Sreetttt
Suara kalender yang disobek oleh maminya membuat Evan yang sedang menyesap sekaleng soda langsung menoleh. Dirinya menatap ke arah kalender yang ada beberapa meter di depannya dengan pandangan kosong. Bulan sudah berganti menjadi Juni, kenapa ya waktu cepat sekali berlalu?
"Kalo bukan mami yang ngurusin rumah, you pasti gak ngurusin. Lihat saja, ganti kalender aja harus mami yang lakuin. Ini tanggal berapa Evan? Sudah tanggal 3," gerutu sang mami sembari melempar kertas kalender tadi ke tempat sampah. "Gimana you hidup without mami, Evan???"
Evan mengidikkan bahu. "Just hidup aja, Mi. Lihat aja nih Evan masih hidup kok walau ditinggal mami ke Raja Ampat seminggu."
Timpukan dari centong sayur mendarat keras di kepala Evan. Evan berkata jujur kok, dia bisa hidup, tapi tentu saja kehadiran maminya melengkapi bumbu-bumbu hambar yang ada di hidup Evan.
Evan kembali menatap kalender yang berjarak beberapa meter di depannya. Kok cepet banget sih tahun ini sudah sampai pertengahan tahun?
"Kamu ini kenapa daritadi ngeliatin kalender terus? Rencana apa yang kamu susun, Van? Monthversary sama Jani?" tanya mami sembari ikut membuka kaleng soda seperti Evan.
Evan menyunggingkan senyum, walau dalam hati agak merasa miris. Boro-boro monthversary, ini Evan lagi countdown tanggal putus dengan Jani karena sudah menjelang akhir semester. UAS nya akan dilaksanakan pada akhir Juni, jadi maksimal urusan perkuliahannya di semester genap ini akan selesai pada pertengahan Juli.
Berarti dia dan Jani juga akan putus di tanggal-tanggal itu.
"Oh, mami lupa. You besok ke your papi bawakan oleh-oleh. Tanda terima kasih karena sudah take care of you," kata Mami sembari menyenggol lengan Evan.
Evan berdecak. "Yaelah, Mi, aku juga anaknya papi kali. Justru kalo papi gak ngurusin aku bakal aneh. Mending oleh-olehnya buat aku aja, nanti biar aku bagi ke Malika sama Radit."
Mami mengangguk-angguk. "Up to you, Van."
"Lagian tuh Papi berangkat ke Swiss hari ini, sama aja ntar oleh-olehnya gak bakal nyampe ke Papi."
"Ngapain papi kamu ke Swiss?"
"Yang jelas bukan jalan-jalan seperti agenda mami sih," jawab Evan sembari tertawa. "Kerjaan, Mi. Lebih jelasnya mending mami telfon papi dan tanyain sendiri."
Sekali lagi, Evan mendapat pukulan yang cukup keras. Kali ini di lengannya. Begitulah Evan, mau babak belur dipukulin maminya juga gak akan pernah kapok buat godain si mami.
"Oh, lebih baik kamu kasih oleh-oleh buat Jani dan keluarganya. Mami ada siapin khusus."
Evan menoleh, melepaskan fokusnya dari kalender ke maminya. "Kapan?"
"As soon as possible, Evan. Sekalian kamu ajak si Jani ikut kondangan di Solo, si Gloria nikah tanggal 18 Juni nanti."
Evan mengerutkan dahinya. "Gloria? Gloria anaknya tante Yuli itu? Bukannya baru lulus SMA ya, Mi?"
Mami langsung memasang mode julid. "Iya. Married by accident, katanya hamil. Mami sudah punya firasat karena you know kan pergaulan si Gloria gimana? Gayanya ngikutin anak ibukota melulu, pergaulannya juga makin bebas. Mami feel bad buat Tante Yuli. Tante Yuli pasti campur aduk perasaannya but can't do anything."
Evan mengangguk-angguk. Gloria termasuk sepupunya dan Evan mengikuti akun sosial medianya, Instagram. Evan akui memang beberapa kali update dari Gloria bikin Evan ikut was-was, tapi cuma Evan komentari dengan nada bercanda dengan harapan Gloria paham maksudnya. Eh, malah begini.
"Oke ya, Van, you bilang ke Jani buat ikut kita kondangan ke Solo," kata Mami.
Evan tiba-tiba pening. "Harus sama Jani, Mi? Buat apa sih, jauh loh Solo tuh. Nanti kalo Jani gak dibolehin Tante Saras atau papahnya gimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Muda FM ✔
Fanfiction❝Jani wants to be an independent woman, while Evan didn't want to get married. They fell right into their mothers trap of getting them together, and they didn't even know.❞ Start : 1 April 2022 End : 15 Februari 2023
