Indira baru saja selesai mencuci piring ketika ketukan di pintu membuatnya menghentikan gerakannya. Tangan yang masih dia usapkan ke handuk kecil di bawah tempat cuci piring. Indira tak yakin dia memiliki teman dekat di sini. Selama tinggal di rumah ini, tak banyak tetangga yang dia kunjungi. Dia terlalu sibuk dengan usaha dan juga suaminya.
Siapa pun itu, Indira tak mau menduga. Sudut kepalanya meneriakkan sosok Yasa yang ingin bertemu. Tapi Indira tak ingin berharap. Ah, dia memang sudah lelah berharap.
Perlahan kakinya melangkah. Dia tak ingin tergesa atau diburu waktu. Biar kan saja tamunya berdiri sampai pegal. Tidak sopan bertamu malam-malam di rumah seorang janda. Indira meringis menyadari statusnya, bergegas dia membelokkan langkah menuju kamar dan menyambar jaket Uti untuk menutupi tubuhnya yang hanya berbalut piyama selutut.
Ketukan di pintu semakin tak sabar. Indira tak peduli, dia tetap melangkah dengan pelan. Sangat pelan. Keningnya semakin berkerut ketika menemukan siapa sosok di balik pintu.
"Ngapain kamu ke sini?"
Tak ada sambutan hangat sebagai tuan rumah yang baik. Indira tak peduli. Amarahnya seketika tersulut melihat perempuan sahabat mantan suaminya berada di rumahnya.
"Apa begini perlakuanmu terhadap tamu?" Meta tersenyum manis tapi sorot matanya menusuk. Indira tak mau memberinya jalan, terpaksa dia melakukan hal lain. Tangan kirinya mengibaskan rambutnya yang panjang, memamerkan leher jenjang yang penuh noda.
Tak perlu berpikir dua kali bagi Indira untuk menebak noda apa itu. Dadanya masih bergemuruh dan napasnya seketika memburu.
Dengan mudah Meta menyelinap masuk. Dia memanfaatkan kekacauan pikiran mantan istri calon suaminya.
"Rumah ini tak banyak berubah. Sama seperti terakhir kali aku ke sini."
Meta menjelajahi ruang tamu Indira lalu duduk di sofa panjang. Tangannya meraba permukan sofa dengan lembut.
"Sofanya ganti." Tawa Meta meluncur. Dia tak mengerti apa yang dipikirkan Indira, tapi dia senang perempuan itu mengkhawatirkannya.
Indira tentu tahu apa maksud ucapan perempuan bergincu merah yang duduk tak jauh darinya. Mana mungkin dia lupa salah satu kejadian yang membuatnya tak percaya lagi pada Yasa.
Malam itu Indira ketiduran sepulang dari dokter. Antrian yang panjang membuat punggungnya kaku. Kakinya juga pegal karena terlalu bersemangat berbelanja. Dia sudah berencana memberi kejutan pada suaminya sekaligus meminta maaf dengan membuat makanan kesukaan Yasa. Beberapa bulan belakangan hubungan mereka naik turun. Puncaknya selama dua bulanan ini, mereka jarang berbicara. Perasaan Indira yang terlalu sensitif sering kali membuat keduanya bertengkar. Ternyata saat ini dia tengah mengandung buah hati mereka.
Indira melirik jam yang masih menunjukkan pukul sepuluh. Dia sudah memasak makan malam sore tadi sebelum dia tertidur. Kakinya menuruni tangga dengan pelan, senyum tak luput dari wajahnya membayangkan reaksi suaminya.
Kurang dari dua undakan langkahnya terhenti. Senyumnya memudar seiring air mata yang berlinang. Tak jauh di depannya, Yasa membawa Meta kepelukannya. Suaminya itu tengah mengusap lembut punggung Meta, lalu perempuan itu mengangkat wajahnya. Mereka terdiam saling berpandangan, hingga semakin lama bibir Yasa mendekat ke wajah Meta.
Indira menahan isakannya. Dia yakin matanya keliru, tapi decap antara dua bibir yang beradu semakin memperjelas telinganya. Dia tidak salah melihat. Suaminya dan Meta saling mencumbu di sofa ruang tamu. Indira tak sanggup lagi menahan denyut dadanya. Kejutan yang suaminya beri berhasil membuatnya tak sanggup berkata. Indira berlari ke kamar dengan cepat.
"Indira!" Yasa berteriak dan menyusulnya. Tapi lelaki itu kalah cepat, Indira sudah menutup pintu ketika dia tiba di lantai dua. Yasa menggedor pintu kamar mereka. Dia setengah meracau jika apa yang baru saja istrinya lihat hanya lah salah paham. Mereka tak sengaja melakukannya. Dan detik itu Indira tak pernah percaya lagi pada suaminya.
Indira masih bertahan berdiri di dekat pintu, tak sudi berbagi tempat duduk dengan Meta. Bayangan malam itu kembali hadir memenuhi matanya yang berkaca. Dadanya mengembang mengirim udara sebanyak yang ia bisa. Berharap dapat meredakan uap emosi di hati.
Sejak saat itu Meta memang tak pernah menginjakkan kaki di rumah ini. Setahu Indira. Tapi ternyata perempuan itu pandai memanfaatkan kesempatan. Tak bisa di sini, masih bisa di mana saja. Tak terkecuali ruang kerja suaminya.
"Ada apa kamu ke sini?" sebenarnya Indira malas mengobrol dengan perempuan setengah iblis itu. Hanya saja, dia tidak punya pilihan lain. Indira ingin Meta segera pergi dari rumahnya. Kalau perlu dari hidupnya.
Meta mengangkat sebelah kakinya, sengaja memamerkan pahanya yang mulus dan jenjang. "Aku hanya ingin bertemu teman lama. Apa ada yang salah?"
Salah!
Indira menjerit dalam hati.
Dia mengumpulkan udara memenuhi dadanya mencari kekuatan sebelum bersuara.
"Kupikir tak ada istilah teman di antara kita."
Dulu Indira hanya bisa diam dan menangis. Meski berkali-kali Meta menguji kesabarannya, Indira tak pernah mau membalas. Baginya, ini urusannya dengan Yasa. Maka suaminya itu yang harus dia raih kembali.
Sayangnya semua perjuangannya sia-sia.
"Oh, kamu jahat Indira." Meta berdiri dan berjalan mendekati tangga. "Kita pernah berbagi lelaki yang sama. Jadi tak ada salahnya aku menganggap itu sebagai pertemanan. Tapi hari ini kamu menyadarkanku."
Meta tak meneruskan kalimatnya, tangan kanannya membelai pegangan tangga. Membuat dada Indira naik turun menahan amarah yang siap meluap sedikit saja.
"Karena kita tidak berteman, aku tak mau membagi milikku denganmu."
Meta menatapnya penuh kebencian, membuat tubuh Indira merinding. Tapi dia tak mengerti apa yang dimaksud perempuan yang masih mentap lantai dua rumahnya.
"Sebenarnya setelah menikah aku ingin tinggal di rumah ini. Calon suamiku itu terlalu baik padamu. Sampah tak seharusnya dipungut dan diberi kotak kaca."
"Apa katamu?" suara Indira bergetar menahan emosi. Dia tahu akan kalah jika beradu dengan iblis betina di depannya ini. Indira tak menduga Yasa bisa jatuh oleh tipu daya sahabatnya sendiri. Mereka mengenal cukup lama, bahkah jauh sebelum Indira datang ke kehidupannya. Tapi Yasa tak pernah tahu sisi lain Meta. Sungguh malang.
"Ah, lupakan. Berbicara denganmu membuatku lelah. Aku tak sabar menunggu hari pernikahanku. Kamu tahu Indira, apa rencana bulan madu yang ingin kami lakukan?"
Gelengan Indira membuat Meta semakin melebarkan senyum.
Indira tak peduli dan tak ingin tahu. Itu bukan urusannya.
"Aku ingin menghabiskan malam pertama di rumah ini. Di bekas kamar kalian."
Indira melebarkan matanya. Mereka sudah keterlaluan. Apa-apaan itu?
"Jangan pernah bermimpi kamu."
Meta tertawa sangat keras, seperti dipaksakan dan terdengar tidak enak di telinga Indira. Jarak keduanya semakin dekat, perlahan tapi pasti Meta kini berdiri di depannya.
"Dan kamu juga jangan pernah bermimpi merebut Yasa kembali. Dia milikku. Selamanya." Setelah itu dia pergi. Meninggalkan Indira dengan segudang pertanyaan.
Siapa yang mau merebut?
Indira bahkan tidak sudi berdekatan dengan mantan suaminya. Bgaimana Meta bisa berpikiran seperti itu?
Senyum di wajah Indira seketika terbit. Jika dia belum melakukan apa-apa saja sudah membuat perempuan itu kepanasan. Bagaimana kalau dia membuat kekhawatiran Meta menjadi nyata?
-o0o-
Barangkali ada yang mau ngasih ide tempat honeymoon buat Mbak Meta, silakan.
29 Juni 2022
Peluk erat,
Vita
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
RomansaPertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
