“Aku sudah selesai.”
Yasa berdiri di ujung pintu dengan memakai kaus hitam dan celana jins pendek. Rambutnya basah tersisir rapi. Wajahnya juga terlihat lebih segar dan harum.
“Oh. Mau kubantu packing sekarang?”
Indira masih berdiri di depan boks bayi. Dia hanya memutar tubuhnya menatap Yasa. Yasa tak menjawab dia memilih masuk ke kamar yang sama.
“Aku seperti merasakan kehadirannya.” Yasa mengusap boks bayi dan menatap Indira yang menunduk.”Apa kamu juga merasakannya?”
Indira mengangguk. “Janu selalu hidup di hatiku. Seberapa kuatnya aku merindukan dia, rinduku tak akan pernah sampai. Rindu ini adalah rindu terlama yang kurasa. Karena rindu ini tak berbatas, tak akan selesai.”
“Kamu benar. Sering dia datang ke mimpiku, mungkin itu caranya menerima rinduku.”
“Kamu mimpi Janu?” Indira menoleh cepat. Memastikan tak ada kebohongan di wajah mantan suami.
“Iya. Cukup sering.” Yasa mengangguk memastikan jawabannya. “Kenapa kamu menatapku seperti itu?”
Air mata Indira menggenang di pelupuk. Dia mengalihkan matanya dari Yasa dan mentap boks bayi kembali.
“Aku belum pernah bermimpi tentangnya. Kenapa di tak pernah datang? Kenapa justru memilihmu?”
“Mungkin dia tahu, ayahnya sudah melepasnya dengan ikhlas.”
Indira tak suka dengan jawaban Yasa.
“Ndi, aku tahu ini tak mudah. Tapi melepas Janu sudah kewajiban kita. Jangan terlalu membebaninya dengan kesedihan yang tak kunjung usai. Aku yakin dia akan datang padamu suatu saat nanti kalau kamu sudah benar-benar bisa melepasnya.”
Indira tak menyahut. Dia menunduk dan terdiam cukup lama.
“Aku tak tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi aku akan mencoba. Kamu benar, aku masih membawanya ke mana-mana.” Indira menatap Yasa dan tersenyum. “Ayo ke kamar sebelah. Aku bantu beres-beres.”
“Ndi,”
“Ya?”
“Sebenarnya aku sengaja meninggalkan semua pakaianku di sini. Kupikir waktu itu kamu tak serius meminta bercerai.”
“Aku tahu.”
Yasa menatap Indira tak percaya. “Bagaimana kamu tahu?”
“Karena kamu bukan orang pelupa. Dan sekarang karena kita sudah bercerai, alangkah baiknya semua pakaianmu kamu bawa pulang. Aku tidak mau menyimpan kenanganmu terlalu banyak. Rumah ini sudah menceritakan banyak hal."
Yasa tak menyahut dan berjalan keluar kamar mendahului Indira. Lalu masuk ke kamar mereka. Dia membuka lemari pakaian dan melihat tumpukan pakaiannya masih tertata rapi di sana. Yasa mengeluarkan setumpuk demi setumpuk. Meski masih terlihat rapi, tapi pakaian yang lama terpendam tanpa adanya peralihan udara memberikan aroma yang khas.
Setelah berhasil mengeluarkan beberapa tumpukan pakaiannya, Yasa baru menyadari keberadaan Indira.
“Katanya mau membantu. Kenapa hanya berdiri saja?”
“Aku hanya bantu menemani. Kenapa?”
Yasa hanya bisa menarik napas panjang. “Tidak apa-apa.”
Indira mendekap tangannya. “Masih butuh bantuanku?” Tak ada ekpresi di wajahnya. Yasa menatapnya sekilas lalu kembali sibuk dengan pakaiannya.
“Ada karton bekas?”
Indira menggeleng.
“Kalau begitu, kresek besar.”
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
RomancePertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
