Dark romance stories 2
Sebuah cerita yang mengisahkan tentang kehidupan Viona yang begitu memilukan, semenjak dirinya bertemu laki-laki berhati iblis.
Warning: Mengandung kata-kata kasar, unsur dewasa dan kekerasan.
Note: Setelah membaca vote dan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seulas senyum terbit di bibir seorang laki-laki ketika melihat wajah cantik istrinya setelah ia membuka mata. "Viona, bangun sayang." Senyumnya semakin melebar saat melihat kedua mata tertutup istrinya bergerak terbuka.
"Viona?" Damian mengangguk. Tangannya bergerak membantu wanita itu yang hendak duduk.
"Aku ingin mengubah nama panggilanmu sama seperti aku mengubah sifatku. Sesuai yang kita bicarakan semalam, mulai sekarang aku tidak akan mengikat dan mengukir tubuhmu lagi."
Mendengar itu, bibir Keyra sedikit tertarik ke atas. Dalam hati Keyra berharap, semoga Damian benar-benar akan berubah.
"Terimakasih. Aku harap kamu menepati semua ucapanmu."
••••••••••
Damian baru saja keluar dari kamar mandi. Ia lalu menghampiri Keyra-istrinya yang sedang duduk menghadap jendela. "Melamun apa?" tanyanya dengan memeluk tubuh Keyra dari belakang.
Tubuh Keyra sedikit berjengit kaget ketika mendengar suara berat Damian. Keyra lalu menggeleng.
"Ingin makan dimana? Di kamar atau di meja makan?" tanya Damian lagi setelah meletakkan dagunya di bahu Keyra.
"Di meja makan." balas Keyra singkat. Damian lalu mengajak wanita itu keluar dari kamar menuju meja makan di lantai bawah.
Setiba di ruang makan, mereka kemudian duduk dan makan dengan tenang. Selesai makan, Damian sedikit menggeser kursinya mendekat. Damian lalu mengangkat tangannya, menyingkirkan helai rambut Keyra ke belakang telinga.
"Setelah ini, aku akan keluar dan mungkin akan kembali larut. Berdiamlah di dalam rumah, jangan berani-berani melewati pintu keluar. Aku tidak mengikatmu bukan berarti membiarkanmu bebas keluar dari rumah ini. Mengerti?"
Keyra lantas mengangkat pandangannya. "Kamu bilang semalam-" ucapan Keyra terhenti ketika tiba-tiba Damian mengecup bibirnya.
Damian pun terkekeh melihat wajah merah padam istrinya. "Jangan khawatir, kamu boleh keluar rumah, tapi tidak untuk sekarang." Hati Keyra seketika merasa sedikit tenang setelah mendengar ucapan Damian.
"Ya sudah, aku berangkat. Jaga diri baik-baik di rumah." sambung Damian, lalu bangkit dan mencium kening Keyra.
••••••••••
"Sudah tidur rupanya." ucap Damian pelan setelah masuk ke dalam kamar. Damian lalu menaiki kasur dan berbaring di samping tubuh istrinya yang masih terlelap.
Damian mengecupi seluruh wajah cantik Keyra, mulai dari dahi, kedua mata, hidung, dan terakhir bibir. Damian juga mengecup beberapa kali pipi lembut istrinya. Ia tersenyum ketika melihat kedua mata Keyra yang perlahan bergerak.
"Kenapa bangun, hm?" Damian menahan tubuh Keyra yang hendak bangkit. Tubuhnya dengan cepat berpindah mengurung tubuh wanita itu. "Kamu ... Ganggu." balas Keyra kikuk.
Damian hanya tersenyum. Ia lalu perlahan memiringkan wajahnya. "Aku merindukanmu." ucapnya sebelum mencumbu leher Keyra.
Lama mereka dalam posisi tersebut tentu membuat Keyra merasa sesak. "Damian, sudah!" Keyra pun berusaha keras mendorong tubuh berat Damian. "Diam sayang!" Tanpa memperdulikan permohonan istrinya, Damian terus menghisap area leher wanita itu.
"KUBILANG DIAM!" Tubuh Keyra seketika berhenti berontak. Tanpa diminta bulir air pun menetes dari sudut matanya.
Merasa Keyra yang sudah berhenti memberontak, Damian semakin gencar menikmati tubuhnya. Ciuman Damian pun saat ini sudah turun pada area dada Keyra.
"Cengeng." sarkas Damian melihat Keyra yang masih menangis dengan mata tertutup. Damian mengecup sekilas bibir Keyra lalu bergerak menjauh dari tubuh wanita itu.
"Jangan tidur sebelum aku selesai." peringatnya tegas sebelum masuk ke kamar mandi.
Keyra tak membalas, ia sibuk meredam isakannya yang mendesak keluar. "Belum genap satu hari Damian sudah mengingkari ucapannya." batin Keyra pilu.
Tak lama, Damian sudah selesai dari kamar mandi. Ia langsung menghampiri istrinya yang masih berbaring meringkuk. Damian perlahan membalikkan tubuh Keyra. Ia pun membuka selimut yang membungkus seluruh tubuh wanita itu.
"Ternyata aku sangat pandai melukis." puji Damian sendiri sambil mengusap pelan kissmarkyang dibuatnya pada leher Keyra. "Ingin kulukis lagi ditubuhmu?"
Keyra menggeleng. "Tidak." jawabnya lirih, membuat Damian seketika menghentikan usapannya. "Kenapa? Bukankah terasa nikmat ketika aku melakukannya?"
Keheningan pun menyelimuti. Keyra sibuk mencari jawaban di otaknya. Bukannya mendapat jawaban, ia justru dibuat gugup karena sedari tadi Damian tidak berhenti menatapnya.
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Damian lagi setelah beberapa saat. "Aku ... Tidak tahu." balas Keyra akhirnya.
"Bukan itu jawaban yang kumaksud sayang. Rasanya nikmat atau tidak, hm?" Damian dengan segera menahan dagu Keyra ketika wanita itu hendak kembali menunduk. Damian berdehem pelan sambil mengangkat sebelah alisnya.
"I ... ya." balas Keyra lirih.
Senyum miring Damian pun semakin mengembang. "Kalau begitu, biar kulukis lagi di punggungmu besok mal-"
"Damian ..." sela Keyra cepat. "Kenapa ... kamu mengingkari ucapanmu pagi tadi?" Bukannya menjawab, Damian malah menarik mendekat tubuh Keyra dan menenggelamkan kepala wanita itu pada dada bidangnya.
Pagi pun tiba. Saat ini Damian dan Keyra sedang mandi bersama dalam bathtub. Tentunya Keyra merasa tidak nyaman dengan kegiatan seperti ini. Keyra masih belum terbiasa tubuh polosnya bersentuhan langsung dengan Damian, mengingat mereka hanya pernah melakukan sekali, itu pun bukan atas kemauan Keyra.
"Damian, kita akan pergi kemana?" tanya Keyra memecah keheningan.
"Kemana pun semaumu."
"Aku ingin bertemu Geyra." tutur Keyra setelah beberapa saat berpikir. Kegiatan Damian yang tengah menciumi bahu Keyra pun berhenti.
"Tidak sekarang. Aku ingin seharian ini menghabiskan waktu hanya bersamamu." Damian lalu melanjutkan kembali kegiatannya yang terhenti.
"Hanya sebentar, kumohon ..." tanpa membalas ucapan Keyra, Damian kemudian bangkit.
"Bersihkan tubuhmu. Aku akan bersiap dan menunggu di luar."