siapa hantu itu?

74 18 6
                                        


Kepalanya pusing, semenjak tadi malam dan segala mimpi buruknya Nami masih belum bisa melupakan atau sedikit mengabaikannya.

Hidupnya seakan menjadi tidak nyaman begitu juga keberadaannya, matanya selalu waspada terhadap apapun. Beruntung saja tuan malaikat terus berada di sampingnya.

Nami izin pada Maria untuk libur hari ini karena ia sedikit tidak enak badan, dan juga karena dia ingin pergi bersama Finn untuk mencari alamat ibunya.

"Apakah kau pernah lihat wanita hantu itu sebelumnya?"

Nami menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sambil berpikir keras.
Ia kembali menggali dan menggali ingatannya.

"Iya!"
Teriaknya "pas itu aku lagi ada di supermarket ibunya Finn, dan ada salah satu pengunjung laki laki yang masuk. Laki laki itu berpapasan dengan ku dan ada wanita di sebelahnya aku pikir dia wanita sungguhan"

Tuan malaikat menurunkan tatapannya ke lantai. Jelas sekali hantu yang berada di jalan gelap dan hantu yang menyerang Nami tadi malam sangatlah berbeda.

"Kamu tidak perlu khawatir, dan tetaplah waspada"

"Tapi hantu itu siapa?" Tanya Nami begitu penasaran.

"Dia hanyalah hantu wanita yang penasaran, dia mungkin berpikir kamu menyukai pria yang di ikuti hantu wanita tersebut"

Nami menggeleng tak setuju, ia menatap pria itu karena penasaran bukan karena suka.

Sebuah ketukan pintu membuat mereka berdua terdiam.
Tahu bahwa yang mengetuk pintu itu adalah Finn Nami segera meraih tasnya lalu pergi ke luar setelah berpamitan pada Moza.
Saat ia keluar ternyata tuan malaikat juga sudah ada di sana.

"Sudah siap?"
Tanya Finn

Nami mengangguk dan kemudian laki laki itu memberikan helem kepadanya.

"Aku akan di sini dulu, kamu pergilah dan segera temukan ibu mu"
Itu yang di ucapkan tuan malaikat di saat Nami hendak menaiki mesin kuda itu.

Nami yang memberikan tatapan pasti sudah membuat tuan malaikat mengerti bahwa ucapannya di pahami.

Motor kemudian mulai melaju kencang, menembus jalanan yang tidak legam seperti biasanya.

"Kita akan pergi ke rumah lama mama mu dan bertanya pada orang di sana"
Finn sedikit berteriak dan memelankan laju motornya saat bicara begitu pada Nami dan kemudian motor itu melaju sangat kencang.

Bisa di katakan bahwa rumah lamanya berada di perbatasan yang cukup jauh. Saat melarikan diri dulu Nami memang sengaja pergi sejauh jauhnya mencari kebahagiaan dan kebebasannya.
Dan selama itu juga yang ia dapatkan hanyalah kekosongan yang di tutupi oleh senyuman semu.

Nami tidak pernah mengatakan dia tidak bahagia tetapi dirinya merasakannya.

Rumah dengan teras yang lebar, rumahnya dulu. Nami bisa melihat pemandangan yang hampir tidak berubah kecuali dengan cat rumahnya.
Motor Finn masuk ke dalam pekarangan yang sudah di paving dengan rapih.

Mereka turun untuk bertanya tanya pada pemilik rumah itu.
Tentang mengapa Finn bisa mengetahui rumah tersebut, tentu saja karena dulunya mereka adalah tentang beda dua rumah sebelum akhirnya Finn pindah ke tempatnya yang sekarang.

Dan Nami ikut pergi meninggalkan semua tulisan sejarah di masa lalu. Meninggalkan tempat yang Pernah terasa nyaman sekali untuk bernaung.
Dan tidak di sangka saja dia dan Finn bertemu dengan ketidaksengajaan Tuhan.

Finn mengetuk pintu rumah itu, sedangkan Nami masih memperhatikan sekeliling rumah tersebut. Membiarkan ingatan yang pahit dan manis bertumbuk.

Pintu kemudian terbuka ada seorang wanita yang muncul di baliknya.

"Iya ada apa?"
Tanyanya tidak sepenuhnya membuka pintu. Dan itu saja sudah menampakkan tidak ramahnya sang pemilik rumah.
Nami memperhatikan wanita itu dan merasa tidak mengenalnya.

"Begini nona, apakah Anda tahu kemana pemilik sebelumnya pindah?"

"Tidak"
Jawabnya cepat dengan sedikit kasar.

"Apakah Anda sama sekali tidak tahu?"
Tanya Nami, masih berharap wanita itu bisa membantunya dengan sedikit informasi.

Pintu malah di tutup dengan sedikit di banting membuat mereka berdua sedikit terkejut.

Nami dan Finn saling bertatapan, bicara dalam tatapan mata.

"Ayo kita cari dengan cara lain"
Kata Finn kemudian berjalan ke arah motornya.

Nami mengikuti Finn dengan perasaan sedih. Mengapa banyak orang yang tidak bisa bersikap bersahabat padanya.

Mereka sudah naik di atas motor dan mulai melaju perlahan keluar dari pekarangan rumah tersebut sebelum tiba tiba ada seseorang laki laki yang mencegat mereka di tengah jalan.

"Nami, sama Finn ya!"
Serunya dengan senyuman lebar yang meskipun tertutupi kumis tetap terlihat ramah.

"Paman Jeri?"
Nami menatap mereka berdua,
Jeri tentangganya.

Mereka urung meninggalkan tempat tersebut malah pergi ke rumah di sebelah yang sudah di pagar pendek.

Jeri dan istrinya Mal, mereka lansia yang sangat ramah.

"Sudah lama kamu tidak datang kemari"
Kata jeri sambil mempersilahkan keduanya untuk duduk. Sedangkan sang istri pergi ke belakang untuk menyiapkan suguhan.

Finn hanya tersenyum sambil mengusap belakang kepalanya.
Mereka berbasa-basi berbicara tentang kabar orang tua Finn.

"Nami kamu gimana kabarnya?"
Mal datang bersama nampan dan bertanya padanya.

"Baik bi"
Jawaban singkat, ia tidak bisa berbasa-basi seperti yang di lakukan oleh Finn.

"Mama kamu, gimana kabarnya?"

Pertanyaan itu sontak saja membuat Finn dan Nami saling bertatapan dengan raut wajah yang memiliki arti.

"Begini bi, Nami sudah lama tidak bertemu dengan mamanya. Apakah bibi tahu ke mana mama Nami pindah?"

Keduanya langsung menampakkan wajah yang ikut sedih, mereka tidak mengetahui banyak hal tentang masalah keluarga Nami. Yang mereka tahu hanyalah Nami yang ceria dan bahagia sebelum senyuman itu hilang di suatu keadaan.

"Kami tidak tahu banyak nak, tetapi mungkin aku masih punya alamat rumah suaminya"

Jeri bangkit dari tempat duduknya kemudian pergi ke suatu ruangan.

"Aku turut bersedih Nami"
Kata Mal, bersedih akibat kebahagiaan yang terasa hilang dari hidup Nami setelah jalan panjang yang menyedihkan.

Nami hanya membalasnya dengan senyuman, ya ia tahu bahwa sedikit kepahitan akan menjadikannya lebih bersyukur.

"Jadi ... Apakah kalian sekarang pacaran?"

Finn yang sedang minum tersedak, langsung menjauhkan gelasnya sambil terbatuk menutup mulutnya dengan satu tangan.

"Bukan bi, Finn teman yang baik"
Jawab Nami, awalnya ia hampir saja memasukkan kue ke dalam mulutnya tetapi tidak jadi karena pertanyaan mengejutkan tersebut.

Jeri dari ruangannya berjalan terburu-buru sampai membuat lantai rumahnya bergetar. Ia memegang secarik kertas sambil berkata.

"Aku menemukan nya, aku menemukannya"

"Pelan pelan pa ... Nanti jatuh"
Mal memperingati.

Jeri memberikan kertas tersebut pada Nami.

"Itu alamat ayah tirimu, aku berharap dia belum pindah"

"Terimakasih banyak paman, bibi. Aku sangat berterimakasih pada kalian"

Mereka segera berpamitan tidak ingin membuang waktu ini. Mereka menuju ke alamat yang di berikan, Finn menggunakan kecepatan penuh dari motornya.

Ternyata rumah itu masih berada di satu daerah dengan rumahnya, memang sedikit jauh tetapi akan mudah jika di akses dengan kendaraan.

.

.

.

Girl With Guard-  [ Completed ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang