Chapter 16

26 3 13
                                        

Pagi ini aku tetap memutuskan berangkat kerja meski dengan wajah yang penuh dengan memar karena kupikir akhir-akhir ini pekerjaan banyak sekali, aku tidak mungkin membiarkan Cinta bekerja sendirian. Aku memutuskan memakai topi dan masker untuk menutupi memar di wajahku.

Aku keluar kamar menuju ruang makan. Sejak ada Jona hyung dan noona, ritual sarapan menjadi penting. Bahkan aku akan kena omel jika tidak sarapan bersama.

" Aidan? Kamu katanya semalam di kantor polisi?" Tanya appa begitu aku sampai di ruang makan.

" Loe kenapa pakai topi sama masker?" Tanya Jona hyung yang membuat semuanya menoleh ke arahku.

Aku melepas topi dan maskerku. Semua orang terkejut melihatku.

" Loe kenapa babak belur gitu?" Tanya Jessica khawatir. Dia bahkan sampai berdiri dari duduknya.

" Keep calm noona. Sit down please." Ujarku yang kemudian di turutinya.

" Kamu kenapa Aidan?" Tanya appa.

" Loe masuk kantor polisi jangan-jangan gara-gara tawuran? Atau penganiayaan?" Jona hyung main asal tuduh.

" Hyung? Loe tahu gue bukan orang yang se anarkis itu." Protesku tak terima kemudian menarik kursi di sebelah kanan appa.

" Terus itu kenapa?" Tanya Appa sekali lagi.

" Semalem Aidan nolongin Renata appa."

" MWO?" Jessica terkejut kemudian menjadi marah.

" Loe kenapa nolongin dia? Loe kan janji engga akan nolongin dia. Jadi loe di kantor polisi gara-gara cewe gatel itu? Ahh mana semalem gue pasrahin loe sama Cinta lagi. Bego banget sih gue, Cinta pasti sakit hati." Omel Jessica dengan makanan di dalam mulutnya.

" Sttt. Jessi mulut penuh jangan ngomong nanti kesedak. Kasian cucu appa." Tegur Appa pada Jessi.

" Ah maaf appa. Soalnya Jessi kesel sama Aidan. Jessi juga jadi engga enak ke Cinta soalnya dia yang urusin semua urusan di kantor polisi." Jawab Jessica.

" Sabar sayang. Jangan kebanyakan ngomel nanti baby Kim kaget." Ucap Jona hyung mengusap perut Jessi dengan satu tangan dan tangan lainnya mengusap punggung Jessi.

" Gue bukannya engga mau nepatin janji noona. Tapi keadaan Rena emang mengharuskan gue nolongin dia. Dia hampir di perkosa sama mantannya itu. Untung gue memutuskan buat bantuin dia, kalo engga kan kasian dia."

" Diperkosa?" Tanya appa.

" Iya appa, itu makanya kenapa muka Aidan babak belur. Aidan sama pelaku terlibat baku hantam." Jawabku.

" Terus Cinta gimana?" Tanya Jessica yang entah kenapa selalu membela Cinta.

" Loe harusnya tanya keadaan gue kali noona bukannya tanya keadaan Cinta duluan." Protesku.

" Ya gue kan tahu loe engga kenapa napa,  kenapa harus gue tanyain lagi? Tapi Cinta? Dia pasti sakit hati sama loe kan?"

" Cinta engga sependek itu sih pikirannya. Dia mengerti keadaan. Gue juga udah minta maaf sama dia." Jawabku.

" Ah gue udah kangen sama Cinta. Entah kenapa gue suka banget lihat Cinta. Apa baby Kim suka sama calon aunty nya ya?" Tanya Jessi pada Jona hyung.

" Mungkin." Jawab Jona hyung kemudian menyuapi Jessi makan.

" Kalau gitu kamu berangkat sama Appa saja Aidan, jangan nyetir sendiri." Ucap Appa.

" Kenapa? Kan yg lebam cuma wajah, bukan tangan. Aidan masih bisa nyetir kok."

" Sudah engga usah membantah." Ucap appa.

Akhirnya aku menyerah dan berangkat bersama Appa.

***

BUKAN CINTA IMPIANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang