⚠#Warning#⚠ akan membahas agama
Zain,"Wujud, qidam, baqa, mukholafatu, lilhawadisi... Qiyamuhu binafsihi, wahdaniat, qudrat, iradat..."
Siang hari didalam Masjid Agung Demak. Kembar Nusantara sedang belajar dengan paman lain nya, Zain, Personifikasi Kesultanan Banten yang mengajarkan aqoidul iman. Mereka bersama-sama mengikuti lantunan dari suara lembut sang paman. Ketika Zain berhenti, ia akan menjelaskan apa yang sedang ia ajarkan.
Zain,"Nah, tadi adalah sifat wajib Allah. Yang wajib ada 20. Sifat mustahil Allah juga ada 20"
Telinga mendengar penjelasan setiap kata. Sudah dua bulan mereka belajar tentang ilmu-ilmu di agama Islam. Mereka diajarkan mengaji, membaca kitab-kitab lain juga menulis huruf arab. Anehnya, mereka diberitahu tentang syahadat tetapi Zain atau Fatah, personifikasi kesultanan Demak, tidak meminta mereka untuk membaca nya.
Pikiran mereka berakhir setelah Banten selesai menjelaskan dan menutup buku. Banten mengizinkan mereka untuk istirahat. Kroco diambil untuk mereka makan bersama. Beberapa saat kemudian, sang paman kembali membawa jambu air yang banyak.
Fatah,"Assalamualaikum"
Kirana, Dirga,"Waalaikumsalam, Paman!"
Zain,"Waalaikumsalam. Bagaimana keadaan diluar? Apakah mereka menyerang lagi?"
Fatah,"Mereka menyerang beberapa wilayah. Bila sudah sampai sini, kau bawa kabur Dirga dan Kirana. Titipkan mereka di kesulatanan Aceh. Bila tak sempat, kau pertahankan mereka"
Zain mengangguk sedih. Yang Nusantara bisa lakukan adalah bertahan dan melawan para penjajah. Mereka hanya berharap akan ada yang bisa membantu mereka sekarang. Kembar Nusantara mendengar tetapi tak ada yang mereka mengerti. Akan tetapi rasa bahaya dapat mereka rasakan.
Fatah,"Ah ya. Bagaimana dengan pelajaran nya?"
Zain,"Lancar! Mereka sudah bisa mengartikan nya"
Fatah,"Alhamdulillah. Apa ada kesulitan lain, Dirga, Kirana?"
Kirana,"Tidak ada, Paman!"
Dirga,"Paman Zain sudah mengajari kita penuh kesabaran"
Tangan Fatah menepuk lembut kepala kembar Nusantara. Dua paman bersama keponakan nya makan bersama ditengah suasana damai tersebut. Kadang-kadang Kirana akan bercerita bagaimana anak-anak santri ramah pada nya atau Dirga yang bertanya beberapa hal yang kurang ia mengerti.
Masa istirahat berakhir, Dirga dan Kirana kembali pada posisi belajar mereka. Zain sudah duduk didepan bersama Fatah yang membawa kitab asing. Kembar Nusantara sangat kebingungan bahkan Zain pun terlihat sangat terkejut. Fatah pun memberi salah satu kitab pada pria berdarah Sunda disebelahnya.
Zain,"Umm... Raden, ini apa?"
Fatah,"Seperti yang kita ketahui, Dirga dan Kirana adalah perwujudan seluruh tanah Nusantara. Secepatnya, tanah ini akan memiliki beragam suku, budaya, bahasa hingga agama. Mereka memiliki kewajiban untuk memahami semua agama"
Zain,"Eh?! Kau akan mengajarkan agama lain?!"
Fatah,"Bukan seperti itu. Aku hanya akan menjelaskan pemahaman dasar nya. Untuk sisa pelajaran nya, aku percayakan pada pemimpin agama lainnya"
Kedua mata emas saling bertatapan dalam kebingungan. Apakah benar Nusantara menjadi ragam? Tapi melihat banyak bangsa dari benua lain berdatangan kesini hal itu bisa saja terjadi. Ketika hendak membuka kitab-kitab tersebut, beberapa santri yang masih diluar terdiam melihat dua orang asing.
Fatah, yang mengingat daftar kegiatan para santri, menampilkan uratnya lalu menghela napas kasar. Tubuhnya kembali berdiri lalu berjalan ke tengah lapang para santri berkumpul. Pria Jawa itu berdeham, tangan kiri tersimpan di belakang, tangan kanan diangkat keatas dalam keadaan mengepal. Suara lantang selipan amarah tertahan, satu jari diangkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
"Krakatoa"
Fiksi Sejarah"Mereka tak mendengar raungan sakit kalian. Maka biarlah 'kami' yang 'membuat' mereka mendengar" "Peringatan 'kami' akan mereka ingat selama ratusan tahun dan 'kami' pastikan, tak ada satupun yang akan melupakan nya" "Selamanya" . . . Update setiap...
