Libur kuliah yang masih berlangsung membuat Jani jadi pengangguran temporer, karena sekalinya libur kuliah pasti lebih dari satu bulan. Dengan status Jani ini, mamahnya jelas jadi lebih semena-mena dalam meminta Jani mengantarkan kesana dan kemari. Hari ini pun Jani sudah ada di sebuah mall bersama mamah dan juga adiknya. Tadi sih sekalian jemput Anin, adiknya, makanya kali ini adiknya ikut dalam acara jalan-jalan bersama mamah.
"Kak temen aku tadi nanya, ayam goreng Holywings enak gak? Kalo enak besok kita mau coba juga," tanya Anin ketika mereka hanya mengekor mamahnya dengan jarak beberapa meter di belakang.
Jani melotot mendengar pertanyaan Anin. "Kenapa tiba-tiba nanyain?!"
"Lagi pada ngomongin ayam goreng, terus kakak waktu itu pamit ke Holywings kan? Keinget aja tiba-tiba."
Jani menipiskan bibirnya, merasa bersalah karena membuat adiknya harus jadi bahan bulan-bulanan temannya besok. Apa salah dia ya karena pamit ke Holywings di depan adiknya? Ah gak juga, dia kan pamit ke papahnya biar papahnya gak nungguin dia yang kemungkinan pulang subuh.
"Kak, enak gak?" desak Anin sembari menggoyangkan lengan Jani.
Jani menoleh ke Anin dengan senyum datar. Adiknya sudah 16 tahun, jadi mengenalkan Holywings saat ini bukan hal yang salah, kan? Seenggaknya Anin pasti jadi lebih gaul dibanding teman-temannya yang mengira Holywings cuma jualan ayam goreng.
"Dek, Holywings tuh gak cuma jualan ayam goreng. Holywings tuh restoran, bar, and club. Jadi ya kalo kesana kemungkinan besar buat clubbing."
"HAH?!" tanggap Anin yang kelihatan shock.
"Tapi ayam gorengnya emang enak, apalagi yang salted egg," jelas Jani lagi, mencoba meredam kekagetan adiknya.
Anin menutup mulutnya dengan dramatis. "Jadi kakak ke Holywings...?"
"Kan baru tiga kali!"
"Pantes tiap ke Holywings tuh berangkat malem, terus kakak gak pulang-pulang."
Jani berdecak. "Namanya juga club."
"Club tuh isinya apa aja, Kak? Bukannya di club isinya orang-orang gak bener ya?"
"Ya ada yang begitu, tapi tiap kakak kesana kan bareng temen-temen kakak, jadi gak begitu ngurusin yang lain," jawab Jani mengikuti mamahnya yang berbelok ke supermarket Gelael yang ada di dalam mall.
Anin kelihatannya makin penasaran dengan Holywings, karena anak itu semakin menempel ke Jani. "Terus, terus?"
"Ya udah disitu pada seneng-seneng aja," jawab Jani asal. "Kalo mikirin orang yang gak bener ya pasti adaー"
Jani menghentikan ucapannya begitu mengingat saat terakhir kali ke Holywings awal Januari lalu. Dirinya memang sudah diikuti oleh laki-laki aneh sejak di parkiran, tapi Jani mencoba menghiraukannya karena sedikit lagi juga dia akan sampai di table Malik. Tapi, entah kenapa ada satu orang cowok yang sok jadi pahlawan kesiangan.
Jani gak keberatan ditolong, tapi dia memang sudah defaultnya buat jadi ketus setiap sama orang asing. Mode defensif Jani langsung menyala begitu cowok itu menariknya menjauh dari kerumunan. Memangnya salah kalau dia berpikir bahwa cowok yang mencoba menariknya itu punya maksud yang enggak-enggak? Apalagi tiba-tiba Jani ditarik menjauh ke tempat yang sepi.
"Ada apa, Kak?" tanya Anin, menyadarkan lamunan singkat Jani.
Jani menggeleng cepat. "Ya ada lah orang aneh. Makanya kalo ke tempat begituan usahain kamu bisa jaga diri dan sama temen."
Anin mengangguk-angguk paham, sementara Jani juga lega karena bisa menjelaskan kepada adiknya soal Holywings. Edukasi dini lah, daripada nanti adiknya malah keblangsak. Apalagi Anin masih SMA, masih dibawah umur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Muda FM ✔
Fanfiction❝Jani wants to be an independent woman, while Evan didn't want to get married. They fell right into their mothers trap of getting them together, and they didn't even know.❞ Start : 1 April 2022 End : 15 Februari 2023
