25. Ujian

51 6 0
                                    

.
.
.

Alarm berbunyi dengan suara yang sangat nyaring, jantung Yakira hampir copot karena mendengarnya. Gadis itu segera membuka ponselnya, ia melihat notifikasi pesan yang sepertinya bisa membuat riwayat hidupnya tamat hari ini.

"Aduh, Kak Lintang lagi," decak Yakira. Gadis itu masih berusaha bermalas-malasan di tempat tidurnya, ia bahkan belum beranjak sama sekali.

Brak!

"E-ehh, monyed!" Yakira menjerit, "KAK LINTANG! Ketuk dulu kek gitu pintunya," ucap gadis itu murka.

"Gue udah kirim pesan dari jam 6 ke lo, kenapa masih di kamar? Apalagi masih tiduran dibalik selimut?" kata Lintang penuh penekanan.

Lantas Yakira tersenyum, ia terkekeh sembari memperlihatkan deretan giginya seakan belum terjadi apa-apa sebelumnya.

Lintang segera menghela nafasnya berat, seraya ia berkata, "Yaudah, mandi sana. Siap-siap, tesnya 2 jam lagi, dan universitasnya cukup jauh dari sini, gue kasih lo waktu buat siap-siap cuma 15 menit aja,"

Dengan langkah cepat Yakira segera mempersiapkan diri, Lintang kembali menunggu di luar berharap agar Yakira benar-benar tepat waktu.

Beberapa waktu kemudian ...

"Yakira, udah belum?" ucap Lintang sembari mengetuk pintu kamar Yakira, terdengar suara keributan dari dalam. Langkah kaki Yakira sangat terdengar dari luar, gadis itu membuka pintu sembari mengelap keringat.

"Ayo, Kak," seru Yakira, Lintang menggelengkan kepalanya dan menahan rasa kesal.

"Yah, maaf Kak, gue lupa kalau hari ini ada tes masuk universitas. Jangan ngambek gitu dong, Kak," rayu Yakira, walau tidak mempan sama sekali.

Lintang mengacuhkan Yakira, gadis itu kebingungan untuk menghadapi Lintang, ditambah lagi saat perjalanan menuju universitas, Yakira merasa sangat kikuk duduk di samping Lintang.

"Kak Lintang," lirih Yakira.

"Ini gedung buat ujiannya, kalau dari web ujiannya gue liat ruangan lo ada di ujung sebelah kanan lantai 2," kata Lintang tanpa melirik Yakira sedikitpun, gadis itu keluar dari mobil dengan berat hati, ia merasa bersalah karena tidak tepat waktu hari ini.

Selagi menunggu Yakira, Lintang berdiam diri di dalam mobil, ia harap gadis itu tidak berbuat aneh-aneh lagi. Lintang sudah memberi tahu Yakira agar ia tetap berhati-hati di dalam ruang ujian.

***

Dengan waktu ujian yang cukup panjang, Yakira merasa sangat letih, ditambah lagi ia mengingat bahwa Lintang sedang mendiamkan dirinya sedari tadi.

Lintang menunggu Yakira begitu lama, gadis itu belum kunjung kembali dari ruang ujian, sebatang hidungnya pun belum terlihat sama sekali.

Sudah lebih dari 40 menit lebih lambat dari informasi yang diberikan dari web ujian bahwa ujian sudah selesai dan berlangsung sedari tadi. Pemuda itu merasakan hal yang tidak enak di dalam hatinya, ia segera keluar dari mobil dan mencari Yakira.

Lintang bahkan sudah berusaha menghubungi Yakira berulang kali, raut wajahnya memperlihatkan bahwa ia sedikit mengkhawatirkan gadis itu. Lintang ingin rasanya menanyakan pada orang lain, namun ia tahu betul bahwa akan sangat berbahaya jika wajah Yakira terlihat jelas oleh orang lain.

"Dia ini kemana sih?" batin Lintang sembari berdecak kesal. Ia terus menyusuri kampus untuk mencari Yakira namun gadis itu sulit sekali untuk ditemukan.

"Kak Lintang!!!" suara yang sangat familiar itu memanggil nama Lintang, detak jantung yang awalnya terasa terhenti lalu kembali berdetak kencang, pemuda itu segera berlari dan membuat gadis itu masuk ke dalam dekapannya dengan sangat erat.

"IH KAK LINTANG, ICE CREAMNYA?!" jerit Yakira, tanpa Lintang sadari ternyata gadis itu sedang memegang ice cream di kedua tangannya.

Alhasil kemeja Lintang penuh dengan ice cream, apakah tubuh Lintang tidak menggigil? Begitulah kira-kira yang Yakira pikirkan sekarang.

Setelah Lintang tersadar, ia menarik nafas panjang seraya berkata pada Yakira, "Sorry," ucapnya.

"Masa gue harus beli lagi sih, Kak?" decak Yakira.

"Iya enggak sengaja, biar gue beliin lagi," kata Lintang.

"Kak Lintang jangan suka mendadak aneh gitu," protes Yakira, Lintang melirik pada gadis itu ketika ia mau membelikan ice cream yang baru, dengan itu langkah Lintang mendadak terhenti.

"Lo yang kabur Yakira, waktu ujian udah selesai dari 40 menit lalu. Lo aneh karena hal itu, bahkan lo enggak buka handphone sama sekali," jawab Lintang.

"Maaf, Kak. Gue gak sempet lihat jam, dan antreannya juga cukup panjang sampe enggak kepikiran buat buka handphone, takut kehabisan," ucap Yakira.

Setelah perdebatan singkat itu, dan setelah Lintang membelikan ice cream yang baru, kedua insan itu menepi di tempat yang sejuk sembari memakan ice cream sebelum kembali pulang ke rumah.

"Maafin gue ya, Kak," ucap Yakira dengan suara kecil.

Lintang menaikkan sebelah alisnya, dan ia berkata "maaf buat apa lagi?"

"Karena ... gue bangunnya telat tadi. Lo jadi nungguin gue lama, gue gak sengaja," kata Yakira.

"... dan juga, gue minta maaf enggak bilang ke lo dulu buat beli ice cream, gue pikir lo marah banget sama gue, Kak," lanjut Yakira.

"Itu kan udah berlalu, enggak usah dipikirin lagi," ujar Lintang pada Yakira, gadis itu hanya menganggukan kepalanya dan bingung mau berkata apalagi.

"Thanks ya buat ice creamnya," ucap Lintang lagi.

"Apa rasanya enak, Kak?" tanya gadis itu.

"Gue pikir lo tau ini rasa apa," kata Lintang.

"LHO? Jadi gak enak ya?" ucap Yakira merasa bersalah lagi.

Lintang tersenyum simpul, "Enak-Enak aja, enggak perlu sampai panik begitu, Yakira," ucap Lintang.

"Ih Kak Lintang jangan bohong mulu!" tegas Yakira dengan matanya yang hampir keluar itu.

Lintang kali ini benar-benar tidak menahan senyumnya, Yakira termenung melihat pemandangan ini, setelah tadi ia juga sempat kehilangan kesadaran dikarenakan secara mendadak masuk ke dekapan seorang pemuda yang selama ini ia anggap sebagai musuh bebuyutannya dimanapun ia berada.

[To be Confinued]

Langkah RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang