Note: Chapter ini khusus untuk Olin & Rengga.
"Olin, ada Rengga, tuh."
Begitulah kata sang mama beberapa menit yang lalu. Kata-kata yang membuat Olin jadi kembali semangat setelah sebelumnya mengira bahwa weekend-nya akan terlewati hanya dengan aktivitas guling-guling di kasur.
Cewek bermata sipit itu, kini sudah tampil cantik. Rambutnya yang panjang dan berwarna kecoklatan digerai. Sisi kanan dan kirinya terdapat jepit yang menjaga agar helai rambutnya tidak menjuntai. Lalu, wajah ovalnya sudah terpoles make up yang sangat cocok dengan warna kulitnya.
Olin berdiri di depan cermin. Ia menyahut tas kecil yang ada di atas meja, lalu berpose sekali lagi.
"Oke. Udah cantik," pujinya pada diri sendiri.
Hari ini Olin memakai rok jeans beberapa senti di atas lutut dan dipadukan dengan crop top berwarna putih yang juga dibalut jaket jeans. Penampilan Olin terlihat kental dengan kesan girl crush.
Puas berpose di depan cermin ia pun bergegas turun ke lantai 1. Tak ingin membuat Rengga lebih lama menunggu.
Saat tiba di tengah-tengah anak tangga Olin dapat melihat sosok Rengga yang sedang mengobrol dengan mamanya. Cowok itu terlihat sangat sopan dan tidak pernah melunturkan senyumnya. Matanya juga sesekali menyipit karena rekahan senyumnya.
"Olin? Kenapa masih di situ?"
Lamunan Olin buyar begitu saja. Teguran sang mama tentu yang jadi penyebabnya.
Olin bergegas turun, lalu berdiri di samping Rengga.
"Tante, Rengga minta izin ajak Olin jalan-jalan sebentar, ya," pinta Rengga.
Wanita usia akhir 30-an itu tersenyum lembut. "Iya. Lama juga nggak apa-apa. Asal dipulangin dalam keadaan utuh dan masih bernyawa," kelakar Hera, mama Olin.
"Mama!" rengek Olin.
"Kalo gitu kita pamit dulu, Tante."
Hera menganggukkan wajah dan mengabaikan raut cemberut putri tunggalnya itu. Ia bahkan mengibaskan tangan beberapa kali. Seolah mengusir Rengga dan Olin.
Sepasang kekasih itu pun bergegas keluar. Mereka berjalan berdampingan menuju mobil Rengga yang terparkir di halaman.
"Tumben banget ngajak jalan. Emang nggak lagi sibuk?" tanya Olin.
"Nggak. Hari ini jadwal gue kosong," jawab Rengga.
Olin tiba di depan mobil Rengga. Ia diam dan memperhatikan Rengga yang terus berjalan hingga akhirnya memasuki mobil. Sementara dirinya masih mematung di depan pintu.
Dengusan pelan terdengar dari Olin. Tampak jelas kini ia sedang menahan kesal karena Rengga yang selalu bersikap acuh tak acuh. Padahal, tadi ia sangat berharap Rengga akan membukakan pintu mobil untuknya.
"Dasar nyebelin," desis Olin, lalu masuk ke dalam mobil.
Cewek itu memasang seatbelt dengan gerakan yang terkesan serampangan. Sejenak, membuat Rengga sedikit heran. Namun, tak sampai membuat cowok itu berniat untuk bertanya.
"Kita mau jalan-jalan ke mana?" tanya Olin.
"Ke mal aja, ya. Sekalian gue mau beli buku," jawab Rengga.
"Oke."
Hidup Rengga memang tidak jauh dari buku dan buku. Harusnya Olin mengingatnya dengan baik.
Mobil akhirnya melaju dengan kecepatan sedang. Keheningan pun menyapa dan tanpa sadar membangun tembok pembatas antara Rengga dan Olin. Rengga terlihat fokus menyetir dan Olin sibuk meredam kekesalannya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Yang pasti sejak jadi pacar Rengga, cewek itu lebih sering memendam kekesalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Possesive Playboy
Novela JuvenilNareshta Ravaleon Arkana, si tampan populer di SMA Ganesha. Playboy sejati yang tak pernah kehabisan daftar nama cewek untuk ditaklukkan. Baginya, cinta adalah permainan dan perempuan hanyalah selingan. Semua bisa datang dan pergi ... kecuali satu...
