Yasa benar-benar tak menduga Indira berhasil mempermainkannya.
Dia memaki dirinya sendiri yang sudah berani memancing gairah Indira tapi justru terperosok sendirian. Bagaimana wajah ayu itu terlihat terkejut setelah dia menciumnya dengan ganas. Tak ketakutan sama sekali, justru dengan senyum mengejek membalik keadaan. Menekan kuat hasratnya, Yasa pergi begitu saja. Tak peduli Indira terus memanggilnya. Yasa butuh udara bebas untuk menjernihkan pikiran. Bahkan hingga detik ini, gelora itu belum padam.
Indira dan segala pesonanya.
Kenapa baru sekarang perempuan itu semakin menggairahkan?
Yasa mengusap rambutnya frustrasi. Entah apa yang merasukinya. Dia harus istirahat. Siapa tahu besok terbangun lebih baik.
Tiba di rumah, Dewi menunggunya di ruang tamu dengan cemas. Yasa tak jadi menuju kamar, dia mendekati ibunya dan memberi pelukan singkat.
“Kamu dari mana saja? Meta menelepon, katanya kamu tidak enak badan. Tapi kamu enggak pulang-pulang.”
Kentara kekhawatiran Dewi di matanya, wajah tua itu masih terlihat cantik meski termakan usia.
“Meta telpon Ibu?” Tanya Yasa dengan alis berkerut. Sudah terpampang di kepalanya bagaimana calon istrinya itu akan mengamuk.
“Iya. Ibu bilang kamu harus ke dokter makanya belum sampe rumah.”
Yasa menarik napas lega. Ibunya tahu bagaimana harus menjawab agar dia tak lagi mendapat masalah.
“Tapi Ibu tahu kamu nggak ke dokter, kan? Dari mana kamu?”
Tatapan Dewi yang selalu lembut tapi juga mematikan, tak lagi membuat Yasa berniat menutupi apa yang terjadi. Dengan suara pelan dia menceritakan dari mana saja. Kecuali adegan ciuman di kamar mereka. Dia tahu, ada yang boleh dibagikan pada orang lain. Dan ada yang harus disimpan.
“Kenapa enggak ngajak Ibu?” Dewi menggeleng pelan. “Kamu tahu Meta itu cemburuan, harusnya tadi Ibu ikut ke rumah Indira.”
“Memangnya Ibu mau ikut?”
“Pasti, dong, Sa. Indira juga anak Ibu.”
Yasa tak mengerti kenapa ibunya ngotot ingin ikut. Perkara Meta, toh bukan kali ini saja mereka bermasalah. Sejak kecil mereka sudah sering bertengkar, tapi ujung-ujungnya juga selalu berbaikan.
“Ibu tahu kamu anak Ibu. Tapi bukan berarti Ibu akan membenarkan semua kelakuanmu. Kamu yang sudah berbuat, kamu sendiri yang harus menanggung akibatnya. Sedangkan urusan Ibu dengan mantan istrimu, tidak lagi ada sangkut pautnya denganmu. Ibu tidak mendukung Indira sepenuhnya atas sikapnya memilih bercerai, tapi Ibu tetap bisa mengerti dan memahami perasaannya. ”
Dewi menatap Yasa yang menunduk, “Di mata Ibu selingkuh tetap salah. Ayahmu tidak mengajarkan laki-laki menjadi pengecut. Kamu sudah pernah melakukan itu, jangan ulangi kesalahan yang sama. Sudah malam, tidur lah.”
Yasa tak mengeluarkan sepatah kata pun. Bibirnya kelu, suaranya habis. Ibunya benar, dia tak boleh terjerumus ke lembah yang sama. Yasa harus menata lagi hatinya.
Kesalahannya adalah tidak jujur. Tapi sekarang dia sudah memilih akan menghabiskan masa tua bersama Meta. Sebuah kesalahan yang akan dia ubah menjadi kebaikan.
-o0o-
Jantung Indira seperti terlepas dari tubuhnya ketika Yasa menatapnya dengan kabut memenuhi mata. Beruntung dia bisa mengalihkan perhatian lelaki itu dan ingat apa tujuannya mengajak dia ke kamar ini. Walau sebenarnya, rencananya sedikit melenceng karena rasa penasaran. Indira tak menyesal Yasa telah menciumnya.
Dia justru senang, hatinya membuncah. Satu titik harapan mulai bersinar. Indira harus lebih gencar berusaha mencari titik-titik sinar lainnya.
Semangat hidupnya telah kembali.
Tak lagi ada Indira yang kacau, yang ada hanyalah Indira yang sedang menuntut dendam.
Butuh setahun dari masa paling kelam di hidupnya untuk kembali bangkit. Dia tak akan menyia-nyiakan kekuatan yang diberikan lewat Janu. Indira yakin anaknya juga ingin menuntut balas ulah ayahnya.
Dan Indira akan mewujudkan itu semua.
Indira tak kembali ke kamarnya di lantai bawah. Dia menuju tempat tidur dan duduk. Tangannya mengusap permukaan seprei yang baru siang tadi dia ganti dengan yang baru dari lemari. Ranjang ini menjanjikan kenyamanan, tapi Indira tahu itu tak abadi.
Sekalipun dia membenci ranjang ini, dia tak rela jika harus membaginya dengan perempuan lain.
Sekali lagi Indira menatap kamar ini sebelum turun dan mengunci kenangan.
Keesokan harinya Indira terbangun seperti hari-hari sebelumnya. Terlalu dini untuk melakukan aktivitas membuat Indira memutuskan hanya duduk di taman depan rumahnya. Menunggu matahari.
Tak banyak yang akan dia lakukan hari ini. Tapi dia tahu harus melakukan sesuatu untuk membunuh kebosanan. Jika dulu selalu ada Uti yang memberinya ide, sekarang dia harus mencarinya sendiri. Mengingat Uti, dia belum berani menghubunginya. Bukan takut tak lagi dianggap sahabat, tapi Indira tahu mereka masih butuh waktu untuk menenangkan diri.
Matahari semakin naik saat Indira masuk ke rumah. Sebelum mandi dia sudah menyiapkan secangkir teh melati. Setelah membersihkan diri, Indira baru membakar roti dan mengolesnya dengan selai kacang. Indira sarapan seorang diri, persis seperti beberapa waktu yang lalu saat dirinya hamil.
Yasa tak terlihat di pagi hari. Lelaki itu seperti menghilang. Meski Indira yakin, jika dia masih di kamarnya. Kamar yang dulu ditempati Yasa selama mereka menjalani pisah ranjang, berada di sebelah kamar yang sekarang Indira tempati. Ada dua kamar di lantai bawah. Dua-duanya merupakan kamar tamu. Satu berukuran sedang yang menjadi pilihan Yasa menghabiskan malam, satunya sedikit lebih besar.
Tak banyak pernak-pernik di dalamnya, hanya sebuah ranjang dan lemari pakaian, serta sebuah meja kecil. Dulu, mereka berencana akan menempati salah satu kamar itu ketika anak-anak mereka sudah besar.
Ternyata hanya menjadi sebuah wacana.
Rasa penasaran tiba-tiba hadir. Indira segera menghabiskan sarapannya dan membersihkan piring. Teh melatinya masih tersisa setengah. Dia berjalan menuju kamar yang berada di samping kamarnya. Indira membuka pelan pintu kamar itu, kamar yang selama ini luput dari perhatiannya.
Ruangan tiga kali tiga meter itu terlihat bersih. Mungkin Uti yang membersihkannya waktu itu. Tak ada yang aneh, terlihat seperti kamar biasa. Tapi hati Indira tak menginginkan dia pergi begitu saja. Langkahnya menuntun ke depan lemari. Ragu Indira membukanya.
Betapa terkejutnya dia melihat tumpukan baju-baju bayi yang masih terbungkus kantung belanja. Indira mengambil sepotong jumpsuit putih bermotif garis-garis. Kelembutan bahannya seperti membelai Indira akan kenangan Janu. Air mata lolos begitu saja.
“Kenapa, Mas? Kenapa kamu melakukan ini?”
Indira sudah berjanji tak akan menangis lagi. Tapi hatinya tersentuh. Semua yang berkaitan tentang Janu begitu saja menguras air matanya. Sekarang Indira tahu, Yasa juga menyayangi anak mereka. Tapi kenapa saat itu dia tak pernah melihatnya?
Berbagai pertanyaan mengapa berkecamuk di dadanya. Indira ingin Yasa memberitahu semuanya. Tapi dia yakin lelaki itu tak akan mau berterus terang. Andai pun mau, Indira yang belum siap jika Yasa harus membawa nama Meta.
Yasa dan Meta, tak akan lepas dari ingatan Indira bagaimana keduanya menghancurkan hidupnya dan Janu.
Kobaran api di dada Indira kembali bangkit.
Tunggu air matamu Meta!
-o0o-
Rabu, 27 Juli 2022
Peluk erat buatmu
Vita
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
RomansaPertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
