Rencana Indira benar-benar berantakan. Dia tak bisa leluasa bercengkerama dengan anak-anak panti karena kedua orang tua Yasa terus mengekorinya. Seharusnya mereka mencerca anaknya, bukan dirinya yang kini hanya sebatas orang luar.
"Kamu kapan main ke rumah? Ibu kangen sama masakan kamu." Dewi membantu Indira membagikan mini tart pada anak-anak. Lelah yang sempat mampir tak lagi terasa karena pertemuan tak terduga dengan Indira serasa obat.
"Indi juga kangen masakan Ibu." Indira membagikan kotak terakhir di tangannya, dia tersenyum pada anak paling besar yang mengantri paling akhir. "Apa Yessi masih belum pulang, Bu?"
"Dia sedang hamil besar, enggak bisa pulang dalam waktu dekat."
Sosok perempuan berambut pendek yang pertama kali dia temui di rumah Yasa, melintas di kepala Indira. Dia Yessi, adik Yasa satu-satunya, usia mereka terpaut lima tahun. Yessi memang dekat dengan kakaknya, tapi sejak bertemu Indira dia berubah haluan mendekati Indira karena seumuran.
Dua tahun setelah pernikahannya, Yessi akhirnya menikah juga. Dia dipinang oleh lelaki Inggris yang tak sengaja bertemu saat berlibur di Bali. Mengingat itu, Indira tersenyum. Dia tahu bagaimana perjuangan Yessi ldr selama setahun sebelum akhirnya resmi menjadi Nyonya Ryder.
Hati Indira turut menghangat mendengar kabar baik ini. Tak lama lagi di rumah Dewi akan diramaikan celoteh anak kecil. Meski ini kabar bahagia, hatinya seperti dicubit. Jika takdir bisa diubah, Janu lah yang akan meramaikan rumah itu.
Ini bukan perkara cucu pertama. Kehilangan anak yang sangat dia nantikan seperti membuat orang-orang di sekelilingnya yang hamil atau memiliki bayi, salah di matanya.
Dia iri.
Dan perasaan ini tak bisa dia usir.
Dia seharusnya juga menjadi Ibu.
"Bu, ayo pulang? Ayah ada janji dengan Pak Sugeng." Yoga mendekat dan tersenyum ramah pada Indira yang duduk di sebelah istrinya. Sejak tadi, dia tak terlalu banyak bersuara. Semuanya sudah diwakilkan oleh istrinya. Perempuan selalu nomor satu soal berbicara.
"Ah iya, Ibu lupa." Dewi mengambil tangan Indira dan membawanya ke pangkuan. "Indira, kalau ada waktu, main lah ke rumah. Meski pernikahanmu tak bisa diselamatkan, setidaknya jangan rusak silaturrahmi kita. Kamu tetap menjadi putriku." Dewi mengecup kedua pipi Indira dan berdiri mendekati suaminya.
"Indira, Ayah pergi dulu. Jaga kesehatanmu."
"Baik, Yah. Ayah juga. Jangan banyak ngopi, nanti Ibu ngomel kalau Ayah sering begadang."
Tawa mereka bertiga pecah. Hati Dewi dan Yoga menghangat, mantan menantunya masih ingat polemik rahasia keluarga mereka.
Setelah kepergian Dewi dan Yoga, Uti mendekat. Indira tahu sahabatnya butuh penjelasan. Tapi baru saja bibirnya terbuka, sebuah suara berat mengusik konsentrasinya.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Indira menatap Uti meminta pendapat, yang dibalas perempuan itu dengan mengangkat kedua bahunya. Uti semakin mendekat ke sisi wajah Indira dan menutup kedua bibirnya.
"Ikuti saja, siapa tahu dia berubah pikiran mau ngajak rujuk."
Kali ini Indira ingin sekali memukul kepala Uti. Mereka sudah berpisah. Maka tak ada lagi kata bersama. Seperti membaca buku untuk kedua kali, yang akan tahu endingnya seperti apa.
Tapi akhirnya perempuan itu bediri mengikuti tubuh Yasa menuju taman. Pilihan lelaki itu untuk berbicara sesuatu yang mungkin penting di tempat terbuka, sedikit membuat Indira ragu. Jika ini sedikit rahasia, kenapa harus di taman. Mereka bisa berbicara di depan teras yang sepi setelah jam makan siang seperti ini. Setelah makan, anak-anak mendapat jadwal tidur siang.
"Ada apa?" Indira tak ingin terjebak kebisuan lagi.
"Berapa lama kamu tinggal di sini?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Yasa. "Maksudku, apa kamu akan tinggal di sini?"
Aroma melati yang bermekaran sejak pagi masih samar-samar tertangkap oleh Indira. Tak banyak bunga di taman kecil ini, hanya melati, bunga matahari, lidah buaya, bunga kerokot dan tanaman hijau yang Indira tidak menerti namanya.
"Kenapa?"
Mata Indira tak lepas dari kuncup melati yang bergoyang. Bunga yang menjadi simpol pernikahan itu berdiri kokoh seperti mengejek pernikahannya.
"Sudah lama aku tidak melihat senyum Ibu selebar tadi. Kalau kamu ada waktu, datang lah ke rumah. Ibu benar-benar merindukanmu."
Suara Yasa seperti memohon, tapi wajah lelaki itu terlihat datar. Hati kecil Indira berisik, sebenarnya siapa yang merindukannya?
"Aku tidak mau membuat salah paham. Kamu dan dia akan menikah, sudah bukan waktuku melibatkan diri di antara keluargamu."
Indira hanya tak ingin kejadian semalam kembali terjadi. Meta dan segala sifatnya tak bagus untuk kesehatan mentalnya.
"Kamu mengharap yang Ibu katakan padamu, bukan? Aku tahu kamu akan mengabaikan permintaannya. Karena itu secara khusus aku ingin mengundangmu ke rumah. Demi Ibu."
Sebagai anak lelaki satu-satunya dan yang tersisa di sini, Yasa hanya ingin membahagiakan orang tuanya. Luka yang dia beri karena perceraiannya membuat Dewi membatasi pergaulannya. Yasa tahu ibunya malu mendapati anak yang dia banggakan gagal menjaga biduk rumah tangganya.
"Setidaknya, datang lah sekali. Aku janji tidak akan di rumah saat itu."
Demi Dewi, Yasa rela menurunkan egonya.
"Kita sudah sepakat mengakhiri apa pun yang berhubungan dengan kita, kecuali Janu. Aku pikir kamu ingat itu."
"Ndi, aku sudah memohon padamu dengan menjatuhkan harga diriku. Sudah kukatakan aku melakukan ini demi Ibu. Apa itu tak lagi menyentuh hatimu?"
Hatiku sudah lama mati.
Indira tak menjawab. Ucapan terakhir Dewi menari-nari di kepalanya. Hubungan mereka memang sudah berakhir sebagai menantu dan mertua. Tapi Dewi tetap menganggapnya anak. Hati Indira yang terbiasa sepi sedikit menghangat.
"Aku tak mau mengulang sejarah yang sama."
Yang Indira maksud tentu saja merasakan sakit saat melihat Yasa bersama Meta.
"Aku minta maaf, Ndi. Sungguh. Andai kamu mau mendengar penjelasanku-"
"Semuanya sudah terjadi. Tak perlu ada yang disesali."
"Aku sungguh minta maaf padamu."
"Kamu terlalu sering mengatakan itu."
Mungkin Indira bosan dengan ucapan maafnya. Tapi Yasa tak pernah bosan. Demi masa depan mereka bersama, dia harus bisa membuat hatinya lapang dengan melepas beban yang selama ini menghuni dadanya. Begitu pun Indira, Yasa ingin mantan istrinya itu tak lagi merasakan luka sendirian. Indira harus bangkit tanpa bayang-bayang kesakitan.
"Kalau begitu, bisa kah kita berteman?"
"Untuk apa berteman dengan masa lalu?"
"Ndi,"
"Akan aku pikirkan." Indira menyadari sudah terlalu lama dia meninggalkan Uti. Dia berdiri dan menoleh sebelum pergi. "Aku pergi duluan."
Indira berjalan meninggalkan Yasa, tapi langkahnya terhenti kemudian.
"Besok aku ada pengajian untuk Janu di rumah. Datang lah kalau sempat."
Tanpa menoleh lagi perempuan itu berjalan pelan menuju ruangan tempat Uti menunggu. Dia tak tahu kenapa tiba-tiba mengundang Yasa. Senyum tak dapat dia tahan, mengingat bagaimana Yasa memohon padanya.
Jika Ibu saja masih merindukannya, apakah mantan suaminya juga demikian?
-o0o-
Buat teman tidur.
Selamat malam
6 Juli 2022
Vita
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
RomancePertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
