34

739 35 3
                                        

HAPPY READING !!!

HAPPY READING !!!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•••

Viona sama sekali belum merasa lapar sejak tadi. Makanan dan obat-obatan yang disiapkan Bram sama sekali tak Viona sentuh.

Sejak tadi, Viona hanya berbaring dan memejamkan matanya, menahan rasa sakit yang ia rasakan di seluruh tubuhnya.

Viona tak menyadari kedatangan Damian. Wanita itu sibuk meniup-niup punggung tangannya yang memar.

Viona buru-buru bangun saat mendengar laci meja nakas di belakangnya ditutup dengan keras. Viona panik begitu melihat pisau kecil yang terlihat sedikit berkarat di genggaman Damian.

Viona mundur perlahan. Melihat pintu kamar yang sedikit terbuka, Viona berusaha mencari celah untuk kabur.

"Kau niat sekali, mencuri pisauku dan menyimpannya untuk bunuh diri?" Damian melangkah pelan.

Bulir-bulir keringat memenuhi wajah Viona. Ia sudah berhasil berdiri meskipun kondisi kakinya sudah bergetar hebat.

"Kau melupakan satu hal. Setiap pergerakanmu selalu aku awasi, termasuk saat dulu kau berciuman dengan bajingan itu, dan tentang pisau ini." Damian bertutur rendah. Laki-laki itu menarik rambut Viona yang sudah siap hendak kabur, lalu membanting tubuhnya dengan keras ke lemari kayu.

"A-apa kau masih belum puas?" tanya Viona lemah. Belum genap satu hari, semenjak terakhir kali laki-laki itu menyiksanya.

Damian terkekeh. "Tentu saja tidak akan pernah puas. Tapi sayangnya, lebih baik kau mati. Aku tidak mau ada parasit di hubunganku dengan Kanala."

Damian mengangkat pisau itu tepat di depan wajah Viona. "Bukankah kau menginginkan ini?"

Viona tak sempat menghindar. Wanita itu mengerang kesakitan begitu ujung pisau menancap dalam di perutnya.

Damian memang tak pernah puas. Ia semakin menekannya ke perut Viona.

"K-kau ... l-lebih kejam dari iblis!" desis Viona di sela-sela rintihannya.

"Ssttt ... Jangan banyak bicara. Nikmati saja rasa sakitnya, Sayang." Damian melumat sebentar bibir Viona. Ciuman perpisahan sebelum wanita itu tiada.

Suara gebrakan pintu keras membuat mereka kompak menoleh dan langsung terkejut.

"Mati kau Damian, anjing!"

Sedetik kemudian, sebuah peluru menembus kaki Damian, membuat tubuh laki-laki itu sedikit terhuyung ke belakang.

"Garvin?" ucap Damian tak percaya.

Baru saja Damian berhasil berdiri, Garvin kembali menembaknya dan kini tepat mengenai perutnya, membuat Damian kembali terjatuh.

Garvin berlari masuk dan langsung memukuli Damian tanpa ampun.

"Kau bajingan sialan!"

Garvin benar-benar tak terkendali. Ia terus menghujani pukulan pada wajah Damian.

RUTHLESS Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang