☆☆☆
Alin dan Jefry berdiri di balkon apartemen milik Jefry. Memandangi sinar bulan yang berbentuk bulat sempurna, menambah kesan romantis seolah dunia hanya milik berdua.
Kedua tangan Jefri melingkar di perut kekasihnya, seraya menopangkan dagunya dibahu Alin. Hubungan yang semakin dalam, membuat Alin begitu percaya pada Jefry dan rela memberikan mahkota paling berharga sebagai wanita.
"Kamu nggak akan tinggalin aku, kan?" tanya Alin.
"Sayang, aku nggak pernah sedikit pun, berpikir bisa hidup tanpa kamu. Aku janji, setelah kita selesai pendidikan, aku akan langsung lamar kamu. Habis itu, kita nikah dan jalanin koas sama-sama."
"Janji?" Alin menengok ke belakang.
Jefri tersenyum dan menjawab, "Aku janji sayang."
Alin kembali mengalihkan pandangannya menatap ke depan. Pemandangan malam yang menjadi saksi, bagaimana janji itu terucap sangat indah didengar telinga. Seolah, kehidupannya ingin berhenti sampai situ saja. Keduanya menikmati malam berdua dengan pembicaraan tentang masa depan.
Saat sedang asyik memadu kasih, deringan khas suara ponsel Alin terdengar.
"Aduh, jangan-jangan itu papa. Gimana, dong?" Alin panik.
"Ya udah, angkat aja. Bilang aja lagi nginap di rumah teman."
"Kalau dia nggak percaya?"
"Coba dulu, Yang."
"Ya udah, aku angkat. Kamu tunggu di sini. Aku takut ketahuan."
Jefry mengangguk dan membiarkan Alin masuk. Dia kembali mengalihkan pandangan menikmati pemandangan malam sendirian. Akhirnya, setelah empat tahun menunggu persetujuan Alin untuk melakukan kegiatan mereka malam itu, kesabaran Jefry tidak sia-sia.
Dia teringat, bagaimana Alin yang sangat populer di sekolah, menolaknya berkali-kali. Membuat Jefry tertantang untuk terus mendekati. Sampai akhirnya, dua tahun perjuangannya terbayarkan. Wanita yang bahkan pernah menolaknya di depan seluruh siswa di sekolah, kini tergila-gila padanya. Bahkan rela menukarkan kesucian agar Jefry bertahan.
Setelah menerima telpon, Alin kembali ke balkon.
"Siapa yang nelpon?"
"Papa. Tapi tenang aja, aku udah bilang lagi nginep di rumah Gita. Aku juga udah kirim pesan ke Gita biar papa nggak curiga."
"Good girls, aku beruntung banget punya pacar kayak kamu. Udah cantik, pinter, baik lagi. Bucin banget sama aku, benar-benar beruntung."
"Apaan, sih." Alin memeluk Jefri. "Jangan tinggalin aku, ya. Apapun yang terjadi, kamu nggak boleh ninggalin aku. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu."
Jeferi membalas pelukan Alin dan berucap, "Pasti sayang. Aku nggak akan ninggalin kamu. Wanita yang aku perjuangin selama bertahun-tahun, nggak mungkin aku sia-siain."
"I Love You."
"Me too."
Keduanya kembali ke dalam kamar untuk beristirahat.
•°•°•
Keesokan harinya, Jefry mengantarkan Alin pulang. Setibanya mereka di depan rumah, Alin menyuruh Jefry berhenti. Dia ingin mengecek apakah Ayahnya pergi ke kantor hari ini atau tidak. Syukurlah, Alin tidak menemukan mobil Ayahnya di tempat parkir. Itu artinya, sang Ayah sudah berangkat ke kantor.
"Kamu masuk dulu, ya. Sekalian jengukin mama," saran Alin.
"Aduh, gimana, ya. Nggak bisa sayang. Nanti aja, ya. Soalnya aku masih ada urusan lain. Nanti kapan-kapan aku singgah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)
Random[Diikutkan dalam Writing Maraton An.Fight x Solis Publisher] Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Winata Nara Winanda dituntut untuk menjadi adik yang patuh terhadap kakak tertua dan menjadi kakak yang penyayang terhadap adiknya. Tidak hanya itu...
