☆☆☆
Nata membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Baru kali ini, Nata merasakan lelah yang teramat sangat. Sejak pagi, dia sibuk mengurusi kasus-kasus baru yang masuk. Sorenya, Nata bekerja di salah satu kafe dekat asrama. Barulah pukul sebelas malam, dia bisa beristirahat. Rutinitas seperti ini memang sudah biasa bagi seorang Nata yang terkenal pekerja keras. Namun, hari ini tubuhnya terasa begitu lemas.
"Gue pulang."
Nata bangun ketika mendengar suara Luthfi. Laki-laki itu tersenyum ke arahnya. Benar saja, hari ini Luthfi kembali setelah meminta cuti beberapa hari untuk pulang ke rumah karena Ayahnya sedang sakit.
"Buat lo."
Luthfi meletakkan dua bungkus paper bag di atas meja samping tempat tidur Nata.
"Apaan?"
"Makanan dari nyokap, sama tadi gue beliin lo syal."
"Hah?" Nata membelalakkan matanya tak percaya.
Meskipun hubungannya dengan Luthfi bisa dibilang cukup dekat setelah kejadian Nata pingsan, tetapi Nata tidak pernah menduga bahwa Luthfi akan seperhatian ini padanya. Untuk masalah makanan, bisa saja itu dimaklumi. Karena biasanya, Nata juga akan membawakan makanan untuk Luthfi setelah pulang dari rumah. Tapi syal? Untuk apa?
Luthfi tidak memperdulikan Nata yang masih menatap bingung ke arahnya. Laki-laki itu membuka jaket kulit yang dikenakan, lalu menggantungkan dibalik pintu. Dia berniat ingin mandi, sebelum langkah terhenti di depan meja tempat Nata belajar.
"Jangan bilang, ini kasus yang bakalan lo pelajarin?" tanya Luthfi menyelidik.
Dia mendekat meja belajar Nata dan membaca sebuah artikel yang terletak paling atas dari tumpukan kertas serta beberapa buku.
"Lo dapat tugas ini? Tapi ini kasus besar, loh?"
Luthfi berbalik dan menatap Nata tak percaya. Sementara Nata, dia hanya mengangguk mengatupkan kedua bibirnya.
"Terus lo nerima?"
Sekali lagi, Nata hanya mengangguk.
"Ya ampun, Nat. Lo mau bunuh diri?! Lo nggak inget kata Bang Mahen? Lo harus istirahat dulu, jangan terlaku banyak pikiran. Nanti gimana kalau--"
"Gue nggak pa-pa. Lagian, gue udah konsultasi sama Pak Tomo. Dia bakalan ngasih gue poin plus kalau bisa ambil kasus ini. Satu lagi, gue bisa ikut ujian advokat secepatnya. Jadi nggak perlu nunggu tahun depan, tahun ini gue bakalan resmi jadi pengacara." tukas Nata dengan wajah cerah.
"Tapi, Nat. Gimana kondisi lo? Lo juga kerja, kan? Lo itu manusia, bukan robot."
Nata turun dari tempat tidur dan mendekati Luthfi. Dipegangnya bahu Luthfi dan tersenyum ke arah laki-laki itu.
"Gue baik-baik aja. Nanti kalau gue udah berhasil jadi pengacara, gue bisa bebasin Papa, Lut. Dia nggak perlu kedinginan di penjara, nggak perlu makan makanan yang nggak enak, dia bisa tinggal di rumah bareng gue sama saudara-saudara gue. Nggak ada yang pengen gue lakuin, selain mewujudkan semua itu. Gue nggak bakal berhenti, Lut."
Luthfi hanya menghela napasnya berat. Dia tau, percuma menasehati Nata. Nata adalah orang yang sangat mencintai keluarganya lebih dari apapun termasuk dirinya sendiri. Bahkan, seorang Nata bisa mengabaikan perkataan Bang Mahen yang hampir semua penghuni asrama segan padanya. Nata memang keras kepala, terlebih soal keluarga. Dia pernah bilang, akan bekerja apa saja selama itu halal agar kebutuhan kedua saudaranya bisa terpenuhi.
Terkadang, Luthfi merasa malu ketika melihat Nata yang begitu bersemangat belajar untuk bisa berhasil menjadi pengacara. Sementara dia? Ayahnya adalah seorang Hakim dan ibunya adalah pengacara. Luthfi yang terpaksa mengambil jurusan hukum karena tuntutan kedua orang tuanya, sering kali membuang-buang waktu untuk bersenang-senang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)
Sonstiges[Diikutkan dalam Writing Maraton An.Fight x Solis Publisher] Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Winata Nara Winanda dituntut untuk menjadi adik yang patuh terhadap kakak tertua dan menjadi kakak yang penyayang terhadap adiknya. Tidak hanya itu...
