagi menahan laparnya. Alin berdiri dan menghadap cermin. Menghela nafasnya berat dan berusaha tersenyum secerah mungkin agar orang-orang di rumahnya tidak curiga. Terlebih mamanya, Alin tidak ingin mamanya tau tentang masalah Jefry.

Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang