-25-

686 46 14
                                        

☆☆☆

Resya terduduk di kursi belajar Nata. Matanya berair ketika melihat berbagai macam obat yang dimasukkan ke dalam sebuah kotak. Tampak rapi, karena memang Nata adalah lelaki yang tidak suka berantakan.

Dari mulai vitamin hingga obat penahan nyeri, ada di sana. Nata juga sering mengkonsumsi obat sakit kepala dengan dosis yang tidak sesuai aturan pakai. Wajar saja, semakin lama rasa sakitnya semakin terasa dan satu pil sehari tidak cukup untuk menahan sakit kepalanya.

"Nata bekerja sangat keras. Gue sendiri nggak tau, kalau dia nyimpan banyak obat untuk redain rasa sakitnya. Gue baru tau beberapa hari lalu dan dia mulai ceritain semuanya." Luthfi menghela napasnya. Menatap ke depan dan mengingat percakapannya dengan Nata.

"Lo minum obat sebanyak ini?!"

Nata terhenyak ketika mendapati Luthfi sudah berdiri di belakangnya. Laki-laki itu pamit beberapa menit lalu dan kembali karena meninggalkan ponselnya.

"I-ni..."

"Lo nggak make, kan?"

"Ya nggak lah! Gila lo! Ini cuma obat biar gue nggak sakit."

Luthfi mendekat dan mengambil kotak obat yang berukuran sebesar dua telapak tangan. Kotak terbuat dari plastik berwarna hitam itu, terlihat seperti sesak karena menampung banyaknya obat yang Luthfi sendiri tidak tau apa fungsinya.

"Terus ngapain lo minum obat sebanyak ini?"

Nata mengambil kotak obat dari tangan Luthfi dan menutupnya. Dia membereskan meja belajarnya dan duduk di tempat tidur. Disusul Luthfi dengan raut wajah menuntut penjelasan.

"Gue sering banget sakit kepala dan ngerasain sesak di dada-"

"Terus lo kenapa nggak periksa?" sela Luthfi yang merasa gemas.

"Gue nggak punya waktu, Lut. Selama ini, Bang Mahen udah sering ngomel ke gue buat periksa. Makannya, gue udah jarang ke klinik. Gue lebih milih beli obat di apotik dan andelin konsultasi online ketimbang dengerin ocehan Bang Mahen. Ujung-ujungnya, dia pasti bakalan nyaranin gue ke rumah sakit."

Luthfi menghela napasnya. "Terus? Dengan lo konsumsi obat-obat nggak jelas kayak gitu, lo pikir lo bisa sembuh?!"

"Seenggaknya, obat-obat itu bisa redain rasa sakit gue. Biaya rumah sakit nggak murah, Lut. Dari pada uangnya gue gunain buat itu, mending gue gunain untuk bayar pengacara Papa. Tadi gue udah ngomong sama pengacara lamanya dan dia mundur dari kasus Papa. Sementara untuk naik banding, kejaksaan nggak nyediain pengacara gratis. Terpaksa, gue harus nyari uang buat nyewa pengacara."

Luthfi menunduk. Jadi itu masalahnya? Biaya?

"Gue bayarin semuanya. Gue bayarin biaya pemeriksaan lo. Untuk oengacara, gue coba bicara sama Mama, siapa tau Mama bisa bantu."

Nata menggeleng cepat, "Jangan! Gue nggak mau ngerepotin lo. Biar gue yang atasi masalah ini sendiri. Lo mau dengerin cerita gue, itu udah cukup membantu, Lut."

"Tapi Nat-"

"Mending lo pergi, deh. Gimana kalau Pak Santo udah nungguin? Nanti lo kena marah lagi."

Sekali lagi, Luthfi hanya biaa menghela napasnya. Dia tidak bisa berkata apa-apa untuk meyakinkan Nata. Nyatanya, Luthfi masih belum sepenuhnya bisa meluluhkan keras kepala seorang Nata.

"Jadi Kak Nata udah lama sakit?" tanya Resya.

"Gue nggak tau sejak kapan anak itu sakit. Saat gue masuk asrama, gue sama Nata nggak akrab. Sampai satu hari, dia pingsan dan gue bawa dia ke klinik. Mulai saat itu, gue sering merhatiin aktivitasnya. Nata pulang ke asrama jam 11 malam dan nggak langsung tidur. Dia belajar entah berapa jam. Gue pernah mergokin dia nggak tidur padahal udah jam 4. Gilanya, dia berangkat jam 7 pagi ke kantor. Gue baru tau beberapa hari setelah kejadian dia pingsan, kalau Nata bekerja jadi pelayan di salah satu kafe setelah pulang kantor. Lo tau? Kerjaan di kantor itu benar-benar nggak mudah. Kita disuruh belajar sekaligus jadi babu. Gue aja nggak sanggup dan sering bolos. Tapi Nata? Dia bisa tahan."

Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang