Nami, apakah ia berada dalam delusi. Ketika dengan sadar menatap seorang laki-laki yang menangis tersedu-sedu sambil memeluk wanita yang bersimbah darah ditengah jalan.
"Nami Nuria, wanita, dua puluh lima tahun, anak adam, pukul tiga dua belas. Penyebab kematian, kecelakaan."
Nami menatap sosok hitam berjubah dengan mata yang sendu.
"Aku mati?"
"Aku yang akan mengantarkan mu"
Nami kembali menatap penuh kesedihan pada keadaan ini.
"Tapi aku bersama malaikat pelindung"
Nami tidak mengerti mengapa ia harus pergi secepat ini.
"Itu sebuah alasan agar kau tidak mati bunuh diri. Tuhan mau kau mati karena takdir"
Malaikat maut lantas membawa Nami, mau atau tidak dia harus pergi bukan.
"Bisakah aku bertemu ibuku? Aku cuma mau lihat dia"
"Tidak "
"Ku mohon, hanya untuk terakhir kalinya"
"Tidak"
Mereka akhirnya pergi ke tempat yang bahkan manusia tidak bisa mengetahui di mana itu.
Sebagai perjalanan terakhir semua mahluk hidup, Nami akan berada di sana.
•
Mereka di penuhi kesedihan, kepedihan, tangis, juga penyesalan.
Viktor benar-benar menyesal tidak mengantarkan Nami pulang saat itu.
Ibu Nami ikut menyesal tidak memperbaiki hubungan mereka sejak awal.
Dan Finn menyalahkan dirinya sendiri karena ia merasa Nami meninggal karena kesalahannya.
Penjelasan dokter seakan terdengar seperti hukuman paling kejam, disaat dengan cepat ia di nyatakan tak lagi bernyawa.
Saat itu polisi sedang membicarakan tentang kronologi kejadian sambil mengecek keadaan Nami untuk keterangan di kepolisian.
Ibu Nami menolak, ia tidak ingin ada satupun orang yang menyentuh anaknya.
Di sisi dunia yang seorang gadis berjalan dalam kesunyian tanpa arah. Tak ada apapun di sana, hanya sekedar tempat yang tidak di ketahui siang atau malam.
Ia berjalan bersama seorang berjubah hitam. Dengan perasaan hampa yang begitu aneh, Nami sekarang benar merasa kosong.
Tak akan ada lagi hal yang lebih menyakitkan di saat ini.
Keadaan yang mengejutkan.
"Kita akan kemana?"
"Tempat mu sebelum diadili"
"Apakah aku akan sendirian?"
Tak ada jawaban yang keluar darinya.
Tapi langkah mereka terhenti ketika mereka di hadang oleh seseorang.
"Tuan malaikat!"
Meskipun malaikat itu tak berbentuk manusia, Nami bisa mengenalinya.
Mereka terlihat berbicara dengan bahasa yang Nami tidak mengerti hingga akhirnya tiba-tiba malaikat maut menatap ke arahnya.
Kemudian malaikat itu menghilang seperti tidak ada tanda-tanda kehadirannya sejak awal.
"Apa, apa yang terjadi?"
"Yaa, bukan hanya kamu yang meninggal, tapi orang yang menabrak mu juga. Tetapi kamu tidak jadi meninggal."
"Benarkah! Kenapa?"
"Itu sesuatu hal yang perlu di rahasiakan sebenarnya" Tuan malaikat masih berdiri tegap di hadapannya.
"Jantung mu akan kembali berdetak, kamu akan kembali bernafas. Tetapi kamu belum akan sadarkan diri, jadi anggap saja kamu sedang ada di dalam mimpi."
Nami bernafas lega, tadi itu ia seakan hampir putus asa. Tetapi Tuhan kembali memberikan kesempatan padanya.
"Aku akan pamit sekarang"
Nami langsung tertarik dalam lamunannya.
"Sekarang, apakah kita tidak akan bertemu lagi?"
"Lebih tepatnya kamu Nami, kamu tidak akan bisa melihat ku lagi. Tapi aku tetap bisa melihat mu dalam bentuk apapun"
Nami menghela nafas sedih. Tuan malaikat yang berperan banyak setelah datang ke hidupnya.
"Tapi ini belum genap tiga puluh hari"
"Kamu sudah tidak akan membutuhkan ku lima hari kedepan Nami. Kamu hanya akan tidur dan bangun tanpa kamu tahu kapan itu"
Dalam arti singkat ucapan tersebut, Nami koma saat itu.
"Jadi sampai sini aja ya"
Nami berusaha mengangguk mengerti.
"Selamat tinggal Nami, hidup lah dengan baik seperti yang sudah seharusnya. Jagalah Moza juga dengan baik. Dan mulailah bicara pada Finn lagi."
Nami menyanggupi hal tersebut sambil tersenyum tipis.
"Apakah aku boleh meluk tuan malaikat?"
"Kamu tidak boleh menaruh perasaan apapun Nami"
"Sebagai ucapan selamat tinggal! Cuma sekali"
Tuan malaikat mengangguk.
Nami lantas dengan cepat memeluknya. Meskipun itu bukanlah sesuatu yang mungkin boleh di lakukan.
Ini adalah kali terakhirnya berada bersama sesosok yang terus perduli kepadanya.
Kemudian Nami pergi kembali ke dunianya.
~•°•~
Pagi itu datang.
Kile, membawa beberapa makanan sambil terus menunggu Nami tanpa lelah.
Gilbert kadang ikut bermain setelah pulang sekolah.
Ia punya teman lain di rumah sakit itu setelah berada di sana selama satu Minggu.
Viktor selama itu juga sering datang membawa buket bunga atau makanan untuk ibu Nami. Dan Dev selalu bisa di andalkan kapanpun di butuhkan. Ibu Nami mendapatkan suami yang benar benar baik.
Finn, ia selalu datang tiap hari. Tetapi tidak masuk ke dalam, hanya sekedar mengamati dari luar. Meskipun ibu Nami selalu membuka lebar pintu untuknya, Finn selalu menolak.
Ia hanya khawatir jika Nami akan histeris saat melihatnya.
Tapi sebagai gantinya, Finn yang merawat Moza selama Nami tak sadarkan diri.
Tirai di kamar Nami sedang terbuka saat itu. Ibu Nami kebetulan sedang berkonsultasi pada dokter tentang perkembangan kesehatan anaknya. Gilbert yang sedang libur, bermain pesawat mainan mengelilingi kamar rawat dengan janji akan berhati-hati dan tidak berisik.
Mata Nami pun terbuka. Ia sudah melakukan perjalanan panjang pada mimpinya hingga akhirnya bisa membuka matanya kembali.
Saat itu yang ia rasakan hanyalah nyeri punggung, dan saat ia lebih sadar seluruh tubuhnya terasa sakit dan sulit di gerakan.
"Kakak sudah bangun?"
Suara Gilbert yang pertama kali Nami dengan. Dia terlihat begitu ceria saat itu.
"Tunggu akan ku panggilkan mama"
Gilbert langsung berlari tergesa-gesa meninggalkan Nami sendirian.
Nami kembali melihat dunianya.
Tak lama kemudian banyak orang datang ke kamarnya begitu juga kile.
Mereka terlihat senang juga, tapi saat itu Nami masih kesulitan bicara hanya diam.
Perjuangan panjang para ahli medis menangani kondisi Nami yang kadang mengalami masa kritis. Sudah terbayar dengan lunas.
Malamnya, kile menyuapi anaknya yang sudah lama tidak makan. Dev sempat datang untuk menjemput Gilbert terlihat begitu senang juga saat mengetahui keadaannya.
Kile menjelaskan bahwa Viktor sering datang dan membawa banyak hal. Ibu Nami sebenarnya agak heran mengapa Nami bisa memilih teman remaja setengah matang seperti Viktor, tapi ia hanya berusaha paham karena pertemanan tidak akan memandang usia.
"Kamu gak perlu khawatir sama kucing mu, Finn yang sudah merawatnya sejak awal kamu sakit. Dia adalah orang yang sangat baik. Kemarin ibu dan ayahnya datang kemari untuk melihat keadaan mu, tapi Finn hanya terus menunggu di luar."
Kile bercerita panjang lebar tentang hal yang terjadi selama Nami koma. Hingga pembicaraan itu di tutup karena Nami harus segera beristirahat.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Girl With Guard- [ Completed ]
FantasyNami akan di jaga oleh sesosok mahluk selama 30 hari karena dia telah mencoba untuk bunuh diri Terinspirasi dari komik 90 days
![Girl With Guard- [ Completed ]](https://img.wattpad.com/cover/265517172-64-k909861.jpg)