Tentang Siapa?

53 13 1
                                        

Semalam Nami menolak untuk menginap di sana, padahal ibunya berharap ia berada di sana lebih lama lagi. Ibunya hanya khawatir hubungan mereka mungkin bisa renggang kembali.

Tapi pada akhirnya sang ibu yakin ketika Nami berjanji tidak akan pergi jauh dan sering sering berkunjung nantinya.

Nami juga hanya berusaha memberikan ruang untuk keluarga baru ibunya, memiliki adik memang cukup mengejutkan baginya tetapi hal itu sangat manis.
Akan lebih manis dari donat beignet apalagi jika Gilbert memanggil dirinya kakak.

Hal buruk akan terjadi hari ini. Tiba tiba Nami merasa kurang enak badan, matanya terasa perih untuk terbuka dan tubuhnya terasa sedikit menggigil.

"Kamu sakit" Sebuah pernyataan dari tuan malaikat.

"Ya, aku pikir aku kurang enak badan"
Nami menggunakan jaket wol yang sedikit tebal meskipun cuaca akan terasa panas.

"Lebih baik kamu beristirahat Nami, jangan memaksakan diri"
Moza yang ada di pangkuan tuan malaikat menatap juga ke arahnya, bukan berarti hal lain.

Nami mengehela nafas.
"Aku hanya berusaha tuan malaikat, kamu pasti gak lupa kalo ibu Maria dekat dengan kematiannya. Aku cuma mau disana, lebih banyak waktu untuk ibu Maria"

Hal ini yang terus teringat dan mengulang diotaknya. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan.

Tuan malaikat yang khawatir akan selalu berada di dekat Nami terus menjaganya.
Mereka berjalan bersama, dengan Nami yang berjalan lunglai.

Dalam hatinya pasti ada keluhan dengan apa yang Nami rasakan. Kepala pusing dan langkah yang terasa bergetar karena lemah.
Nafas yang sedikit sesak dan mual, ia tidak nafsu makan apapun pagi ini.

"Kamu tau, jika manusia sakit maka ada tiga hal di ambil darinya"

"Tiga hal?"
Nami membeo dengan suara kecil.

"Pertama, aura cerah di wajah, kedua rasa nyaman di tubuh dan yang terakhir lembaran catatan dosa"

Nami menoleh dengan bibir kering yang terkatup rapat masih mempertahankan ini di dalam pikiran.

"Dua hal akan di kembalikan saat kamu sehat nanti kecuali lembaran dosa"
Tuan malaikat menjelaskan sambil menatap lurus.

"Kenapa?"

"Karena akan di buang ke laut, sakit adalah alternatif lain Tuhan mengurangi dosa mu"
Dan kini wajah itu berpaling dan menatap ke arahnya.

Nami tersenyum kecil.
"Wah ... aku beruntung kalo gitu"
Rasa lega sedikit menghibur dirinya meskipun rasa sakit masih begitu mendominasi.

Dia akhirnya sampai pada tujuannya.
Nami segera membereskan kursi dan menyapu tempat.

Aroma roti yang matang bahkan tidak menjadi minatnya hari ini. Nami biasanya akan selalu bersemangat jika roti panas baru keluar dari tungku oven.

Nami yang berdiri di depan kasir sedikit tidak bisa fokus karena sakit kepala yang tiba-tiba menyerang.
Banyaknya pengunjung seakan membuat hal ini semakin sulit.

Di saat itu ia merasakan hawa dingin yang menusuk, ketika itu terjadi Nami masih memejamkan mata dan saat ia membuka kelopak matanya ia melihat Maria di hadapannya juga malaikat maut itu di belakangnya.

Dengan jarak yang sangat dekat makin membuat keringat dingin muncul  banyak di keningnya.

"Nak kamu kelihatan tidak sehat, kamu bisa pulang kalau sakit"

Nami menggeleng cepat, ia sebenarnya agak ketakutan tetapi dengan memantapkan diri ia menghindari penyesalan.

"Aku baik-baik aja kok, Anda tidak perlu khawatir"
Nami memasang wajah ceria untuk meyakinkan.

Girl With Guard-  [ Completed ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang