☆☆☆
Kata orang, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Itu juga yang Nata rasakan setelah perjuangan hampir dua bulan mengurus permintaan naik banding untuk kasus sang Ayah. Dengan kegigihannya, Nata juga berhasil mendapatkan pengganti untuk pengacara Ayahnya karena pengacara sebelumnya mengundurkan diri dari kasus tersebut.
Tidak lain tidak bukan, pengacara baru yang akan menangani kasus Cakra adalah Mama dari Luthfi. Berkat bujukan Luthfi dan perubahan sikapnya yang sangat positif setelah mengenal Nata, akhirnya mamanya luluh dan bersedia mengabulkan permintaan anaknya.
Hari ini, Nata akan menemui mama Luthfi untuk membahas kelanjutan sidang naik banding yang akan segera dilaksanakan. Nata sudah tidak sabar menunggu hari ini tiba. Bahkan, sejak beberapa hari lalu dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya.
"Lo udah siap?" tanya Luthfi dari atas motornya.
Keduanya sepakat untuk bertemu mama Luthfi di salah satu kafe dekat asrama.
"Gue gugup."
"Kayak mau ketemu camer aja lo, Bro."
Nata terkekeh mendengar candaan Luthfi.
"Semoga aja semuanya lancar, ya."
Luthfi tersenyum dan mengangguk.
"Buruan, nanti Mama marah-marah lagi kalau kita telat."
Nata pun segera naik di motor Luthfi. Keduanya berangkat ke tepat tujuan. Selama perjalanan, Luthfi dengan senang hati mendengarkan harapan-harapan Nata yang terdengar sangat antusias seolah-olah ini adalah harapan terakhir dalam hidupnya.
"Kalau kasus ini selesai dan Papa lo bisa bebas, lo mau ngapain?" tanya Luthfi.
Nata berpikir sejenak. Selama ini, dia terlalu fokus untuk membebaskan sang Ayah.
"Mungkin, gue bakalan fokus jadi pengacara yang benar-benar menegakkan keadilan."
Luthfi tersenyum. Dia sempat mengira, Nata tidak akan menjawab pertanyaannya.
"Gue senang, Nat. Bisa kenal, lo. Gue banyak banget dapat aura positif. Gue juga punya alasan untuk terus semangat mewujudkan mimpi yang tadinya bukan punya gue."
Nata hanya tersenyum mendengar perkataan Luthfi. Dia juga bersyukur bisa mengenal Luthfi dan mendapatkan teman dekat untuk pertama kali dalam hidupnya.
Keduanya tiba di kafe tempat mereka janjian dengan Mama Luthfi. Sebelum masuk, Luthfi mencari mobil mamanya di parkiran tetapi sepertinya belum ada.
"Kayaknya Mama terlambat, deh. Bentar, gue telpon."
Luthfi mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan berniat menelpon mamanya.
"Nggak usah, mending kita tungguin aja. Lagian, hari ini, kan nggak ada kerjaan. Jadi nggak pa-pa."
"Tapi--"
"Udah, ayo."
Nata berjalan masuk ke arah kafe. Luthfi hanya mengangkat keningnya dan mengikuti Nata ke dalam. Keduanya mengambil tempat di dekat jendela kaca agar bisa lebih leluasa melihat pemandangan di luar kafe.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)
De Todo[Diikutkan dalam Writing Maraton An.Fight x Solis Publisher] Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Winata Nara Winanda dituntut untuk menjadi adik yang patuh terhadap kakak tertua dan menjadi kakak yang penyayang terhadap adiknya. Tidak hanya itu...
