32

1.6K 52 13
                                        

HAPPY READING !!!

HAPPY READING !!!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Menyusahkan!"

Axel dengan sangat terpaksa memapah tubuh Damian yang sempoyongan. Laki-laki itu mabuk berat.

Axel mendorong tubuh temannya itu ke dalam mobil, lalu ikut masuk ke kursi kemudi.

"Pecundang bodoh! Merepotkan saja!"

Sepanjang jalan, Axel mendumal kesal. Untungnya jalanan sudah sepi, membuatnya leluasa untuk mengebut sehingga hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai di rumah Damian.

Axel langsung memanggil anak buah Damian yang sedang berjaga di pintu utama. Axel menyuruh mereka membawa tubuh Damian masuk.

"Beri dia air dingin."

Kedua anak buah Damian mengangguk patuh, lalu membawa Damian masuk. Setelah mereka tak terlihat lagi, barulah Axel masuk kembali ke dalam mobil kemudian pergi dari sana.

Mereka meletakkan tubuh Damian di sofa ruang tamu. Salah satu dari mereka pergi untuk mengambil air di dapur. Dalam kondisi Damian yang setengah sadar, anak buah tersebut meminumkan air itu.

"Apa tidak masalah kita tinggalkan Tuan di sini?"

"Dia berat, kau malas bukan untuk mengangkatnya lagi? Lagi pula dia jarang menggaji kita, tidak seperti sewaktu kita bekerja di rumah Tuan Garvin."

Salah satu anak buah Damian mengangguk setuju. "Kau ada benarnya juga."

Sekitar satu jam kemudian, Damian terbangun. Laki-laki itu memijat pelipisnya, merasakan kepalanya yang terasa berputar. Di saat-saat seperti ini, yang Damian butuhkan hanyalah adiknya.

Setelah kondisi kepalanya sedikit mereda, Damian bangkit. Tujuannya saat ini adalah kamar adiknya. Dengan jantung berdebar, Damian naik menuju lantai atas.

Wajah Damian memerah begitu mendapati pintu kamar adiknya tak bisa dibuka. Ia pantang menyerah dan terus mencobanya berulang kali.

"Buka pintunya, Kanala!"

Damian mencoba mendobrak lagi, namun tak membuahkan hasil. Damian berdecak marah. Adiknya itu sudah diperingati, namun tak ada takut-takutnya.

Damian akhirnya mundur, ia beralih menuju kamar istrinya yang bersebelahan. Damian membanting kasar pintu kamar, sama sekali tak memedulikan Viona yang tengah beristirahat. Seperti biasanya, Damian meluapkan semua amarahnya pada Viona.

"Bangun." desak Damian.

Viona tentu terpaksa terbangun. Padahal ia baru bisa terlelap karena tubuhnya terasa menggigil sejak sore.

Damian menarik lengan istrinya. Viona langsung berlutut begitu melihat Damian menyambar tongkat baseball di dekat lemari.

"Damian, tolong ... sekali ini saja jangan menghukumku ..."

RUTHLESS Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang