8 | Bentuk Keseriusan

110 9 2
                                        

Milan menjaga Luna semalaman, Milan sudah terbangun sejak subuh tadi, Milan mengusap kepala Luna dengan penuh kasih sayang, gadis cantik itu masih pulas tertidur. Milan akhirnya memutuskan untuk ke kantin membelikan sarapan untuk mereka. Setelah membeli sarapan, Milan menelpon bakery langganan keluarga di Yogyakarta, ia memesan beberapa kotak macaron. Milan menggeser pintu ruangan dan mendapati Luna tengah menangis. Segera Milan mendekap Luna dan meletakan sarpannya di nakas.

"Hei, what happen honey?"

"Papa ..."

"Papa kenapa? Ada apa?"

"Aku mimpi Papa meninggal, sedangkan aku belum bisa memaafkan Papa."

"Lun, apa seberat itu buat kamu untuk maafin Papa kamu?"

"Kesalahan yang Papa buat itu terlalu besar Mas, itu udah ngebuat aku sama Mama sakit hati dengan kelakuannya."

"Luna .... sekarang Papa kamu lagi sakit, sakitnya nggak main-main sayang, apa kamu tetap nggak bisa maafin beliau?"

"Enggak tahu Mas, aku bisa maafin atau nggak."

"Cobalah berdamai sama masa lalu Lun dan itu akan membuat hati kamu tenang dan masa lalu itu buat pelajaran masa depan kita. Coba ya sayang," ucap Milan kemudian kembali mendekap Luna.

"Iya Mas aku akan coba. I'll try."

"Good girl, ya udah jangan nangis lagi nanti cantiknya hilang loh. Aku udah beli sarapan nih, makan yuk!"

Milan kemudian menyiapkan makanan yang dia beli untuk sarapan mereka, Milan membelikan Luna bubur, sedangkan dirinya memilih membeli nasi gudeg. Suasana pagi itu terasa hangat, mereka menghabiskan pagi ini berdua, sarapan bersama. Selesai sarapan bersama Luna mengajak Milan untuk berjalan-jalan di taman rumah sakit. Akhirnya Luna bisa menghirup udara segar. Mereka berdua duduk di bangku dan menikmati pagi yang cerah ini.

"Lun, aku punya sesuatu buat kamu."

"Apa?"

Milan kemudian berlutut di depan Luna. "Lun, kita udah tiga tahun pacaran, aku nggak mau kita lama-lama. So would you be my wife? Hidup selamanya sama aku?"

Luna menutup mulutnya dengan kedua tangannya? Ia tidak menyangka bahwa Milan melamarnya ya walaupun bukan memberikan cincin asli melainkan cincin dari akar tanaman dan menyodorkan sekotak macarons. Luna sebenarnya mau ngakak melihat cincinya cuma ya gimana ya, ini moment yang haru.

"Yes i do Mas ...."

"Yesss!!" Milan langsung memeluk Luna dan mengecup kening gadis itu.

"Mas Milan cincinnya unik ya, nggak ada di toko emas."

Milan tertawa pelan. "I am sorry honey, cincinya ketinggalan di vila."

"Its okay Mas. Aku yakin kamu serius sama aku."

"Iyalah, aku serius sama kamu."

"Thanks ya Mas, cincin ini bakal aku simpan buat kenang-kenangan."

"Yes honey, macarons-nya di makan."

"Oh ya, ayo makan sama-sama."

"I love you Mas Milan."

"I love to Shaluna Swastika Rahardian."

"Lengkap banget."

"Iya itung-itung belajar ngucap nama kamu, biar nggak salah kalau nanti ijab."

"Iya deh," ucap Luna, gadis itu kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Milan.

Milan melingkarkan tangannya ke pinggang Luna dan menunjukkan pada dunia bahwa Luna adalah miliknya. Sesekali Milan mengecup puncak kepala Luna.

Cluster Puri Indah Land [New Version]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang