Masih di toko, Nami bekerja seperti biasanya. Kembali lagi ia melihat bayangan hitam ada di toko itu setelah melihat bayangan lain di rumahnya.
Nami sempat berpikir kalau bayangan itu adalah hantu wanita yang mengikuti dirinya sehingga membuat Nami menjadi was-was.
Memang tidak menganggu dirinya secara verbal tetapi bayangan itu mengganggu dirinya di pikiran.
Nami keluar sebentar untuk mencari udara segar, tuan malaikat ia suruh berada di rumah saja untuk menjaga Moza karena hewan itu senang sekali menggigit apapun dan menjadikan dirinya khawatir.
Pikiran nya juga terpecah karena ibu. Tuan malaikat terus memaksa dan memburu dirinya untuk kembali berbaikan dengan sang ibu dan itu membuat dirinya penasaran apakah yang akan terjadi nanti.
"Kakak"
Nami merasakan sebuah tarikan kecil di bawah bajunya.
Saat ia menoleh ternyata ada anak laki-laki yang sedang menatap dirinya.
Nami tersenyum kemudian sedikit membungkuk dengan tangan bertopang pada lutut.
"Hai, apa kamu tersesat?"
Tanya Nami sambil mencubit sejenak pipi tembam itu.
Si anak mengangguk dengan kontak mata mereka yang masih terjaga.
"Di mana terakhir kali kamu bersama ibu mu?"
"Di pinggir jalan raya"
Ungkapnya, matanya melirik ke arah bunga bunga yang ada di depan toko. Ia hanya diam tetapi Nami seakan bisa membaca pikirannya.
"Kamu mau bunga?"
Anak tersebut mengangguk dengan sangat lucu.
"Hari ini ibuku ulang tahun"
Tambahnya.
Jadi, tidak akan apa apa bila ia yang mengambil bunga tersebut atas namanya dan membayarnya nanti untuk anak ini.
"Bunga apa yang kamu mau?"
Nami menawarkan sendiri agar kesan bunga itu terasa lebih istimewa.
Anak itu menunjuk ke mawar putih yang baru saja datang tadi pagi.
Nami tersenyum lalu mengambil beberapa tangkai dan mengikatnya dengan rapih. Untuk buket bunga yang sangat sederhana Nami berharap sang ibu akan bahagia.
"Ayo segera cari ibu mu"
Nami kemudian anak tersebut menggenggam ujung bajunya sambil berjalan ke arah yang anak itu tahu.
"Siapa namamu?"
"Deo" Jawabannya yang singkat membuat Nami berpikir anak ini mungkin memang seorang yang pendiam.
"Kakak, tas ku tertinggal. Bisa kah kita mengambilnya "
"Tentu"
Mereka lantas datang ke sebuah sekolah anak anak yang telah sepi karena jam aktif sudah berakhir.
Deo melepaskan genggamannya dan berlari menuju ke salah satu perosotan dan mengambil sesuatu di bawahannya.
"Apakah kakak bisa membantu ku membawanya juga?"
Nami tersenyum dan tanpa lama ia langsung mengambil alih tas tersebut.
"Wah lumayan berat, apa isinya?"
"Mainan"
Ucapan spontan Deo membuat Nami terkekeh lucu, anak itu lantas kembali menarik bawah bajunya.
Berjalan cukup jauh dari toko, sehingga membuat dirinya bertanya tanya mengapa anak ini jauh sekali perginya.
Mereka lantas sampai pada sebuah rumah.
Anak itu langsung berlari masuk ke dalam. Nami menatap tempat itu sejenak, bukankah anak itu berati tidak tersesat?
"Permisi"
Kata Nami berjalan ke depan pintu yang sudah terbuka.
Seorang wanita dengan wajah yang muram menghampirinya.
"Apakah ada yang bisa di bantu? "
Nami tersenyum ramah kemudian memberikan bunga dan tas tersebut. Tetapi gerakannya melambat di saat melihat bingkai foto yang terpampang jelas, foto anak itu dan karangan bunga di sekitarnya.
Wanita itu kemudian langsung mengambil alih tas yang Nami bawa kemudian menangis tersedu sedu. Di saat itu tubuh Nami langsung merinding bersamaan dengan kakinya yang melemas.
"Dimana kamu menemukan ini nak?"
Tanya ibu itu masih dalam pecahan tangis sedangkan mulutnya tak bisa berkata kata. Bunga yang ada di tangan Nami pun sudah jatuh ke lantai.
•
Nami berjalan takut saat pulang bekerja, ia memilih berhenti di salah satu toko untuk membeli sebuah makanan. Meskipun untuk makan ia sama sekali tidak memiliki selera seharusnya ia memaksa perutnya di isi sesuatu.
Bayangan seram itu, bukan karena bentuknya tetapi karena keadaannya.
"Sudah selesai bekerja?"
Suara yang lemah tetapi tegas itu mengangetkan diri dirinya.
Nami sedang duduk sambil menunggu pesanannya datang ketika tuan malaikat tiba tiba ada di depannya dengan wujud baru.
Nami menatap ke sekelilingnya terlebih dahulu, di sana cukup banyak orang sehingga ia harus melakukannya kembali. Meletakkan handphone di telinganya seakan-akan sedang menelpon.
"Apakah harimu baik?"
"Tidak hari ini sedikit sulit dan sangat membingungkan"
Mata Nami tertangkap sedang tidak fokus. Bola mata yang terlihat lelah di campur ketakutannya.
Tuan malaikat bisa membacanya dengan sangat akuran kembali bertanya sesuatu.
"Dia meninggal karena kecelakaan, lebih tepatnya tabrak lari"
Nami mengerenyit aneh.
"Siapa?"
"Deo, kamu habis bertemu hantu anak kecil bukan? Itu hanyalah Dia yang menyerupai manusia hanyalah jin yang dulu melekat pada manusia jadi kamu tidak perlu takut"
"Apakah tidak ada malaikat yang di tugaskan untuk menolong Deo? Dia anak kecil mengapa dia harus-"
Nami tidak kuat untuk melanjutkan kalimatnya.
"Jangan lupa oleh takdir Nami, pesan untuk langit memang selalu ibunya kiriman tetapi ketetapan Tuhan lebih berkuasa. Anak itu hanya di berikan kelonggaran waktu tiga hari dari tanggal yang harusnya ia sudah dijemput. Anak itu sudah berada di tempat yang lebih baik."
"Dengan meninggal? Apakah itu adalah pilihan terbaik dalam takdirnya?"
"Berikanlah dia teman yang baik dan jujur. Berikan dia tempat yang membuat dirinya aman. Itu pesan yang ibunya kiriman, Deo anak yang sering di kucilkan Nami dia anak yang di musuhi oleh teman temannya Sehingga dengan baik hatinya Tuhan mengabulkan doanya. Dia berada dalam tempat baik saat ini."
Nami hanya diam dengan nafas yang sudah menyesakkan. Mengapa harus kematian?
Mereka lantas pulang dengan perbincangan yang sampai dan berakhir di sana.
Nami berjalan lunglai di saat tuan malaikat selalu berdiri tegap dan terlihat sangat kuat.
Ia sampai di rumah kembali membuka pintu dan lagi lagi melihat bayangan hitam yang langsung menghilang.
Nami hanya mengabaikan tetapi tuan malaikat meliriknya sekilas. Ini bukanlah sesuatu yang aman hanya untuk sekedar di biarkan.
Wanita itu langsung pergi tidur setelah menyapa Moza dalam kebungkaman.
Tuan malaikat mengintip jendela dan menatap ke arah sana cukup lama.
"Pergilah, dia tidak seharusnya kau usik"
Hantu wanita itu lagi, meskipun hantu itu sudah menempati daerah gelap di jalan sekitar rumah Nami, sudah seharusnya mahluk lain tidak mengurusi sesuatu yang bukan dari tempat asalnya.
Hantu, mereka sangat menyukai kesepian. Hantu wanita itu sudah lama melihat Nami sendirian sehingga ingin ikut dalam kesendirian itu agar Nami tidak lagi kesepian.
Bukan hal yang bagus ketika hantu itu ingin Nami ikut juga ke dunianya.,
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Girl With Guard- [ Completed ]
FantasíaNami akan di jaga oleh sesosok mahluk selama 30 hari karena dia telah mencoba untuk bunuh diri Terinspirasi dari komik 90 days
![Girl With Guard- [ Completed ]](https://img.wattpad.com/cover/265517172-64-k909861.jpg)