Chapter 17

20 3 16
                                        

Cinta POV

Seharian ini aku tidak bersemangat kerja sama sekali. Setelah menelpon Aidan siang tadi, moodku jadi berantakan. Tidak biasanya aku seperti ini. Biasanya seburuk apapun moodku, aku masih bisa memiliki semangat kerja. Berkali-kali aku menoleh pada meja kerja Aidan namun justru rasa kecewa yang muncul saat mendapati meja kerjanya kosong.

Pun saat jam makan siang, biasanya anak itu bawel sekali mengajakku makan bahkan sampai menyuapiku jika aku terlalu fokus pada pekerjaanku. Sebentar-sebentar mendekatiku, menggombali bahkan sampai membuatku gugup. Ah kenapa aku merindukan keberadaan Aidan yah?

Sampai jam pulang kerja seperti ini bahkan satu pesan pun tidak ada dari Aidan. Berulang kali aku ingin mengirimkan pesan lebih dulu menanyakan keberadaannya karena aku ingin sekali menyusulnya, tapi gengsiku terlalu besar untuk bisa menepis keinginan itu. Sebenarnya bukan gengsi sih, lebih tepatnya aku tidak tahu jenis perasaan apa yang kurasakan pada Aidan ini. Suka kah? Atau hanya rasa nyaman karena aku sudah terbiasa bersama dia?

Ting.

Sebuah pesan masuk di ponselku. Aku segera membukanya berharap pesan itu dari Aidan tapi aku kecewa saat melihat nama yang tertera di layar adalah Rama. Seharusnya aku tidak kecewa kan? Karena ini pesan dari Rama, pria yang masih kusukai sampai sekarang. Tapi entah kenapa aku tetap kecewa. Ah mungkin karena aku memang sedang menunggu pesan Aidan dari siang jadi aku kecewa saat ada pesan yang masuk dan itu bukan dari orang yang kupikirkan.

* Cinta? Kamu pulang jam berapa? Aku gabut di apartemen.

* Ini lagi siap-siap pulang.

* Berapa lama perjalanannya?

* Sekitar 45 menit.

* Oke. Beliin aku makanan yah?

* Iya bawel.

* Thank you 😉

Aku bersiap-siap pulang. Ku bereskan meja kerja dan mematikan komputer. Aku berdiri dan mengambil tasku kemudian merapikan rokku yang agak terangkat sedikit karena duduk tadi.

Tok. Tok. Tok

" Siapa?" Tanyaku ketika mendengar ketukan pintu di jam pulang kerja seperti ini. Ah alamat lembur pasti ini.

Seseorang menyembul dari balik pintu.

" Ah sajangnim. Ada apa?" Ujarku terkejut karena ternyata sajangnim yang datang.

" Boleh saya masuk?"

" Tentu saja." Ujarku mempersilahkan beliau masuk.

" Jadi Aidan kemana Cinta? Appa tanya Jonathan sama Jessica, Aidan engga pulang ke rumah." Tanya sajangnim untuk kedua kalinya setelah tadi siang juga bertanya di mana keberadaan Aidan. Haruskah aku jujur bahwa aku tidak tahu keberadaannya dan hanya tahu bahwa dia pergi dengan Renata?

" Cinta juga kirim pesan belum di jawab sajangnim, eh appa." Jawabku bohong.

" Coba kamu telepon Aidan, Cinta." Perintah appa.

Aku terkejut mendengar permintaan appa. Bagaimana tidak, berarti ini artinya bahwa aku harus menghubunginya sekali lagi kan?

Aku mengambil ponsel dan dengan ragu menghubungi Aidan.

" Eoh? Ada apa lagi?" Ucapnya dingin di ujung sana.

" Appa nanyain kamu ada dimana?"

Aku bahkan merubah panggilan loe menjadi kamu. Padahal biasanya meski di depan keluarganya aku akan tetap menggunakan kata "loe".

" Sekarang pakai aku kamu? Bukan loe gue lagi? Maksud loe apa sih? Loe mau mempermainkan hati gue hah?" Ucapan Aidan terdengar kasar sampai bahkan rasanya aku ingin menangis tapi ku tahan karena ada sajangnim di sini.

BUKAN CINTA IMPIANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang