Hujan rintik-rintik tak berhenti sejak pagi. Langit suram tak mengizinkan matahari menampakkan secercah sinarnya. Sementara itu hawa dingin masih setia membungkus tubuh.
Bunga mawar di taman meneguk dahaga dari tetesan hujan. Kuncupnya semringah, dengan bulir kristal air di sepanjang daunnya. Begitu pun bunga-bunga lainnya. Bermekaran dan masih terlihat segar meski hari hampir usai.
Indira masih berkutat di dapur. Dia menata piring-piring cantik berisi makanan ringan. Tak tampak kelelahan di wajahnya. Senyumnya selalu terpasang seperti sebuah paket lengkap di wajahnya.
Dia bahagia.
Ini salah satu hadiah untuk Janu yang dia pikirkan selama beberapa hari belakangan. Memberikan yang terbaik untuk almarhum anak semata wayangnya.
Meski semalam mendadak dia diterjang badai, Indira berhasil menenangkan dirinya dengan baik. Tak bisa dipungkiri, semalaman dia tak bisa tidur dengan lelap. Kalimat Uti seperti sebuah nyanyian tak merdu yang membuatnya terjaga.
Karma.
Indira bahkan tak percaya lagi dengan kata keramat itu. Sudah lelah dia berharap Tuhan membalas sakit hatinya. Tapi sampai detik ini, sembilan bulan pasca perceraiannya, orang-orang yang membuatnya terluka masih baik-baik saja. Bahkan dengan gagahnya Meta menyulut luka yang sudah dia kubur rapat.
Entah apa salahnya di mata perempuan itu. Hubungan keduanya bahkan terbilang tak cukup dekat meski Meta memiliki embel-embel sebagai sahabat mantan suaminya. Dulu yang Indira tahu, saat dia dekat dengan Yasa, lelaki itu hanya menceritakan jika memiliki sahabat perempuan dan sudah menikah. Bahkan di pesta pernikahannya, sahabat mantan suaminya itu tak datang. Baru lah di tahun kedua pernikahannya, Meta tiba-tiba datang dan kembali dekat dengan Yasa.
Belakangan Indira sadar, jika memang keduanya bersahabat, kenapa di waktu pernikahannya Meta tak datang? Sahabat macam apa itu!
Alasan yang dibuat perempuan itu untuk kembali mendekati Yasa sangat lah tidak masuk akal. Kata Yasa, Meta butuh bantuannya. Perempuan itu sedang mengalami masalah dengan suaminya, Bram, yang sering melakukan kekerasan fisik padanya.
Waktu itu Indira percaya saja. Tapi semakin lama, Yasa seperti lupa diri. Dia berniat menolong janda orang lain tapi berakhir menjandakan istrinya sendiri.
Selepas bercerai dari Bram, Meta yang kehilangan pekerjaannya sebagai model, dirangkul Yasa untuk membantunya mengelola Mi Ngos-Ngosan. Keduanya sering bepergian berdua mengunjungi cabang lain tanpa sepengetahuan Indira.
Hingga kedekatan keduanya tak lagi tampak seperti sepasang sahabat. Meski Yasa mengelak, toh banyak bukti yang Indira temui. Salah satunya di rumahnya sendiri.
Andai saja perempuan itu tak lagi membuat ulah, tentu dia tak perlu berseberangan pendapat dengan sahabatnya. Benar kata pepatah, lidah memang lebih kejam. Sekali berucap, bisa menimbulkan efek jangka panjang.
Dada Indira kembali bergemuruh, mengingat luka masa lalu bukanlah hal yang mudah. Dia sudah berusaha melupakan rasa sakit itu sejak tahu di tubuhnya ada malaikat kecil yang membutuhkan perhatiannya. Namun semakin dia melupakan, semakin ke sini luka itu seperti mengambang. Pelan tapi pasti kembali mengusik hidupnya.
Indira melihat cinnamon roll di oven, sudah matang. Segera dia mematikan oven dan mengeluarkan hasil karyanya. Kegemaran Indira memasak memang menurun dari ibunya. Uti pernah menyuruhnya membuka toko kue, tapi Indira tak mau. Dia hanya bisa memasak, tapi bukan untuk diperjual-belikan. Dia masih belum mampu di tahap itu.
Aroma kayu manis dan gula palem menguar di seluruh dapur. Dulu Yasa sangat menyukai cinnamon roll buatannya.
Ah, Yasa lagi, Yasa lagi!
Indira menggeleng pelan. Kepalanya perlu dikosongkan beberapa saat dari nama mantan suaminya. Entah karena efek sendirian di rumah yang membuatnya tak memiliki teman bicara, hingga dia selalu melamun. Atau karena dia harap-harap cemas dengan undangannya pada lelaki itu.
Selepas ashar, Indira mulai menata makanan kecil di ruang tamu yang sudah berubah menjadi hamparan karpet. Sejak pagi dia membersihkan rumah dan menggelar karpet sendirian. Indira melakukannya dalam diam dan sepi. Dia benar-benar sendiri seperti hidupnya yang sebatang kara.
Tepat pukul empat sore, beberapa anak panti dan tetangga sekitar mulai berdatangan. Salah satu pengurus panti berbincang dengan Indira, mereka mengobrol beberapa menit sebelum acara dimulai.
Acara demi acara berjalan dengan lancar. Selepas maghrib, para tamu perlahan mengundurkan diri. Dibantu beberapa tetangga, Indira membereskan ruang tamunya.
“Terima kasih, ya, Bu. Sudah menyempatkan datang dan membantu saya melipat karpet-karpet ini.”
Indira tak pernah lupa memberikan senyumannya di setiap dia berbicara pada orang lain.
“Aduh, Bu Indira ini. Jangan sungkan-sungkan kalau mau minta bantuan. Kita ini bertetangga, loh. Dari kemarin lusa, sebenarnya saya mau berkunjung ke sini. Sudah lama enggak lihat Bu Indira di rumah ini. Tapi rumah Bu Indira selalu tertutup di siang hari. Saya pikir Bu Indira sudah pergi lagi.”
“Ah, itu, saya mengunjungi anak saya, Bu.”
Tiga ibu-ibu yang memiliki tubuh berisi itu mengangguk. “Janu sudah bahagia di surga, Bu. Insya Allah. Bu Indira yang sabar, yang ikhlas, ya.”
Indira mengangguk. “Saya masih belajar, Bu. Doakan saya semoga bisa benar-benar ikhlas.”
“Amin.” Mereka serempak berucap dan saling melempar senyum. “Ibu yakin, Janu sudah menjadi tabungan surga kedua orang tuanya.”
Indira lagi-lagi mengangguk membenarkan, kali ini dia tak banyak bicara. Tubuhnya sudah mulai berteriak ingin diistirahatkan.
“Tadi kok, enggak kelihatan Pak Yasa, ya?” celetuk salah satu wanita yang memakai gamis broken white dengan kerudung senada.
“Oh, ayahnya Janu kebetulan sibuk. Dia berhalangan datang.” Mata Indira mengerjap untuk sesaat. Dia tak sepenuhnya berbohong. Karena memang itu kenyataannya.
Indira menertawakan hatinya yang terlalu berharap. Sejak acara dimulai, kepalanya tak henti menoleh pada pintu gerbang. Tapi tanda-tanda kehadiran lelaki itu seperti mengharap terik matahari di musim hujan.
“Sudah malam, kalau begitu kami pamit dulu. Permisi ya, Bu Indira.”
Orang yang pertama berbicara padanya memimpin teman-temannya pergi. Indira tak menjawab, dia hanya mengangguk dan memberikan senyum.
Ketika rumah benar-benar sepi, Indira baru merasakan jiwanya kosong. Biasanya selalu ada Uti yang membuatnya selalu berbicara. Dari hal penting hingga yang sepele pun bisa jadi pembahasan mereka. Bahkan membahas artis-artis ibu kota juga tak pernah lepas dari kicauan mereka.
Ucapan salah satu tetangganya tadi tiba-tiba mengusik kepalanya. Apakah dosanya terlalu banyak hingga harus ditebus dengan nyawa Janu?
Air mata Indira berjatuhan.
Dia selalu berusaha menjadi orang baik, tapi tak pernah ada kebahagiaan yang dia dapatkan. Bahkan sekedar sahabat pun kini diambil oleh Tuhan. Indira menghapus air matanya yang masih menyisakan jejak basah. Suara mesin kendaraan yang berhenti di depan rumahnya membuatnya was-was.
Dia lupa belum mengunci pintu gerbang.
Indira menanti dengan cemas. Napasnya tertahan begitu suara pintu mobil tertutup usai mesinnya mati. Meski dia masih berharap itu adalah Yasa, tapi kemungkinan lain membuatnya semakin gelisah. Bisa saja itu Meta, kan?
-o0o-
Selamat malam semuanya.
Selamat Hari Raya Idul Adha
9 Juli 2022
Vita
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
RomancePertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
