"Tunggu."
"Lepasin."
"Ga bisa kita ngobrol dulu? Apa cuma itu yang pengen kamu bilang ke Kakak?"
"Cuma itu."
"Bohong."
Menghapus air matanya, Yangyang kembali menghirup napas sebanyak mungkin. "Kalaupun aku pengen bilang banyak, aku udah ga ada hak. Kakak harus perhatian ke calon Kakak sendiri. Kak Ten hari ini bilang, kalian berdua habis bahas nikah, kemarin."
"Jadi kamu punya hal yang mau kamu bilang ke Kakak,"
Kun melepas pegangan eratnya, matanya melihat mobil yang di dalamnya terdapat ayah Yangyang, menatapnya tajam.
Melewati Yangyang yang masih bingung apa maksud perkataan mantan pacarnya, ia terkejut saat Kun membungkuk 90 derajat pada ayahnya. Memberi salam setelah tidak bertemu tiga tahun.
"Halo, Om. Saya mau pinjam Yangyang lama, boleh? Ada hal yang harus saya bilang ke dia,"
"Tentang apa?" tanya beliau dingin.
"Tiga tahun perpisahan. Setelah saya selesai, gimana kalau Om ngobrol sama saya?"
"Terserah." Ayah Yangyang memanggil anak semata wayangnya, yang masih terdapat bekas tangisan di sekitar mata cantiknya. "Orang ini," ucapnya menunjuk Kun, "mau ngobrol sama kamu. Karena Ayah pikir bakal panjang, Ayah balik ke hotel ya."
"Kok–Yah????"
Kaca mobil diangkat menutup pandangan Yangyang, dan melaju meninggalkan dirinya.
Serius dia baru saja ditinggal ayahnya? Pertama kali dalam hidupnya?
Melihat Kun yang tersenyum jahil padanya, Yangyang pura-pura melihat pemandangan perumahan yang hanya berisi rumah serta mobil berbagai warna.
"Tahu info kemarin Kakak bahas nikah sama Saebom dari Ten, ya?"
Yangyang mengangguk.
"Lihat sini, dong. Kakak kangen kamu banget tahu? Sampai susah nahan senyum nih, sekarang. Masa mau dicuekin?"
Badannya berbalik, melihat mata Kun yang masih sama, memberinya sihir agar selalu jatuh cinta padanya entah sejauh apa mereka terpisah.
"Masuk dulu, Mama nungguin kamu. Beliau bilang bakal ada tamu yang udah lama ga ketemu. Kukira kolega kerja dia waktu sebelum punya anak, ternyata kamu." Kun kembali menarik tangan Yangyang masuk, tanpa mendengarkan penolakan Yangyang.
Dalam hati.
"Ma, ini Yangyang udah dateng, aku pinjem dulu ya,"
Mamanya yang awalnya tersenyum sumringah, cemberut anak keduanya akan diambil lama oleh anak pertamanya. "Seberapa lama?"
"Selama-lamanya?"
"Yaudah. Yangyang, jaga diri ya."
"Eh? Tapi, Ma, Yangyang–"
"Ya?"
Yangyang mengulum bibir, menggeleng. Membungkuk 45 derajat, ia mengikuti Kun yang sudah menunggunya di gazebo belakang rumah.
Keduanya canggung. Duduk bersisian, mata Yangyang yang masih terlihat sembap, dan Kun susah menahan rasa rindunya. Laki-laki itu benar-benar susah menahan senyumnya, dia terlalu senang.
"Um, Kak,"
"Apa?"
Yangyang menggaruk leher, menunduk. "...gimana kerjaan?"
"Baik. Kamu... udah lulus kuliah?"
"Udah. Bulan kemarin."
Hening.
Lima menit hanya diam tanpa mengatakan satu patah katapun, Yangyang memutuskan untuk mengatakan isi hatinya.
"Kenapa berhentiin aku tadi? Aku kesini cuma buat perpisahan kok,"
"Tanpa ngobrol sama sekali? Tiga tahun kita ga ketemu, masa sekali ketemu cuma buat perpisahan?"
"Dua tahun lalu, waktu Kakak sumpah dokter, aku dateng."
Kun yang sibuk merapikan rambutnya terhenti. Laki-laki itu menutup keinginannya bertanya, saat Yangyang melihat dirinya dengan tatapan kecewa.
"Dan aku udah siapin kejutan sejak Kakak masih di rumahnya Kak Ten dulu. Aku lihat Kakak gendong dia, dan berangkat bareng Kakak."
"Kenapa ga bilang kalau pulang waktu itu?"
"Karena ga perlu lagi? Kan Kakak udah seneng-seneng sama Kak Ten?"
"Sebelum itu, Yangyang. Sebelum persiapan sumpah dokter,"
Yangyang mendongak, menatap langit sembari tersenyum miris. "Semenjak aku ke luar negeri buat pemulihan kaki, hidupku nggak semenyenangkan kayak yang aku bayangkan.
Dilarang sering keluar rumah, ga boleh main habis kuliah, dan sekalinya aku ngelanggar atau ngelawan orangtuaku, aku bakal dikurung dan diawasi ketat.
Jenuh hidup ga berwarna karena ga ada Kakak, aku putusin balik ke sini dan sekalian ngasih kejutan di hari Kakak resmi jadi dokter. Dan ternyata, aku lihat Kakak gendong Kak Ten."
"Maaf."
"Terus, setelah dua tahun berjuang biar lulus lebih cepet, Kakak ngobrol sama Kak Saebom—yang aku ga tahu kalian kenal darimana—bahas pernikahan. Waktu aku kasih keputusan terakhirku milih bener-bener pisah, aku malah ditahan kayak gini. Haha, lucu."
Sekarang, Yangyang membalikkan badan menjadi membelakangi Kun. Dia ingin menangis lagi, pergi sejauh mungkin, menjauh dari laki-laki yang duduk terdiam di sampingnya.
Saat perasaanmu sedang kacau di atas keputusan yang bulat, rasanya sangat menyakitkan.
Tangannya meraih badan kecil Yangyang, memeluk dari belakang. "Ini pelukan pertama, karena yang sebelumnya kamu anggap pelukan terakhir."
Kun menikmati pelukan itu, meletakkan kenyamanan dan rasa sayangnya dalam pelukan. Bau parfum Yangyang masih sama, masih menjadi favoritnya.
"Boleh Kakak cerita di pihak Kakak juga? Habis itu, kita pikir bareng apakah emang harus pisah, atau nikah."
Yang dipeluk hanya mengulum bibir, dia tidak bisa mengetahui apa perasaannya sekarang.
Mendengarkan cerita panjang Kun tentang mereka mulai tidak bisa bersama karena tidak ada restu dari ayah Yangyang, hingga Kun merasa bosan dan lelah bertahan di perasaan semu yang tidak bisa dia hilangkan begitu saja.
Mereka memang membahas tiga tahun perpisahan. Tidak ada tambahan, namun penawaran.
"Gimana kalau kita mulai lagi, dari awal?"
"Dari?"
"Pendekatan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Good Old Days - KunYang
Fanfiction[ Sequel Hands on Me ] "Good old days ya," "Ya." © crusshiepie , 2022
