.
.
.21. Aku Obati
Ini bukan mimpi, Lintang kembali ke dalam ruangan sesak dan gemerlap ini. Ruangan yang seakan neraka yang terletak di dunia seumur hidupnya.
"Kamu melakukan kesalahan, kamu perlu membayarnya,"
★★★
Lintang mengantar Yakira ke tempat ice skating, namun ia tidak bisa ikut masuk ke dalam karena satu dan lain hal.
Setidaknya ada Shaka yang bisa menjaga Yakira untuk sementara, Shaka bisa dipercaya, kan?
Sejauh ini, dalam pekerjaannya Lintang tidak pernah mendapatkan goresan sedikit pun.
Hari ini, ia diminta untuk pergi ke tempat yang tak pernah ia harapkan, tempat yang pernah Lintang kunjungi sebelumnya. Entah apa yang terjadi, hanya saja Lintang tidak bisa menolak.
Lintang terpaksa harus meninggalkan Yakira, ia juga tidak menggunakan mobil yang seharusnya untuk mengantar Yakira. Lintang dijemput oleh seseorang.
"Lintang enggak ikut, Kir?" tanya Shaka.
"Katanya kak Lintang mau nunggu di luar aja, apa ayah enggak akan marah ya, Ka? Kalau kak Lintang kayak gini" kata Yakira.
"Enggak lah, kali aja Lintang kayak gitu juga atas izin ayah lo," ucap Shaka agar Yakira tidak khawatir.
Yakira berkata, "Kak Lintang agak aneh, Ka,"
"Aneh kenapa? Lo khawatir banget kayak gitu, suka, ya?" ucap Shaka dengan tatapan tengilnya.
"Enggak! Yang bener aja. Umur gue sama kak Lintang aja beda jauh, ini hanya karena dia selalu bareng sama gue, Ka,"
"Hahaha. Santai aja, jangan panik gitu. Keliatan kan lo suka sama Lintang, gue yakin Lintang gak apa-apa," kata Shaka.
"Gue jujur, tau! Lu kenapa enggak percaya, dasar Shaka aneh," ucap Yakira yang mau mencubit Shaka tetapi justru ia hampir terjatuh dan segera diselamatkan oleh Shaka.
Shaka memegang kedua pergelangan tangan Yakira agar Yakira bisa mengatur keseimbangan tubuhnya.
"Nah kan, makanya jangan bersiasat buruk," ledek Shaka.
"Nyebelin," ujar Yakira, Shaka terkekeh.
Lintang kembali ke lokasi dimana Yakira sedang bermain ice skating, ia menunggu di luar dengan kondisi wajahnya yang babak belur. Darah mengalir dari jidatnya.
"Lintang? Kamu Lintang?" suara itu terdengar tak asing dalam pendengaran Lintang, suara yang sangat sering ia dengar namun sudah lama ia tak mendengarnya.
"Ah, bener ternyata kamu Lintang. Udah lama enggak ketemu," ucap seorang gadis sembari tersenyum simpul.
"Gimana bisa kamu ada di sini?" tanya Lintang.
"Aku baru menyelesaikan pendidikan aku, lalu aku memilih untuk kembali ke sini. Sekarang aku mau ketemu sama seorang temen aku di sini, eh ternyata ada kamu juga,"
"Oh ya, selamat," kata Lintang.
"Terima kasih, Lintang. Kamu, kamu masih terjebak?" tanya gadis itu khawatir, Lintang tak menggubris.
"Dengan keadaan kamu yang kayak gini, siapapun bisa lihat. Kamu bisa jadi pusat perhatian," sambung gadis itu, ia segera mengeluarkan kotak P3K yang sepertinya selalu ia bawa di dalam tas pribadinya.
"Apa kamu enggak pernah berhenti buat bawa kotak P3K?" kata Lintang disela-sela gadis yang berada dihadapannya sedang mencari obat untuk mengobati luka Lintang.
"Entah kenapa, aku selalu ngerasa butuh banget buat bawa ini walau enggak ada yang terluka. Tapi, sekarang berguna, kan?" kata gadis itu mempertahankan senyumnya.
"Ya," jawab Lintang singkat.
"Aku obati, ya," ucap gadis itu.
Gadis itu mengobati luka Lintang dengan telaten dan perlahan, agar Lintang tidak merasakan perih yang mendalam. Sedangkan Lintang tetap diam.
"Kak Lintang!" panggil Yakira, langkah Yakira terhenti melihat Lintang dengan seorang gadis, apalagi dengan keadaan wajah Lintang yang babak belur lalu sedang diobati.
Yakira ingin bertanya namun segan. Gadis yang berada di depannya ini memiliki paras yang sangat rupawan, wajahnya bersinar, penampilannya elegan.
Bagaimana ceritanya Lintang bisa diobati oleh seorang bidadari? Yakira sungguh tidak percaya. Ternyata begini sikap Lintang jika di belakangnya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, gadis itu sudah selesai mengobati luka Lintang dan menutupnya dengan plester.
"Hai, salam kenal! Aku Meira," kata gadis itu mengulurkan tangan kepada Yakira. Yakira membalas uluran tangan Meira, "Aku Yakira, senang bertemu dengan kamu," kata Yakira.
Yakira mendekati Lintang seraya berbisik, "Kak, lo apain perempuan ini? Lo pelet ya?"
Lintang menempeleng kepala Yakira, gadis itu mengusap kepalanya sendiri dan menatap sinis Lintang.
"Kalian ini lucu banget," kata Meira.
Yakira menyenggol lengan Lintang dengan sengaja, "Liat aja lo buat pembalasan gue nanti, Kak,"
"Iya, kan? Mereka seneng ribut," ujar Shaka yang tiba-tiba nimbrung dalam obrolan.
"Sotoy, lo! Jelek tau kalau suka sotoy," cela Yakira.
"Mendadak ucapan lo berubah 180°, Kir. Malu, tuh, sama Meira," ucap Shaka, Yakira mendadak merubah ekspresi wajahnya seakan sudah tidak terjadi apa-apa.
"Aku bercanda aja, lho, Meira. Jangan anggap serius ya," ucap Yakira sok manis, Meira tertawa kecil.
"Hahaha, gak apa-apa. Santai aja kalau sama aku," ucap Meira.
"Kok kamu bisa bantuin si Kak Lintang ini, kamu jangan tutup mata ya, apa kamu kena pelet? Aduh hati-hati, zaman sekarang memang banyak modus," kata Yakira berusaha menyadarkan Meira dari Lintang.
"Eh, jangan salam paham dulu. Aku sama Lintang udah kenal lama, kok. Kebetulan aku juga mau main ice skating di sini, terus ketemu Lintang dan wajahnya udah babak belur begini," kata Meira sembari melirik Lintang.
"Kak Lintang abis dipalak siapa?" ledek Yakira.
"Ini abis digigit semut aja," kata Lintang beralasan.
"MANA ADA DIGIGIT SEMUT SEWAJAH-WAJAH BONYOK, MANA DARAH NGALIR BEGITU!" ucap Yakira emosi.
"Sabar," kata Shaka.
***
TBC
Have a nice day! 🌞

KAMU SEDANG MEMBACA
Langkah Rasa
Genç KurguLangkah Rasa, Semesta dan Yakira Paramitha. (Slow-update). Yakira Paramitha, gadis dengan hidup penuh kekangan yang diberikan oleh ayahnya. Lintang Saghara pun datang dalam kehidupannya menjadi seorang bodyguard pribadi. Sikap Lintang yang sang...