-13-

463 46 12
                                        

"Semua orang punya kesempatan untuk berubah. Bahkan untuk mereka yang seperti tidak memiliki kesempatan dikatakan baik, tetap saja hatinya terbuat dari segumpal daging yang sangat mudah berbolak-balik."

☆☆☆

Nata dan Resya duduk di kursi panjang berbentuk besi menunggu Alin yang sedang diperiksa dokter. Untung saja rumah yang mereka tempati berlokasi tidak jauh dari puskesmas, sehingga memudahkan untuk membawa Alin yang sejak semalam demam dan muntah-muntah. Kekhawatiran jelas terpancar dari raut wajah keduanya. Terutama Resya yang sejak semalam panik dan ngotot agar Alin secepatnya dibawa ke dokter.

Selama ini, Alin, Nata dan Resya jarang sekali jatuh sakit. Yang paling manja saat sakit adalah Alin. Dia akan mencari kedua orang tuanya untuk memeluk tubuhnya sepanjang malam. Tapi kali ini, Alin harus menerima bahwa tidak ada lagi pelukan hangat yang menetralisir rasa demamnya. Dia harus menerima dengan lapang dada, bahwa yang menemani demamnya semalam hanya Nata dan Resya yang tertidur di sampng ranjangnya. Memang benar, tidak ada kasih paling besar selain kasih kedua orang tua. Bahkan saudara, tidak akan pernah bisa mengganti posisi mereka dihati anak mana saja.

Dokter keluar dari ruangan pemeriksaan dan langsung menemui Nata dan Resya.

"Bagaimana keadaan kakak saya, Dokter?"

"Dari hasil pemeriksaan dan konsultasi dengan pasien, tidak ada hal yang perlu diperhatikan. Pasien mengalami stress sehingga memicu kenaikan asam lambung. Hal itu yang membuat pasien muntah-muntah bahkan demam. Tapi jangan khawatir, kami sudah meresepkan obat untuk dikonsumsi. Bisa ditebus di apotik terdekat."

"Syukurlah. Terima kasih banyak, Dokter."

Setelah kepergian Dokter, tidak lama Alin keluar dari balik pintu. Wajahnya masih pucat dengan langkah yang tertatih karena merasa pusing. Dengan sigap, Nata dan Resya menuntun tubuhnya keluar dari puskesmas.

"Gue bisa jalan, Nat," tolak Nata ketika berjongkok untuk mempersilahkan Alin naik ke punggungnya.

Saat ke Puskesmas tadi, Alin tidak bisa menolak saat Resya menuntun tubuhnya menaiki punggung Nata. Meskipun jarak yang ditempuh hanya melewati satu belokan, tetapi Alin merasa tidak enak hati jika digendong dengan tubuh sebesar ini.

"Udah, Kak. Naik aja. Tubuh Lo masih lemas gitu, jangan dipaksa jalan. Nanti kalau pingsan, gimana?" tukas Resya yang diangguki Nata.

Alin tetap ngotot menolak saran dan berjalan meninggalkan Nata dan Resya.

"Kakak!" pekik Resya ketika melihat Alin yang terjatuh.

Nata dan Resya langsung berlari menghampiri Alin dan membantunya berdiri.

"Gue nggak pa-pa, astaga," tukas Alin yang merasa malu dengan suara Resya karena membuat ketiganya menjadi pusat perhatian.

"Nggak pa-pa gimana? Ini celana Lo sampai kotor," omel Resya sambil mengibaskan debu yang melekat di celana kakaknya.

"Gue gendong, ya?"

"Nggak usah, Nat. Gue malu kali, udah segede gini masih digendong. Lo nggak liat, jalanan udah rame gini. Nanti apa kata orang-orang kalau gue digendong?"

Resya berdiri tegak setelah memastikan celana Alin bersih. Dengan wajah kesal Resya berkata, "Ngapain peduli kata orang? Udah, mending Lo nurut aja."

"Nggak! Nggak mau. Gue malu, tau!"

"Tapi---"

"Udah, udah!" Nata menengahi. "Gini aja, kak Alin boleh jalan sampai rumah. Tapi kalau ngerasa pusing, harus bilang. Janji?"

Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang