“Kamu enggak ke kedai, Sa?”
Dewi mengintip dari pintu kamar Yasa. Anak sulungnya itu masih betah menggulung diri dengan selimut hijau. Persis seperti kepompong raksasa. Hanya saja yang keluar bukannya kupu-kupu, tapi lelaki dengan wajah awut-awutan.
“Kepala Yasa pusing, Bu.” Yasa menyembulkan separuh wajahnya lalu menutup kembali selimut. Tak dia hiraukan ibunya yang berdiri penuh kecemasan.
“Perlu ke dokter, Sa?”
“Nanti juga sembuh, Bu.”
“Tapi kamu harus ke dokter. Sepertinya kamu kemakan karma. Udah bohongin Meta waktu itu.”
“Bu.” Yasa membuka separuh selimutnya. “Yang bilang ke dokter, kan, Ibu. Ibu saja yang ke dokter.” Yasa kembali menutup selimut.
“Yasa!”
“Ada apa lagi sih, Bu?” Yasa membuka selimut dengan kesal. Dia benar-benar lelah. Dari kemarin dia kurang tidur, sedangkan di kedai ada yang harus dia urus. Ditambah dengan Meta yang terus menempelinya seperti perangko membuatnya tak bisa mencari napas. Insting perempuan selalu kuat, Yasa harus mencari celah agar kekalutannya tak terendus. Dan itu juga ternyata menguras tenaganya.
“Ya sudah, Ibu buatkan air jahe anget, ya?” Dewi menutup pintu ketika Yasa hanya mentapnya pasrah. Meski sudah pernah menikah, di matanya Yasa masih seperti bocah yang baru kemarin dia lahirkan. Inilah yang dirasakan seorang ibu ketika melihat anaknya dewasa. Baginya, mereka tetaplah anak-anak.
Setelah Dewi pergi, Yasa tak lagi menutup selimutnya. Matanya lurus menatap langit-langit. Sudah dua hari berlalu tapi bayangan Indira belum menghilang dari kepalanya. Sosoknya justru menguat di ingatan, seperti hantu yang menghantui hari-harinya.
Tak sampai lima belas menit, Dewi menerobos masuk. Segelas wedang jahe di tangan kanan dan sepiring bakwan sayur yang masih mengepul di tangan kirinya.
“Buruan dimakan, mumpung masih anget.” Dewi meletakkan gelas berukuran besar itu di nakas. Sedangkan piring berisi bakwan dia letakkan tepat di dada Yasa. Seperti disengaja agar aromanya langsung menuju hidung dan memancing gairah untuk bangun.
Yasa tak bisa menolak sajian nikmat di hadapannya. Bakwan sayur yang masih hangat adalah kudapan favoritnya, sayang sekali tak ada sambal petis sebagai pelengkap. Seperti hidupnya, kurang lengkap karena belum ada istri. Yasa menepis isi kepalanya. Bisa-bisanya dia menghubungkan bakwan dan istri.
Aroma gurih membangkitkan rasa lapar. Satu potong bakwan berukuran kecil ludes seketika. Menyambung ke potongan kedua dan berikutnya. Melupakan Dewi yang masih berdiri di dekat ranjangnya.
“Nah, habis makan buruan mandi. Nanti Ibu siapkan air hangat.”
“Enggak usah, Bu. Ibu lanjut aja di bawah. Habis ini aku mandi. Pasti.”
Dewi menatap Yasa yang masih sibuk mengunyah, dia menarik napas panjang sebelum akhirnya berbalik. Bayinya tak lagi bayi tapi masih seperti bayi.
-o0o-
Hanya ada seekor ayam kampung yang sudah dipotong-potong di dalam freezer. Indira merenung sesaat lalu beralih ke kulkas bawah. Ada beberapa rempah yang masih bagus. Segera dia mengeluarkan bahan-bahan yang dibutuhkan dan menyiapkan bumbu.
Potongan ayam itu dia rendam dengan air mengalir. Sementara tangannya sibuk mengupas bawang dan kunyit, juga bumbu lainnya. Setelah mencuci dan memotongnya menjadi lebih kecil, Indira menumisnya sebentar. Matanya melirik ayam yang sudah mulai mencair. Segera dia memanaskan air di dalam panci berukuran sedang. Sambil menunggu air mendidih, Indira menghaluskan bumbu dan menumisnya kembali.
Rencana Indira untuk tetap sibuk selama dua hari ini terlaksana sudah. Sepanci soto ayam lengkap dengan sambal, bawang goreng, irisan daun bawang dan seledri juga jeruk nipis siap dihidangkan. Tapi begitu masakannya matang, dia justru kebingungan. Siapa yang akan menghabiskan semua ini?
Keningnya berkerut, tangannya mendekap dada dengan satu tangan di dagu. Sebuah ide melintas di benaknya, tapi Indira justru ragu.
“Tak ada salahnya mencoba.” Putusnya setelah lama berpikir.
Satu jam kemudian dia tiba di depan sebuah rumah yang cukup besar. Penampilan dari luar masih sama seperti dulu, hanya semakin bertambah rimbun. Indira meneguk ludahnya berulang kali, menoleh pada rantang di tangan kanan dan rumah di depannya bergantian.
“Sudah terlanjur di sini. Terlambat untuk mundur.” Indira menyemangati dirinya. Dia melangkah pelan memencet bel. Lama tak ada jawaban dia mengulangi kembali. Terdengar langkah seseorang mendekat. Indira segera memasang senyum terbaiknya.
“Indira?”
“Kamu?”
-o0o-
“Kamu itu, Sa. Udah gede mbok ya diilangin itu bau bantalnya. Ini sudah siang, loh. Mau sampai kapan nimbun iler terus?” Omelan Dewi sudah seperti kaset rusak di telinga Yasa. Mondar-mandir dia mendatangi kamar anaknya, hanya untuk memastikan tidak melihat Yasa tergeletak di kasurnya.
“Bu, Yasa ini bos. Bebas mau kerja apa enggak.”
“Memangnya Ibu bilang kamu pengangguran?”
Yasa menghela udara di sekelilingnya dengan lamat-lamat. “Tapi dari ucapan Ibu, mengarah ke sana.”
Dewi tak mau kalah, dia mendekati Yasa yang masih memeluk guling.
“Kalau tahu butuh penenang, ya dicari. Jangan kerja terus-terusan.”
“Nah, makanya sekarang Yasa cuma pengen libur. Sehari saja. Biar enggak capek kerja terus.”
Bibir Dewi terbuka tapi tak ada suara yang keluar. Dia sudah kehabisan kata, Yasa persis seperti dirinya, suka membantah.
“Pokoknya Ibu tunggu di bawah. Anterin beli makan siang. Sekarang. Titik.”
Sabda sang ibu seperti sebuah perintah. Kali ini Yasa tak bisa menolak. Dia ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah menyantap bakwan tadi, dia tak jadi mandi. Perut kenyang telah mengundang kantuknya.
“Lama bener siap-siapnya.” Dewi menatap tubuh Yasa dari atas hingga bawah. “Mentang-mentang single, sekalian tebar pesona dulu, gitu?”
“Bu, mulai, deh, julidnya. Yuk, ah, katanya mau beli makan.” Yasa merangkul pundak Dewi dan menggiringnya menuju pintu.
Suara bel terdengar mengalun. Yasa menoleh pada Dewi. “Paketan Ibu datang, tuh.”
Dewi mengingat-ingat akun belanja yang dia kunjungi belakangan. “Sebentar Ibu ambil ponsel di kamar dulu. Kamu bukain pintu, bayarin sekalian.”
Yasa menepuk keningnya, semenjak ibunya mengenal sistem belanja online, Dewi seringkali membeli sesuatu di sana. Bahkan sekedar pengganjal pintu yang harganya kurang dari lima ribu rupiah.
“Lumayan, mumpung promo.” Selalu menggunakan alasan itu.
Tahu tak lagi bisa membantah dan bel kembali berdering, Yasa akhirnya keluar. Tak ada teriakan khas ‘pakeeeet!’. Membuat Yasa sedikit curiga.
Benar saja. Seseorang yang berdiri di depannya bukan lah Mas-Mas pengirim paket langganan ibunya. Tapi perempuan cantik yang menatapnya dengan mata terbuka lebar.
“Indira?”
“Kamu?”
Dunia di sekeliling mereka seperti terhenti. Bak adegan di sinetron saat dua orang terkejut ketika bertemu lalu kamera akan berputar menyorot tubuh si tokoh bergantian. Mereka seperti dipaksa terdiam untuk diambil gambar terbaik.
“Paket apa, Sa?!” Teriakan Dewi menyadarkan keduanya. Baik Yasa maupun Indira tak segera menjawab.
“Bayarin dulu, ya? Ibu enggak punya uang pas.” Ocehan Dewi belum berhenti bahkan ketika Indira menatap Yasa ingin mencari tahu.
“Loh, Indira? Waduh, ternyata paketan Ibu hari ini spesial.”
-o0o-
31 Juli 2022
Vita
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
RomancePertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
