Kepulan asap sudah menyebar kemana-mana, bercampur menjadi satu. Asap vape milik Malik dan asap rokok milik Radit. Keduanya sedang duduk di balkon rumah Malik karena tidak menemukan kesepakatan dimana tempat terbaik untuk mereka nongkrong.
Masih minus 1 biji, sebut saja Evan. Katanya sih akan menyusul secepatnya begitu kerjaannya beres.
"Tapi gue ada rencana lagi buat ikutan program begitu deh, Nyuk," kata Malik.
Radit menyesap batang nikotin di bibirnya sebelum menjawab sambil menghembuskan asap dari hidungnya. "Maksud lu jadi sukarelawan di pelosok?"
"Iya. Seru njing, cuma ya emang akses sama dunia luar terbatas banget," katanya yang kemudian menghisap vape nya.
"Ngaku aja, lu sebernya mau kabur kan?"
Malik tertawa sangat kencang. "Tau aja lo, bangsat."
"Kabur dari siapa hah? Bapak lu juga gak maksa buat lu nyemplung di politik, emak lu juga gue liat-liat sangat menikmati kegiatannya jadi ibu sosialita. Terus lu kabur kenapa? Biar nyusahin bapak emak lu?" tanya Radit.
"Kabur dari cewek-cewek gue."
"Makanya kalo punya cewek 1 aja, tolol. Contohlah gue yang setia pada Anjani," suara Evan tiba-tiba terdengar.
Malik dan Radit langsung menoleh ke belakang mereka, mendapati Evan yang datang dengan dua buah totebag kain besar di tangannya.
"Udah nyampe sini aja lo," sapa Malik.
"Thank's to Budhe yang udah bukain pintu buat gue," ujar Evan menyebutkan nama ART di rumah Malik. "Nih, pesenan para manusia yang jauh dari jalan Tuhan," lanjut Evan sambil meletakkan tentengannya tadi.
"Terima kasih, babu," jawab Radit yang langsung ditendang oleh Evan.
Evan lantas menoleh ke Malik. "Ngapa lo? Si Sharon udah tau kalo lo selingkuh sama Cece?"
"Lah, selingkuh dia?" tanya Radit kaget.
"Pacar 1 sama pacar 2 sebutannya, Dit."
"Brengsek banget nih orang gue perhatiin," kata Radit sambil geleng-geleng. "Gue sumpahin diputusin Sharon lu, Lik. Bagusnya abis itu Sharon sama gue."
"Jangan ngimpi lo, kain pel basah!" sahut Malik tidak terima. "Bukan ketahuan sih, cuma gue mulai sadar aja kalo kelakuan gue nih emang agak-agak brengsek."
"BUKAN AGAK DOANG YA, NJING." Radit menyahutnya emosi.
"Ngomong-ngomong lo udah minta maaf sama tuh cewek belom, Nyuk?" tanya Evan ke Radit.
Radit menghela nafas, mematikan rokoknya ke asbak yang tersedia. "Udah. Tapi temennya masih ngatain gue."
"Kenapa emang?" tanya Malik yang tidak tau apa-apa.
Evan mengidikkan bahu. "Tau tuh, tanya ke Radit."
"Gue ada partner kerja cewek, terus gue pikir kita udah deket aja makanya gue santai ngejokes sama dia. Ternyata menurut dia tuh gue sama dia gak sedeket itu buat bercandaan dan bercandaan gue katanya bikin dia gak nyaman. Ya udah gue akhirnya minta maaf sih," curhat Radit.
Evan geleng-geleng. "Ckckck, punya temen tapi bego semua kalo soal cewek."
"Eh gaya lu selangit banget dah."
"Lo juga gak kalah bego, Van, ngaca," ujar Malik emosi.
"Lah kenapa? Yang penting sekarang gue jelas kisah cintanya paling oke diantara kita bertiga," jawab Evan sombong.
Malik berdecak. "Jangan kira karena gue gak dengerin siaran lo jadi gak tau apa-apa. Gue tau ya lo nembak Jani di radio. Gimana? Udah dijawab Jani belom?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Muda FM ✔
Fanfiction❝Jani wants to be an independent woman, while Evan didn't want to get married. They fell right into their mothers trap of getting them together, and they didn't even know.❞ Start : 1 April 2022 End : 15 Februari 2023
