03. Terikat

90 15 0
                                    

Terikat.

★★★

Keadaan yang cukup sengit untuk hari ini, Yakira mengunjungi tempat bermain dan banyak sekali permainan yang menguras tenaga, Lintang setia menerima gadis ini kemanapun dan kapanpun.

"Kak, itu permainan apa? Yang di sana!"

"Dukun."

"Kok? Maksudnya?"

"Kalau lo mau tau, mampir aja ke sana. Kayak gak pernah liat dukun aja, Yakira."

"Gue udah 17 tahun hidup, Kak! Yakali dukun aja nggak tau." Yakira menatap Lintang dengan tatapan sinis. Lalu ia berjalan menghampiri menuju tenda dukun itu.

"Bu, permisi, mau tanya boleh?"

"Iya boleh, tanya apa, ya?"

"Di sini permainannya sejenis apa?"

"Enggak susah-susah kok di sini, cukup pilih kartu yang kamu suka, lalu saya akan meramal masa depan kamu." Peramal itu menghentikan penjelasannya, menarik nafas, melirik Lintang dan mencoba melanjutkan penjelasannya, "Nah, contohnya masa depan mbaknya dengan mas-mas ini. Bisa banget saya ramal!"

Yakira tertawa cekikikan, lalu menjawab ucapan sang peramal, "Bu, maksud ibu mau ngeramal dia jadi pengawal saya seumur hidup, ya?"

"Loh, pengawal? Saya kira pacaran." Jawab sang peramal.

"Ibu, katanya peramal kok nggak tau dia pengawal saya."

"Ya, kan harus memilih kartunya terlebih dahulu. 1x meramal biayanya 50 ribu aja, toh. Semakin lama ngobrol sama saya tarifnya akan terus saya tambah."

"Bisa debit bu?"

"Ngeramal saja harus pake debit segala, dasar anak muda." batin ibu peramal tersebut.

"Harus cash ya, kalau debit pulang aja."

Yakira berdiri, mendekatkan jaraknya dengan Lintang, lalu berbisik pada Lintang.

"Kak, gue boleh pinjem duit lo dulu, ngga?"

Lintang mengoreh sakunya lalu memberikan uang dengan nominal 50.000 kepada sang peramal.

"Jadi siapa yang mau diramal?"

"Ya jelas saya bu!" ucap Yakira.

Sang peramal pun mengangguk mengerti, lalu mengacak-acak kartu ramalannya di atas meja.

"Silakan dipilih, kartu yang kamu suka, ya."

Yakira pun memilih kartu yang menurutnya menarik dan sesuai dengan selera dirinya.

Sang peramal melihat kartu tersebut, ia menyalakan lampu ramalan dan wangi kemenyan semakin pekat. Lintang hampir gila melihat situasi ini, imannya terguncang.

"Ok, saya sudah dapat gambaran. Masa depan kamu akan sangat cerah, bila kamu menyikapinya selalu dengan berpegang teguh pada kebenaran. Lalu, kalian berdua, kamu, dan pengawal kamu ini, akan selalu terikat walau sejauh apapun yang kalian tempuh. Di masa depan, akan ada kehilangan, kesedihan, maupun kebahagiaan, yang harus kamu sikapi dengan sebaik-baiknya."

Yakira sama sekali tidak mempercayai hal ini, namun ia senang mendengar ia akan mendapatkan kebahagiaan. Lalu, ia sedikit terkejut tentang keterikatannya dengan Lintang, apa harus peramal ini'pun mengatakan hal tersebut? Ia harap masa depannya yang satu itu tidak akan pernah terkabulkan sama sekali.

"Sudah ya, tidak ada lagi yang bisa saya jelaskan karena bisa saja jika saya menceritakannya dengan jelas justru akan mengubah masa depan kalian. Waktu saya juga sudah habis, lebih baik kalian pulang."

Yakira mendesis, sudah mahal, juga tidak jelas. Ia sangat menyesal menghampiri tenda peramal ini. Ia dan Lintang meninggalkan tenda tersebut, Lintang sama sekali tidak mengeluarkan satu patah kata'pun kepada Yakira, semakin lama gadis itu semakin keras kepala. Hal-hal konyol yang selalu Yakira lakukan membuat Lintang lebih banyak memilih untuk diam dan melakukannya sebisa yang ia lakukan.

Belum genap satu minggu Lintang menjadi bodyguard pribadi Yakira, namun ia seakan telah mengenal gadis ini cukup lama, gadis yang ia temui setiap hari karena tugasnya.

"Aneh banget ini tempat! Pada gak waras!" celetuk Yakira dengan nada ketusnya.

"Bukannya lo sendiri yang mau ke sini?" kata Lintang.

"Ya, tapi, Kak! Review-nya pada bagus-bagus. Tapi kenapa pas gue yang coba malah jadi jelek gini?"

"Makanya jangan coba-coba, selera orang sama selera lo engga selalu sama. Menurut orang tempat ini bagus, tapi menurut lo engga, dan bisa aja menurut gue tempat ini sama sekali gak ada bagusnya."

"Tapi–"

Lintang memotong ucapan Yakira seraya berkata, "Diem, sekarang kita mau kemana?"

"Gue juga nggak tau, gak punya tujuan. Tapi gue belum mau pulang ke rumah. Lo bisa kasih saran, Kak?"

"Pulang."

"Pulang? Gue belum mau pulang, Kak."

"Lo mau seterusnya tinggal di sini?"

"Ya, engga juga. Cuma, gue belum mau pulang ke rumah. Setiap hari gue liat pemandangan yang sama."

"Gue juga gak mau lama-lama di luar."

Yakira diam sejenak, ia tidak bisa melawan kata-kata Lintang lebih jauh lagi. Ia dan Lintang akan terus melempar yang menurut mereka benar, keras kepala yang sama persis namun Yakira kali ini mengalah. Tapi, tidak sampai di sini saja, Yakira menautkan jari jemarinya dengan jari jemari milik Lintang, lalu ia berlari ... membuat tubuh Lintang tertarik karena Yakira.

Yang terlintas dalam pikiran Lintang adalah, Yakira ingin membawanya ke tempat macam apa?

Tubuh Yakira terhenti, ia membalikan tubuhnya dan menatap Lintang. Lintang sedikit heran, namun ia tidak menunjukannya dengan jelas.

"Tebing?" ucap Lintang seakan bertanya karena heran.

"Gue nggak akan bunuh diri sekonyol ini kok, apalagi minta lo jadi penontonnya, Kak. Di sini udaranya seger aja, pemandangan kota juga kelihatan jelas, iya 'kan? Lampu-lampu yang terang, jalanan yang ramai, juga bukit-bukit yang jauh di sana. Di sini, mansion milik keluarga gue yang cukup besar aja kalah dengan pemandangan kota dari atas bukit. Seluas itu ya dunia?"

"Apa maksudnya?" tanya Lintang.

"Kadang yang menurut orang itu adalah sebuah kenikmatan, menurut mereka yang jalanin hal itu sehari-hari udah jadi kegiatan yang membosankan, Kak. Lo, apa ngga bakal bosen jadi pengawal gue terus?"

Lintang tahu apa maksud Yakira, Yakira selalu menanyakan hal-hal yang menjurus kepada pekerjaan dan kehidupan Lintang. Tujuannya mungkin agar membuat Lintang semakin tidak nyaman untuk berada di dekat Yakira.

"Siapa yang ngga bosen 24 jam selalu ngikutin lo dari belakang? Tapi, siapa juga yang gak butuh duit?"

"Kalau semisal ada yang berani bayar lo supaya lo gak perlu kerja lagi di tempat itu gimana, Kak?"

"Palingan duit haram, siapa yang berani bayar segitu banyak cuma buat tendang gue dari pekerjaan gue?"

"Ngobrol sama lo itu kayak ngobrol sama batu."

"Ada apa sama batu? Bahkan, gue jauh lebih baik dari satu buah batu." Ujar Lintang, Yakira mendelik, nyatanya seorang Lintang juga memiliki sisi narsis.

Lintang dan Yakira masih sama-sama berusia muda, mereka ber-dua lebih persis seperti adik kakak dibandingkan seorang pengawal dan putri atasannya. Juga, panggilan Yakira kepada Lintang yang membuat mereka lebih mirip seperti seorang kakak beradik.

★★★

To Be Continued.

Langkah RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang