Z. Blackhole

445 89 23
                                        

"Nanti jangan pulang ke rumah."

"Dih, terus aku pulang kemana?!"

Anin mengidikkan bahunya. "Ya ndak tau, kok tanya saya."

"Kurang ajar!"

Anin memeletkan lidah lalu menutup kaca jendela secara paksa, membuat Jani hanya bisa mengomel dan merutuki Anin seperti orang gila. Adiknya itu segera melajukan mobilnya menjauhi area haram ini (kata Anin). Memang ini area haram, dan itu adalah mobilnya. Mobil Jani. Sengaja Jani suruh Anin anter karena malam ini dia mau bertemu Jamal, Sherina, dan Dimi. Ketemuannya di bar, kalo gak mabok mau ngapain lagi coba? Apalagi ada biang keroknya (read : Jamal).

Ramai? Jelas. Kalo sepi mending tutup aja lah.

"Jani Jani!" pekik Sherina sembari melambaikan tangan, walau setelahnya dikeplak oleh Jamal karena menyebabkan beberapa perhatian jadi teralih ke mereka.

Jani berjalan, gak buru-buru tapi gak pelan. Santai aja lah, mau ketemu teman-teman laknatnya nih.

"Udah hampir gue suruh si Dimi buat jemput kalo sampe lo belom dateng setelah 15 menit lagi," kata Jamal sembari menuangkan minuman ke gelas Jani.

Dimi bersandar santai di sofa, melirik sebuah kaleng minuman bersoda di depannya pada Jani. "Minum dulu, Jan," katanya.

Iya, Jani paham. Maksudnya Dimi tuh pemanasan dulu, biar gak kaget-kaget amat.

"Kita ini harus sabar menghadapi CEO of Amortentia yang hectic dan full day," sambut Sherina.

Jani membuka kaleng soda yang dia raih dari hadapan Dimi sambil menjawab. "CEO CEO apaan. Tadi gue ada meeting bentar sama kepala cabang lain, makanya agak lama."

"Malem-malem? Njir, yang waras aja lah, Jan," protes Jamal.

"Dadakan itu, gara-gara yang hama taneman mawar masih belom kelar juga, jadi pasokannya berkurang terus. Pusing dah pokoknya," ucapnya sembari menenggak sekaleng soda hingga tersisa setengahnya.

"Gue juga sibuk," ujar Dimi tidak terima.

Sherina menepuk-nepuk bahu Dimi. "Udah, Dim, terima aja kenyataan bahwa lo, gue, Jamal, dan kita semua adalah budak korporat."

"Hahaha, tai juga lo, Rin," tawa Jamal.

Jani ikut tertawa, sebelum akhirnya meraih juga minuman haram dan memabukkan yang sudah Jamal tuangkan beberapa saat yang lalu.

"Jani antara ketiban durian runtuh atau ketiban tangga sih sebenernya," kata Sherina. "Kan pas itu juga dia tiba-tiba banget dikasih kekuasaan. Orang lagi tidur tiba-tiba dijatuhin duit sekoper minimal pingsan lah."

Jani mengangguk dan menjetikkan jari. "Bener. Pilihannya gue terusin tapi belum terjamin sukses atau gue tetep jadi budak korporat."

"Gimana kalo kita bertiga resign terus kerja di tempat lo aja?" celetuk Dimi asal.

Jani tersenyum dengan cukup menyeramkan. "Bolehhhh. Tapi sistem kerjanya romusha ya?"

"Anjing," umpat Dimi seketika. "Sama aja kayak tempat kerja gue yang sekarang dong."

"Hahahaha," tawa mereka meledak.

"Yang penting gak underpaid dan 20 kali UMR sih, Jan," celetuk Jamal.

Jani dengan sigap menendang kaki Jamal yang ada di bawah meja dekat kakinya. "Seenaknya kalo minta. Itu gaji gue."

"Dihh, cucok deh independent woman kita ini gajinya udah 20 kali UMR," goda Sherina dari seberang duduk Jani.

"Gimana miss independent? Sudah memutuskan mau cari calon atau jadi biarawati biar menjomblo seumur hidup?" tanya Jamal sembari sok-sokan mengajukan sendok sebagai mic palsu.

Jalan Muda FM ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang