Keduanya masih terbius oleh mata masing-masing. Dehemen Yasa menyadarkan Indira. Lelaki itu mengacak rambutnya dengan lembut.
“Aku harap kamu tak mebongkar kamar ini.”
“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Tanya Indira tak percaya. Bagaimana mungkin Yasa menuduhnya sekejam itu? Dia tentu tahu bagaimana Indira merasa kehilangan Janu. Mana bisa dia menghapus kenangan tentangnya.
“Aku hanya tak ingin Janu kecewa.”
Yasa menatap sekeliling kamar. Matanya bergerak sangat cepat. Seperti mencari sesuatu.
“Kali ini kamu terlalu percaya diri, Mas. Aku tak sebodoh itu untuk membuang segala hal yang berhubungan dengan Janu. Bahkan dengan calon istrimu yang menjadi penyebab kepergian Janu.”
“Ra, sudah lah. Jangan bawa-bawa Meta. Janu anak kita, kita yang salah. Aku dan kamu. Bukan orang lain.”
“Kamu selalu membelanya, kan? Sepertinya aku memang hanya sebuah pelarian.”
“Apa maksud kamu?” Tangan Yasa bersandar di pinggang, dia menatap Indira yang kembali ke mode awal. Indira yang tegas dan pedas.
“Aku tahu, kalian terlibat friendzone sejak lama, kan?”
Tubuh Yasa menegang, dia heran kenapa Indira bisa tahu. Selama menjadi suaminya, Yasa selalu bersikap selayaknya suami. Bahkan dia benar-benar mencintai Indira.
“Aku menikahimu karena aku mencintaimu, Ndi. Tak ada dalam hatiku niat menikahimu untuk menggantikan orang lain.” Yasa membela diri. Dia tak mau harga dirinya sebagai lelaki diinjak begitu saja.
“Tapi pada akhirnya kalian bersama. Cinta lama bersemi kembali? Atau cinta lama yang belum kelar?”
Yasa tak menjawab. Dia tahu semakin banyak kata yang keluar dari bibirnya, maka semakin panjang pula balasan Indira. Perempuan itu tak pernah mau mengalah jika berurusan dengan Meta. Entah apa yang dia pikirkan tentang Meta, sejauh yang Yasa ingat Indira tak pernah akur bersama Meta.
“Aku pikir, kita sudah sama-sama dewasa. Jadi tak perlu membahas hal-hal yang sudah berlalu di antara kita.”
Hati Indira kecewa. Yasa begitu mudah mencintainya, tapi begitu cepat melupakan cintanya. Indira tak yakin apa yang Yasa katakan semuanya benar. Karena sejauh yang Indira temui malam ini, Yasa masih memiliki hati untuknya.
Indira semakin dibuat penasaran, apakah praduganya kali ini benar. Dia gatal ingin segera mengetahui dan mendengar Yasa menyesal berpisah darinya. Iya, Indira menyimpan dendam itu sejak lama. Dia mungkin egois, tapi luka yang mengajarinya bersikap seperti itu. Jika tidak, dia akan mati perlahan-lahan.
“Baik lah, aku juga tak ingin mengingat perempuan itu lagi.” Indira menatap jendela yang tirainya tertiup angin. Dia segera menutup kaca jendela, setelah sadar dia lupa belum menutupnya setelah membersihkan kamar ini pagi tadi.
“Kalau begitu, aku pulang dulu.” Pamit Yasa yang membuat Indira kelabakan.
“Sebenarnya ada sesuatu lagi yang ingin kutunjukkan padamu,” sahut Indira cepat. Dia tak tahu mengapa dia tak rela melepas kepergian Yasa malam ini. Mengakhiri kebersamaan singkat yang baru dia rasakan setelah apa yang terjadi pada mereka.
“Apa lagi? Oh iya, aku tidak melihat temanmu di rumah ini.”
Mata Indira mengerjap, dia berusaha tetap tenang meski hatinya kalut. “Uti harus pulang. Kerjaannya tak bisa memberikan dia cuti terlalu lama.”
Kening Yasa berkerut dengan alis yang hamper bertaut. “Jadi kamu tinggal sendirian?” tanyanya tak percaya. Yasa tahu bagaimana Indira dulu ketakutan kalau dia pulang terlambat.
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
RomancePertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
