☆☆☆
Nata sudah kembali ke asrama setelah menghabiskam malam bersama Alin dan Resya. Seperti biasa, Nata akan langsung menyibukkan diri dengan tumpukkan kasus yang sudah berbulan-bulan dia pelajari.
Semenjak sidang terakhir yang membuat darahnya mendidih, Nata semakin bersikeras untuk bisa membuktikan bahwa sang Ayah tidak bersalah. Dia tidak lagi peduli dengan mimisan yang sudah berulang kali keluar karena sering begadang dan tidak memperdulikan makannya. Bahkan teman sekamarnya sudah sering mengingatkan Nata agar tidak terlalu memaksakan diri. Namun, Nata tidak peduli.
Bahkan, saat ini Nata mimisan lagi. Sialnya, tisunya tertinggal di rumah. Terpaksa, dia harus beranjak dari meja belajar dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan hidungnya.
Pandangannya mengabur ketika selesai membasuh wajah. Nata mencoba menggelengkan wajahnya agar bisa fokus. Karena tidak juga berhasil dan tambah pusing, Nata menunduk dan memegang pinggiran wastafel. Mimisannya masih berlanjut, bahkan darah yang keluar dari hidung semakin banyak.
Nata tidak tau harus meminta bantuan siapa. Rasa pusing di kepalanya semakin bertambah ketika dia memaksa keluar kamar mandi. Seketika, tubuhnya ambruk di pinggiran meja.
"Nata!" pekik Luthfi, teman sekamarnya.
Luthfi langsung menggendong Nata ke pusat kesehatan yang tersedia di asrama. Dia benar-benar khawatir dengan kondisi Nata. Wajah lelaki itu sangat pucat, ditambah ujung jarinya dingin.
"Gimana keadaannya Bang?" tanya Luthfi panik setelah Bang Mahen–dokter asrama selesai memeriksa Nata.
"Nata benar-benar kelelahan. Apa dia tidak minum vitamin yang gue kasih?"
Luthfi hanya mengangkat bahunya, mengisyaratkan dia tidak tahu perihal itu. Meskipun mereka sekamar, namun keduanya tidak terlalu sering membicarakan hal-hal pribadi. Yang Luthfi tau, Nata memang sering begadang bahkan bisa berhari-hari tidak tidur. Dia juga sering kali melupakan makan dan benar-benar fokus belajar.
Terlebih, ketika dia pulang dari persidangan. Nata pasti akan langsung membawa lebih dari lima buku-buku tebal masuk ke kamarnya dan duduk berjam-jam lamanya, seakan-akan dia ingin menyantap semua buku-buku itu agar segera masuk di kepalanya.
"Ya ampun, anak ini."
"Emang dia kenapa Bang?"
"Nata udah pernah gue ingetin buat jaga pola tidurnya. Dia punya hipertensi yang cukup parah. Apalagi sampai mimisan begini, pasti dia nggak minum vitamin yang gue kasih."
"Kalau itu, gue nggak tau. Cuma emang dia belakangan ini semakin sering belajar. Pokoknya tiap pulang dari persidangan, dia pasti bakalan langsung sibuk banget dengan semua buku-buku."
Mahen hanya mengangguk mendengar penjelasan Luthfi.
"Kita tunggu dia sadar."
Keduanya duduk di kursi besi yang bersambungan menghadap ke arah tempat tidur Nata. Tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Hanya ada harapan dan do'a agar Nata bisa segera bangun.
"G-gue di mana?" tanya Nata ketika membuka matanya.
"Lo di klinik, Nat. Gimana? Udah nggak pa-pa? Masih pusing?" tanya Mahen berdiri di samping tempat tidur Nata.
"Nggak, Bang. Gue udah nggak pa-pa."
Nata berusaha bangun meskipun sudah dilarang Mahen dan Luthfi.
"Gue harus kembali ke kamar. Masih banyak yang harus dikerjain."
"Nat, mending lo istirahat, deh. Keadaan lo lagi nggak baik." tegur Luthfi yang sedikit kesal dengan sikap keras kepala Nata.
"Gue udah nggak pa-pa. Bang, makasih, ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)
Acak[Diikutkan dalam Writing Maraton An.Fight x Solis Publisher] Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Winata Nara Winanda dituntut untuk menjadi adik yang patuh terhadap kakak tertua dan menjadi kakak yang penyayang terhadap adiknya. Tidak hanya itu...
