Hari ini Indira menerima telepon dari salah satu cabang Mi Ngos-Ngosan yang diberikan Yasa saat pembagian harta. Pimpinan cabang itu menanyakan apakah Indira sudah menerima email laporan hasil penjualan mingguan. Indira jarang sekali datang ke lokasi selepas bercerai. Selain masih terbelenggu luka, dia merasa menemukan bayang-bayang mantan suaminya di sana.
Bukan tanpa alasan Indira mengelak kewajibannya meninjau kedai yang dia bangun bersama Yasa di tahun pertama mereka menikah. Bentuk dan model bangunan yang dibuat mirip dengan kedai pusat, karena menjadi salah satu ciri khas Mi Ngos-Ngosan, seakan mengingatkan apa yang suaminya lakukan di ruangannya.
Pada mulanya mereka membangun kedai atas ide Yasa yang saat itu tengah mengunyah mie goreng pedas buatan Indira. Dia beranggapan masakan mi pedas sedang naik-naiknya. Kenapa tidak mencoba membawa resep Indira untuk disebar luaskan menjadi sebuah usaha. Mi pedas dengan harga yang terjangkau menjadi poin besar untuknya.
Yasa yang masih bekerja di perusahaan properti segera membuat idenya terealisasi. Mereka menyewa ruko di depan kompleks dan mulai berjualan setelah pulang bekerja. Indira yang sudah terbiasa bekerja di pertokoan, tak canggung melakukan pekerjaan serabutan sendirian. Dari berbelanja bahan sampai mengolah makanan, dia melakukannya dengan kedua tangannya.
Usaha mereka naik sangat cepat. Enam bulan kemudian, kedai yang awalnya hanya satu itu mulai membuka dua cabang sekaligus. Yasa cukup nekat dalam hal ini. Tapi perjuangannya tak sia-sia. Kini Yasa benar-benar menjadi seorang pengusaha dengan ratusan karyawan.
Indira meletakkan ponsel ketika Uti datang. Senyum perempuan itu mengembang, dengan sebuah bingkisan di tangan.
“Apa itu?” tanya Indira penasaran.
“Coba tebak?”
Indira memicing, hidungnya kali ini bekerja lebih keras. “Gorengan?”
“Ya, kalau soal makanan, aku nyerah main tebakan sama kamu.”
Mereka mengambil sebiji dan melahapnya.
“Nanti jadi ngebakso, kan?”
“Jadi lah.”
Uti bersungut-sungut, dia mengambil gorengan lagi, kali ini tempe menjes. “Oh iya, Ra. Gimana rencanamu selanjutnya? Hari ini jadi ke panti?”
Sebelum datang ke kota ini, Indira sudah menyusun berbagai rencana untuk membunuh waktu sekaligus memperingati ulang tahun pertama anaknya.
“Aku juga mau bikin pengajian besok.”
“Pengajian?”
Indira mengangguk, bibirnya masih terkatup menahan gulungan pisang goreng di mulutnya.
“Rumah ini terlalu sepi. Mengundang beberapa tetangga dan anak yatim, sepertinya ide baik. Sekalian kirim doa buat Janu juga.”
Kini Uti mulai paham. Dengan segala kemewahan yang dimiliki sahabatnya itu, tak mungkin jika Indira tidak menggunakannya dengan baik. Walau belakangan, yang dia temui masih sosok Indira yang sama. Indira yang sederhana.
“Tapi lusa jadi balik, kan? Aku izin cuti seminggu, Ra. Awas kalau kamu lupa.”
“Iya, iya. Mana mungkin aku lupa. Aku juga bakal ikut kamu balik, kok.”
“Kenapa kamu enggak pindah ke sini, aja, sih? Daripada ngekos? Mending di sini. Nyaman.”
Sampai sekarang Uti tak habis pikir apa yang dicari Indira selain lari dari luka. Perempuan itu hampir memiliki segalanya, tapi dia sia-siakan.
“Aku mau tinggal ke sini, kalau kamu mau nemenin aku.”
“Ra, aku di sana punya pekerjaan. Enggak bisa asal cabut aja.” Uti menghela napas dalam. Bukan kali ini saja Indira menolongnya. Pekerjaan yang dia tekuni sekarang pun atas bantuan dia. Iya, Uti bekerja di Mi Ngos-Ngosan di cabang yang dikelola Indira, yang berada di kota tempat tinggalnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
RomansaPertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
