Dari Sepasang Matamu

41 10 6
                                    

Siapa pula yang mengira, bahwasanya cara tersuci menyiasati dirimu adalah menjadi malam.

Siapa pula yang mengira, bahwasanya cara tersuci menjadi malam adalah menjadi seutas doa.

Siapa pula yang mengira, bahwasanya cara tersuci menjadi seutas doa adalah menjadi sebutir tanah.

Oh, kasih. Aku telah pungkas menjadi malam, yang menuliskan seutas doa, yang tertiup angin bagai sebutir tanah, yang pada ujungnya adalah wewangian mawar-mawar.

Kasih, yang paling renung
dari mawar-mawar itu, adalah
yang bersemi dalam pandangmu,
yang adalah Firdaus, bagiku.

*****

Pada suatu malam, tepatnya malam ketujuh selepas Abdur dan Laila resmi tercatat sebagai pasangan suami istri dalam catatan sipil negara, Abdur terlihat tengah duduk-duduk santai di teras rumahnya.

Setelah resmi menikah, Abdur memang sempat mengajak diskusi istrinya Laila perihal dimana nantinya mereka berdua akan tinggal untuk sementara waktu sampai Abdur mampu membangunkan sebuah rumah sederhana untuk keluarga kecil mereka. Apakah akan bertempat tinggal di rumahnya, atau di rumah Laila?

Kala itu Abdur sempat berpikiran bahwa Laila mungkin akan lebih memilih untuk tinggal di rumahnya saja. Dengan beberapa perhitungan, diantaranya adalah karena keadaan fisik rumah Laila yang lebih baik dibandingkan dengan keadaan fisik rumah Abdur. Tidak mewah memang, namun terlihat lebih modern ketimbang rumah Abdur yang khas perumahan orang-orang desa yang sederhana.

Hal lain yang turut dipertimbangkan juga adalah letak rumah Laila yang tak begitu jauh dari pusat kota. Sehingga apabila ada sesuatu yang mendesak seperti misal suatu saat ketika Laila hamil dan akan segera melahirkan, mereka berdua tak perlu repot untuk turun gunung. Tinggal keluar sedikit ke jalan raya, kemudian belok kanan sudah ketemu rumah sakit. Karena memang sekitar 200 m dari gapura pintu masuk kompleks rumah Laila terdapat sebuah rumah sakit swasta yang cukup ternama di kota.

Namun, ternyata hal tersebut bukanlah yang dipilih oleh Laila. Ia justru lebih memilih untuk tinggal di rumah Abdur saja yang sederhana di desa. Dengan sebuah alasan singkat, yang membuat Abdur terkagum-kagum pada dirinya.

"Mas, sampean nikulah imam kulo. Ananging kulo nikulah makmume sampean. Teng pundi-pundi nikulah entene makmum nderek imam, sanes imam nderek makmum. Dados kedah kulo ingkang ndereaken sampean, sanes sampean ingkang ndereaken kulo".
"(Mas, kamu itu kan imamku. Sedangkan aku kan makmummu. Dimana-mana itu kan adanya makmum yang mengikuti imam, bukan imam yang mengikuti makmum. Jadi harus aku yang mengikuti kamu bukan kamu yang mengikuti aku)".

"Tapi rumahku di pelosok desa, dek. Sempit pula dan sangat sederhana bangunannya".

"Tak apa, mas. Yang sempit itu kan rumahmu bukan hatimu yang telah jadi rumah bagi cintaku. Dan yang sederhana itu kan bangunannya, bukan pondasi cinta kita berdua yang mengokohkan hal-hal yang tak lagi sederhana, mas".

Cinta adalah rumah, bagi hatimu
yang ingin berteduh.
Sesederhana apa pun bangunannya,
penghuninya adalah hal-hal yang
tak sederhana.

Dan sebab perkataan itulah akhirnya Abdur memutuskan untuk sementara bertempat tinggal di rumahnya yang terletak di desa.

Malam itu cuaca begitu cerah. Tampak di langit sana, bulan telah sampai pada kelahirannya yang sempurna. Bintang-bintang nampak bertebaran bagai mutiara. Angin semilir perlahan menyejukkan udara di sekitar. Suasana terasa begitu hening kala itu. Yang terdengar hanyalah suara lantunan harmoni "krik... krik...," yang didendangkan sekawanan jangkrik di pekarangan.

Shubuh Itu Terbit dari Sepasang MatamuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang