Pukul 10.20, Kota Serang, Banten, 1880.
Gadis cantik berkulit sawo matang duduk dibawah pohon, menikmati semilir angin yang meniupkan surai hitam nya. Kedua tangan membuka buku "Pustaka Raja Purwa" peninggalan dari sang ayah. Manik emas membaca satu-persatu aksara sangsekerta. Hiruk-pikuk desa menjadi latar belakang musik yang menenangkan.
Ditengah alur yang memanas, kegiatan membaca nya harus terhenti akibat teriakan dari kakak tercinta. Awalnya ia malas dan akan mengabaikan nya tetapi kakak nya itu menyusul lalu mengambil buku paksa. Gadis itu tidak terima atas perlakuan kakak galak nya ini.
Kirana,"Apaan sih, abang?! Balikin buku Kirana!"
Dirga,"Kalau orang memanggil, cepat kebawah! Bukan nya pura-pura tidak mendengar!"
Kirana,"Iyaa tapi balikin dulu buku nya!"
Dirga,"Ck. Cepetan ikut abang. Meneer manggil kita berdua"
Sekarang ia mendengar baik kakak nya. Jika Tiang listrik itu memanggil berarti ada masalah serius. Segera mereka berjalan turun dari saung dan berlari ke kantor Belanda.
—• • •—
. . . . . .
Keheningan panjang melanda kantor super dingin. Mereka masih tidak mengerti kebiasaan Meneer ini yang dimana-mana kantornya pasti akan bersuhu dingin. Meneer didepan masih membelakangi mereka di kursi putar nya sembari merokok juga membaca laporan. Beberapa puluh menit dari mereka dipanggil, baru pria Hollanda itu berbalik dan melempar laporan ke meja. Hal ini sukses membuat kembar Nusantara jengkel tapi untung nya mereka menahan diri.
Kertas laporan diambil. Bahasa nya dalam bahasa Belanda tapi mereka dapat memahami nya sedikit melalui beberapa kosa kata familiar. Setelah membaca, Kirana yang pertama berkomentar.
Kirana,"Jadi ini apa, Meneer?"
Ingin sekali rasanya Willem melompat ke kawah gunung Karang tapi kembali mengingat personifikasi gunung itu tak menyukai dirinya ia urungkan rasa frustasinya. Akhirnya hanya helaan napas panjang dikeluarkan, menyebabkan si kakak dari gadis itu meminta maaf sementara gadis lain hanya menatap polos dalam kebingungan. Willem pun menjelaskan maksud dari data di meja.
Willem,"Salah satu adik kalian bermasalah"
Kirana,"Siapa? Bayu? Bagas? Mereka ngepet lagi?!"
Serempak Dirga dan Willem menepuk jidat frustasi. Apakah Kirana membaca laporan nya dengan benar? Karena lelah, Willem menyuruh Dirga untuk menjelaskan.
Dirga,"Dek, disitu ada ketikan nya"
Kirana,"Uhh...Krakatau?"
Dirga,"Iya"
Kirana,"Ohh... Terus? Kan namanya gunung aktif pasti bermasalah tiap hari"
Willem,"Kau pikir Rakata sama seperti bocah oranje (Mandra) itu?"
Kirana,"Gak sih. Tapi apa yang bermasalah nya?"
Dirga,"Iya, Meneer. Rakata akhir-akhir ini sedang tenang"
Willem,"Orang yang tenang diluar sebenarnya sedang kacau didalam"
Kirana,"Ohh seperti Meneer yang diluar kalem tapi didalam pusing ngurus korupsi sana-sini?"
Willem benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi. Gadis yang ia sukai ini selalu menghimpit nya setiap ada kesempatan. Ditambah wajah polos itu saat mengatakan nya seakan tak ada rasa bersalah. Kesampingkan hal sepet-menyepet, Gunung Krakatau lebih penting untuk dibahas.
Willem,"Tanyakan pada adik kalian apa yang sedang dia rasakan. Usaha kan untuk menenangkan hati nya. Ajak bicara atau apapun"
Dirga,"Mudah. Rakata hanya ingin satu hal"
KAMU SEDANG MEMBACA
"Krakatoa"
Ficción histórica"Mereka tak mendengar raungan sakit kalian. Maka biarlah 'kami' yang 'membuat' mereka mendengar" "Peringatan 'kami' akan mereka ingat selama ratusan tahun dan 'kami' pastikan, tak ada satupun yang akan melupakan nya" "Selamanya" . . . Update setiap...
