Sudah seminggu Lice meninggalkan rumah tepatnya bukan meninggalkan tapi diusir secara halus oleh ratu Jennie yg tentu saja semua itu karena kebodohan Lice sendiri.
"mommy..."
"iya Ella sayang kenapa hum"
"Ella bosan"
"Ella bosan dipeluk mommy" Jennie mendongakan wajahnya menatap Ella.
"no bukan itu maksudnya"
"lalu apa sayang" sebelum menjawab Ella menghembuskan nafasnya menatap lekat mommy tercintanya.
"Ella bosan melihat mommy yg seperti sekarang" Jennie mengerutkan dahinya masih menatap Ella.
"apa yg kamu lihat memangnya"
"Ella tau mommy sangat rindu daddy kan tapi..."
"tapi apa sayang"
"tapi mommy masih marah sama daddy" mendengar itu Jennie malah makin erat memeluk Ella belum lagi wajahnya ia tempelkan pada leher Ella menghirup wanginya yg Jennie rasa mirip dengan Lice.
"mommy jangan hisap leher Ella, karena Ella bukan daddy" mendengar itu Jennie langsung tertawa lalu berpikir darimana anaknya tau hal hal seperti itu.
"jadi menurut Ella sekarang mommy harus melakukan apa" tanya nya dengan muka cemberut meminta pendapat Ella dan melihat itu Ella kembali menghela nafas seraya mengusap pipi Jennie dengan lembut penuh kasih sayang.
"panggil daddy pulang dan apa yg mommy rasain sekarang semuanya akan hilang" nasehat seorang balita pada mommy nya yg langsung membuat Jennie terkekeh. Terkadang Jennie heran dengan sikap Ella yg bisa mengimbangi pemikiran orang dewasa seperti halnya sekarang.
"baiklah, akan mommy pikirkan" Ella memutar malas matanya sementara Jennie ia puas sekali melihat Ella yg sama persis seperti dirinya saat melakukan itu.
"hei dari mana kau bisa melakukan itu hum"
"ck tentu saja dari Jennie Manoban apa kau lupa aku ini anakmu. Satu-satunya anak kesayangan Jennie Kim dan Lalice Manoban"
"tapi bukannya Ella tidak senang jika daddy menempel terus pada mommy" Jennie kembali memeluk Ella membenamkan wajahnya dileher Ella.
"i'ts okay mom kali ini Ella akan membiarkan itu terjadi selama mommy bahagia karena Ella tau kebahagian mommy akan lengkap jika daddy bersama kita ya walaupun Ella tau dihati mommy tetap Ella yg nomor 1 dan jangan coba-coba mommy menjadikan daddy di posisi kesatu" meledaklah tawa Jennie mendengar apa yg Ella katakan barusan. Jennie bersyukur memiliki anak seperti Ella diantara dirinya dan Lice.
"gomawo sayang" Jennie mencium kilat bibir Ella kemudian kembali memeluknya. Ella tersenyum mengusap punggung Jennie yg berada dipelukannya.
Sementara ditempat yg lain
"jika tidak ada hal yg penting maka kau akan mati saat ini juga ditanganku karena kau sudah mengganggu waktu berhargaku untuk menemuimu" Irene yg mendengar itupun hanya memutar malas matanya lalu menutup pintu apartemen nya setelah Jiwon masuk melewatinya.
Jiwon sudah duduk cantik kemudian tak lama Irene pun duduk di sofa yg berhadapan dengan Jiwon.
"apa kau amnesia atau apa Jiwon-aah"
"apa yg kau bicarakan"
"kau lupa seminggu yg lalu tepatnya dini hari kau datang ke apartemenku membawa orang gila bersamamu dan setelah itu kau tak pernah datang seolah kau hanya menitipkannya saja padaku? Begitukah Jiwon-aah ck sulit dipercaya"
"tunggu.. Dia sudah gila? Benarkah Irene?" Irene tak menjawab dia berusaha menahan emosinya pada orang yg berada tepat di depannya saat ini.
"dimana si gila itu Irene" Irene menunjuk pintu kamar tamu yg ada di apartemen nya dan tak menunggu waktu lama Jiwon langsung beranjak menuju kamar yg dimaksud.
KAMU SEDANG MEMBACA
Delusi (season 2)
RomanceBingung bikin deskripsi nya yg pasti buat kalian yg baru baca cerita ini lebih baik baca dulu Delusi season 1 nya biar kalian faham dengan isi ceritanya. selamat membaca semoga suka dengan ceritanya.
