Yasa mencari sesuatu di mata Indira, tapi lelaki itu tak menemukan apa pun. Perempuan itu hanya menatapnya dalam diam saat Yasa akhirnya mengangguk menerima tantangan Indira. Yasa menebak-nebak dalam diam kejutan apa yang disiapkan Indira untuknya.
Yasa mengikuti langkah Indira yang berjalan di depannya. Setelah meneguk teh terakhir di cangkir, Yasa berdiri tak lama setelah Indira juga berdiri. Mereka berjalan dalam diam. Langkah Yasa terhenti begitu Indira sudah lebih dulu naik satu tangga. Keningnya mengernyit, apa yang dilakukan mantan istrinya itu di lantai dua, tempat di mana kamar mereka berada.
“Kenapa berhenti?” Sadar tak ada lagi langkah yang mengikuti, Indira menoleh ke belakang.
“Mau ke mana kita?” Tanya Yasa dengan suara tercekat.
Indira melirik ke kamarnya berada. “Menurutmu ada apa di sana?”
Yasa hanya mengerjap tanpa memberi jawaban. Tangannya yang gelisah dia masukkan ke dalam saku celana.
“Katanya kamu sudah move on. Kenapa takut? Ayo.” Indira berseru sebelum kembali melangkah. Kali ini dia terlihat bersemangat. Kecemasan Yasa menjadi kepuasan tersendiri.
Yasa tak berani menjamin dia bisa menahan letupan di dada yang mulai mendidih. Indira membuatnya takut tapi juga penasaran, apa yang akan dilakukan di atas sana. Meski ragu, Yasa akhirnya melangkah juga. Perlahan dia menjejak kaki dari satu anak tangga ke tangga lainnya. Mengikuti Indira yang sudah berjalan jauh di depannya.
Meniti anak tangga bagai meniti kecemasan. Malam yang perlahan larut disertai rintik hujan yang datang menjadi musik pelengkap. Tangan Yasa yang semula hangat mulai dingin. Dengan menahan gemetar, dia memegang pegangan tangga. Dia tak ingin mantan istrinya tahu kalau dia mulai tidak baik-baik saja.
Indira tiba di lantai dua dengan semringah. Dia menunggu Yasa tiba di lantai yang sama dengannya. Begitu mereka berdiri bersisian, Indira segera melangkah menuju sofa dan berdiri di tengahnya. Dia tidak tahan dengan aroma Yasa yang seketika menusuk indera perciumannya. Aroma Yasa yang selalu memabukkan.
“Apa?” Tanya Yasa saat melihat Indira hanya diam menatapnya.
“Tidak ada. Duduk, lah.”
Yasa mendekat tapi dia tak menuruti perintah Indira.
“Apa yang ingin kamu tunjukkan padaku? Jangan mengulur-ulur waktu, Ndi.” Yasa bertanya tak sabar, dia tak melepaskan matanya dari Indira yang malam ini baru dia sadari sedikit berbeda. Perempuan itu berdandan tipis-tipis, tapi sangat cantik di mata Yasa.
“Kamu merasa lebih baik? Atau memang tidak ingin berlama-lama denganku?” Indira tersenyum mengejek. Dia tahu mantan suaminya tak pernah bisa mengobrol berdua dengannya. Yang ada selalu pertengkaran demi pertengkaran.
“Jangan memulai sesuatu yang tak ingin membuatmu semakin bersedih. Aku hanya tidak ingin berlama-lama di sini karena kita sudah bukan suami istri lagi. Aku tidak ingin tetangga salah paham.” Yasa memang benar, tapi dia seperti tertampar ucapannya sendiri. Bagaimana dengan dirinya dan Meta dulu? Dia bahkan tak memikirkan para tetangga yang sudah tahu siapa dia.
“Kalau begitu ayo. Mari kita ke kamar.”
Mata Yasa melebar mendengar ajakan Indira. Untuk apa dia mengajaknya ke kamar? Yasa tak habis pikir, bagaimana perempuan itu menjadi murahan dengan mengajak mantan suami berada di kamar yang sama. Tapi Yasa tak berani menyangkal, dia semakin dibuat penasaran oleh Indira. Dengan pede dia berjalan mendahului Indira menuju kamar mereka dulu.
“Bukan kamar yang itu.”
Langkah Yasa terhenti tiba-tiba.
“Tapi kamar yang ini.” Tunjuk Indira pada kamar di sebelah yang Yasa tahu hanya berupa kamar kosong.
Yasa memutar tubuh dan berjalan mengikuti Indira. Di belakang tubuh mantan istrinya, Yasa dapat mencium parfum Indira. Masih sama. Aroma minyak telon telah menguasai selera Indira.
“Kamar apa ini?” Tanya Yasa begitu Indira membuka pintu kamar yang tak terkunci.
“Kamu memang belum tahu atau pura-pura tak tahu?” Tanya Indira sarkas. Pasalnya dia sudah membuka seluruh pintu dan membiarkan Yasa masuk untuk melihat dengan jelas.
“Dulu ini kamar kosong, kan? Kenapa sekarang seperti ini? Siapa yang akan tinggal di sini?” Yasa benar-benar tidak tahu. Dia menatap boks bayi dan Indira bergantian. Sesuatu terlintas di kepalanya. “Ini… kamar Janu?”
Indira tersenyum tipis dan mengangguk.
“Seharusnya. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Janu belum berjodoh dengan kamar ini. Juga dengan kita.”
Kalimat Indira terdengar ambigu, tapi Yasa tak lagi terlalu memikirkannya. Dia justru melangkah mendekati boks bayi dan menyentuh pinggirannya.
Ingatan Yasa melayang beberapa waktu lalu. Saat Indira yang sedang hamil kerap bertengkar dengannya. Yasa memilih keluar atau tidur di kamar bawah. Sedangkan Indira tak mau turun dari lantai ini. Dia sering mengabaikan Indira, walau sebenarnya bukan itu yang dia inginkan. Dia tentu menginginkan menemani masa kehamilan istrinya, tapi mulut Indira tak bisa diam selalu ada yang membuat mereka berselisih.
Semakin lama Yasa lelah, dia mulai menjauh agar emosi istrinya tidak terus-terusan naik bila melihatnya. Ternyata itu juga menjadi pion bagi Indira untuk menyalahakannya atas kepergian Janu.
Di mata Indira, apa yang Yasa lakukan selalu salah. Bahkan menurut Yasa yang terbaik, juga terlihat salah. Hal itu pula yang memantapkan hatinya menuruti perceraian yang diajukan Indira.
“Seharusnya Janu sekarang sudah bisa berjalan dan memanggilku mama.”
Indira mendekat dan menatap boks bayi di depannya tanpa berkedip. Sudah tergambar di kepalanya seorang balita yang berjalan dengan bibir belepotan. Berceloteh menyebut namanya. Juga tawa nyaring yang meramaikan rumah ini.
“Kamu benar, Ndi. Tapi mungkin sekarang Janu sedang belajar berjalan di surga bersama para bidadari. Dia tidak akan sendirian.”
Indira menunduk lemah.
“Mungkin dia memilih tinggal bersama neneknya. Pasti Janu mengatakan pada ibumu, kalu mamanya adalah perempuan kuat.”
Senyum di bibir Indira terbit. Kali ini dia setuju dengan Yasa. Kenapa selama ini dia tidak memikirkan hal ini? Ada almarhumah ibunya di surga, pasti dia tak membiarkan Janu berkeliaran sendirian.
“Jujur, aku tidak sampai ke sana.” Mata Indira bertemu mata gelap Yasa. “Kenapa kamu baru mengatakannya?”
Yasa mengendikan bahu, dia meraup udara sebanyak mungkin di dadanya.
“Itu salah satu cara yang kulakukan untuk mengikhlaskan Janu. Dia memang terlahir bukan di waktu yang tepat. Tapi dia tak pernah salah terlahir dari rahimmu. Kalian berdua sama-sama kuat. Aku yakin Janu juga bangga padamu.” Yasa menghentikan ucapannya dan beralih menyentuh puncak kepala Indira.
“Jika saat itu aku berbicara, apa kamu akan mendengarkanku?”
Indira diam tak membalas. Sentuhan di kepalanya mengalirkan gelenyar aneh di tubuhnya.
“Aku yakin kamu akan mengusirku seperti yang sudah-sudah. Jadi aku pikir saat itu menghindar adalah jalan terbaik.”
Indira mengerjap menatap Yasa yang menatapnya dengan sorot lembut. Indira tak yakin tapi dia tahu, Yasa masih belum berubah.
Masih ada rindu untuknya di sana.
-o0o-
Gimana?
Sudah bisa tidur nyenyak?
Wkwkw
Peluk erat buat kamu
Vita
14 Juli 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
Roman d'amourPertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
