-08-

618 62 14
                                        

☆☆☆

Nata sudah berada di rumah sebelum matahari terbenam. Setelah membersihkan diri, dia menemui Resya di kamarnya untuk menanyakan tentang Alin.

"Gimana kak Alin, Sya?"

Resya yang sedang sibuk bermain game di ponselnya sambil berbaring, menjawab tanpa mengalihkan pandangan, "Tadi siang, kak Alin ikut makan sama Aku dan mama. Tapi ngambek lagi, gara-gara Mama belain aku soal yang waktu itu."

Nata duduk di ranjang Resya, dan kembali bertanya, "Tapi kak Alin nggak apa-apa, kan?"

"Nggak apa-apa, sih ... cuma ya gitu. Habis makan siang, dia masuk kamar lagi. Nggak keluar-keluar sampai sekarang."

Nata menghela nafasnya berat. Dia teringat kejadian tadi siang. Ketika Nata ingin menuju rektorat dan tidak sengaja melewati fakultas kedokteran, lagi dan lagi dia melihat Jefry bersama wanita lain. Tapi wanita kali ini berbeda dengan wanita yang dilihatnya di kafe waktu itu.

Dia benar-benar tidak tau harus melakukan apa. Kalau berita ini disampaikan lagi pada Alin, Nata takut kakaknya akan semakin tertekan.

"Gue mau ngomong sama lo. Tapi janji, ya, nggak kasih tau siapa-siapa dulu. Terutama kak Alin," ucap Nata.

Resya langsung bangun dan duduk menghadap Nata. Wajahnya sumringah, antusias menanti berita yang akan disampaikan Nata.

"Gue janji," ucapnya sambil tersenyum meyakinkan.

Sebelum memulai, Nata kembali menghela nafasnya. Dia sebenarnya ragu mengatakan hal ini pada Resya. Takut kalau Resya akan bertindak gegabah.

"Jadi gini ...," ucap Nata memulai yang diangguki Resya.

"Gue tadi nggak sengaja liat Jefry. Dia lagi mesra-mesra sama cewek lain. Tapi bukan cewek yang waktu itu."

"Hah!" Resya terkejut. "Dasar laki-laki brengsek! Gue nggak bisa tinggal diam, kak! Kita harus buat perhitungan sama dia!" ucap Resya berdiri, matanya melotot dan tangannya dikepal menahan geram.

Nata memegang tangan Resya dan berucap, "Tenang dulu, Sya. Kalau bertindak gegabah, nggak hanya kak Alin yang bakalan kena masalah. Kita juga. Apalagi mama lagi sakit dan nggak bisa terlalu banyak pikiran. Gue nggak mau memperparah keadan mama. Kita tunggu waktu yang tepat buat bicara sama kak Alin. Yang bisa ambil tindakan, cuma kak Alin."

Resya kembali duduk dan memegang pelipisnya. Nata benar. Meskipun Alin adalah kakak kandungnya, tapi mereka berdua tetap orang luar dari hubungan Alin dan Jefry. Keduanya tidak bisa berbuat apa-apa tanpa persetujuan Alin.

Saat sedang berdiam diri mencari solusi, Nata dan Resya dikagetkan dengan suara Wanda dari lantai dua.

"NGGAK, NGGAK MUNGKIN!"

"Mama?" ucap Nata dan Resya bersamaan.

Keduanya langsung keluar dari kamar dan bergegas menuju lantai dua. Begitu pun dengan Alin yang sudah lebih dulu berlari menaiki tangga.

"Ma, Mama!" panggil Alin sambil mencoba menaik turunkan gagang pintu.

"NGGAK! PAPA! NGGAK MUNGKIN!" pekik Wanda dari dalam.

"Mama! Mama kenapa? Buka pintunya, Ma." Kali ini Resya yang berusaha mengetuk pintu kamar.

"Gimana kalau dobrak aja?" saran Nata.

"Dobrak aja! Gue nggak mau terjadi apa-apa sama mama."

"Minggir, Sya."

Nata menabrakkan tubuhnya di depan pintu beberapa kali. Namun, usahanya gagal. Pintu kedua orang tuanya terkuci dari dalam dan dorongan tubuh Nata tidak bisa membukanya.

Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang