Selain memiliki bengkel keluarga Finn juga memiliki sebuah toko kelontong yang cukup besar. Keluarga yang kaya dalam penghasilan mereka di tambah lagi anak anak yang mapan dan berhasil.
Nami duduk di kursi di dalam toko agak canggung. Pasalnya para wanita di kasir sedang menatapnya sejak ia datang bersama Finn tadi.
Nami berusaha bersikap biasa saja meskipun niat dalam hatinya memberontak ingin mendeklarasikan diri untuk kabur. Perang batin yang mendebarkan.
Finn datang dari belakang bersama dengan sebuah antiseptik, kasa dan salep luka baru yang masih belum di buka. Itu hasil dari mengambil di rak toko, tebak Nami di saat laki laki itu duduk sambil membuka kasa.
Finn hampir meraih lengan Nami setelah membasahi antiseptik dengan kasa namun, Nami menolaknya dengan bahasa tubuh.
"Aku bisa kok" Nami langsung merebut kasa dari tangan Finn kemudian duduk agak miring untuk membersihkan lukanya. Ia tau itu akan sakit dan menyembunyikan ekpresi wajah yang bertambah jelek saat meringis, perlindungan privasi keanggunan untuk dirinya.
Finn masih terus memperhatikan, setelah Nami selesai membersihkan lukanya Finn menyodorkan salep yang sudah di buka, cukup perhatian sekali padanya mau melakukan hal seperti itu.
Jangan di tanya apakah jantung Nami berdetak normal karena perdetik nya saja jantung itu sudah melompat lebih dari takaran normal.
"Makasih banyak" Nami tersenyum sekilas tanpa menatap wajah menawan itu.
"Well, sama sama"
"Oh, berapa semua ini?" Nami mengeluarkan dompetnya, padahal di rumah ada segala peralatan obat tetapi ia harus mengeluarkan uang lagi demi ini.
"No,no. Kamu gak perlu bayar apapun"
"Tapi-"
"Jangan sungkan, aku memaksa"
Nami mengangguk kemudian berdiri. Ia harus segera pergi dari sana sebelum ia punya gejala sakit jantung.
"Aku pergi kalo gitu"
"Mau ku anter?"
Nami membelalakkan matanya, ia spontan menggeleng.
"Enggak, gak perlu makasih banyak. Aku udah banyak ngerepotin kamu" Nami segera berjalan mundur saat semua belanjaan sudah ada di tangan nya. "Bye" Sudah tidak perlu banyak ucapan lagi atau basa basi. Di saat ada tatapan mata dari para wanita yang seakan sedang menekannya di tambah senyuman dan perhatian yang begitu membuatnya luluh lantak.
Nami tidak mau perasaan itu kembali mekar berusaha kabur dari keadaan. Ia keluar dari pintu berpapasan dengan seorang laki laki dengan wanita berbaju putih di belakangnya.
Tiga langkah Nami kemudian menoleh lagi ke arah laki-laki itu. Ia menajamkan penglihatannya apakah benar tadi wanita itu seperti pucat pasi.
Kaca toko yang bening membuat Nami bisa melihat pergerakan laki laki itu sedang berada di depan rak alat dapur.
Semakin ia perhatikan dari sosok itu, dari atas sampai bawah. Wanita itu tidak mengenakan alas kaki.
Nami kembali melangkah perlahan memudarkan pikirannya, seharusnya ia tidak boleh terlalu penasaran dengan urusan orang lain bukan. Mungkin saja itu temannya.
Nami sampai di rumah mendapati Moza yang langsung berlari dan bergeliut pada kakinya.
"Kamu tau tuan malaikat gak?" Tanya Nami sambil mengelusnya sekilas kemudian meletakkan semua belanjaan di atas meja.
"Aku perlu kasih pelajaran soalnya buat dia" Geram Nami sambil memasukkan barang barang segar ke dalam kulkas.
Moza duduk di atas meja sambil menelengkan kepalanya, kupingnya bergerak gerak menggemaskan sedangkan Nami hanya terus berkicau riuh. Andaikan ia tidak di tinggal begitu saja Nami pasti tidak harus terluka dan bertemu Finn.
"Kamu sedang memarahi ku?"
"Aaaaa!" Nami terkejut memegang kulkas hingga benda itu ikut bergerak.
"Tuan malaikat!!" Ia kali ini benar-benar bisa mati mendadak jika terus di kagetkan. Nami berdiri dan berbalik kemudian secepat angin amarahnya padam.
"Hm? Kamu berubah lagi?" Nami menatap wajah tampan itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"V!! Ya ampun laki laki yang di sukai sejuta umat" Nami sampai menutup mulutnya tak percaya. Ia bukan seorang penggemar tetapi jika ada yang melihat malaikat dalam bentuk seperti ini mereka akan histeris.
"Eh kita bisa foto gak? Bikin heboh masyarakat" Tanya Nami berusaha bercanda.
"Aku tidak akan bisa terlihat menggunakan rongsok tekhnologi itu"
Nami membuka mulutnya terkejut, sayang sekali ia selalu salah mengajak seorang malaikat bercanda.
"Heh! Kenapa pergi tadi! Kan yang malaikat kamu kenapa jadi aku yang nolongin anak kecil itu?!"
"Takdir"
"Ha?" Dengan mudahnya dia mengatakan takdir di saat nyawanya menjadi kesepakatan tadi.
"Kamu bertemu dengan Finn bukan"
Nami mengangguk.
"Kamu akan mengerti dan paham dengan sendirinya nanti"
Nami menatap sinis, takdir yang aneh mengapa juga bertemu Finn harus membuat dirinya kecelakaan dulu sebelumnya.
"Ngomong-ngomong kamu abis nolongin siapa lagi kali ini?"
"Anjing, dia sudah terjebak di selokan selama tujuh hari"
Belas kasihan dalam hati Nami terkoyak, sungguh malang sekali nasibnya. Beruntung saja ada seorang malaikat yang datang dan menolong.
"Eh, dengan bentuk seperti ini?"
Tuan malaikat diam sebelum mengangguk. Yaah, mau bagaimanapun itu ia tidak akan pernah mengerti konsep Malaikat dan takdir Tuhan yang penuh teka teki.
"Apakah kamu masih akan terus menghindar Finn?"
Nami menatap tuan malaikat.
"Aku tidak mengindari siapapun" balasnya kemudian berusaha kabur dengan menyusun belanjaannya.