Waktu itu Yasa tak tahu mengapa Indira semakin uring-uringan. Seperti segala hal yang dia lakukan selalu salah di matanya. Seingatnya, sejak dia mengenalkan Meta beberapa bulan yang lalu, Indira mulai banyak diam.
Awalnya Yasa tak menyadari, bahkan terlihat seakan mengabaikan. Namun semakin lama semakin ke sini dia mulai mengerti.
Cemburu.
Istrinya cemburu dengan sahabat perempuannya yang sudah lama tak bertemu. Cemburu yang tak berdasar, menurutnya. Bagaimana Yasa bisa menerima segala prasangka yang tak beralasan dari Indira, jika saat itu dia sedang serius membantu Meta keluar dari kerumitan pernikahannya bersama Bram. Meta butuh pertolongannya, karena dia satu-satunya sahabat perempuan itu.
Meta mengalami kekerasan dalam rumah tangganya. Banyak lebam di tubuhnya. Tapi bukan itu yang memantapkan perempuan berambut panjang kemeran itu untuk berpisah. Kekerasan fisik dan verbal sudah kenyang dia lalui. Yasa yang mendengar kisah Meta tak sampai hati jika membiarkan sahabatnya berjuang sendirian.
Yasa menemani Meta menjalani proses perceraian, menemani visum, bahkan menjadi pendampingnya di persidangan. Saat mengantar Meta berobat, dia tak sengaja melihat Indira di gerbang rumah sakit. Istrinya itu berjalan dengan penuh semangat, membuat Yasa heran.
“Kamu naik lah dulu, ada yang perlu aku selesaikan sebentar.”
Langkah Meta terhenti, dia menatap Yasa penuh kerutan di keningnya.”Ada apa? Ada sesuatu?”
“Aku baru ingat belum menghubungi Heri untuk menggantikanku mengurusi suplai barang di cabang.”
Meta mengangguk mengerti, dia memberikan senyumnya sebelum meninggalkan Yasa. “Aku tunggu di depan ruangan dokter Ilham, ya.”
“Ok.”
Mereka berjalan ke arah yang berbeda, Meta ke lantai tiga, dan Yasa diam-diam menyusul Indira yang masih berurusan dengan bagian administrasi.
Indira mulai melangkah menuju lantai dua, Yasa berjalan cukup jauh dan sesekali mengintip. Dia semakin heran saat Indira memasuki area yang dipenuhi oleh perempuan-perempuan dengan perut membesar. Sesuatu mencubit dadanya. Apakah Indira hamil?
Yasa kembali mengingat-ingat perangai Indira belakangan memang kentara berbeda. Emosinya naik turun ditambah dia yang selalu menjadi pemicu utamanya. Dia menghitung dalam diam, kapan terakhir kali dia menyentuh istrinya. Bahkan Yasa sudah tak ingat lagi.
Getaran di saku celana membuyarkan lamunannya. Meta menelepon dan mencarinya. Yasa akhirnya kembali ke tujuan semula, menemani sahabatnya. Urusan Indira bisa diselesaikan nanti, di rumah mereka.
Keesokan harinya, Yasa tak menemukan Indira di rumahnya. Hampir tengah malam dia baru pulang dari kedai dan belum sempat mencari tahu. Yasa mengintip keluar kamar dan menemukan Indira berjalan keluar dengan membawa tas. Yasa diam-dia mengawasi dengan gelisah, setelah melihat Indira pergi dengan ojek online dia baru bernapas lega. Sebuah ide terlintas di benaknya. Dia segera menaiki tangga menuju kamar Indira, tangannya bergetar ketika membuka kenop. Jantungnya seperti terlepas saat pintu yang di kira terkunci itu terbuka perlahan. Segera dia membuka laci di nakas dan mencari sesuatu. Lama dia mengobrak-abrik tapi tak menemukan apa yang dia cari.
Tak kehabisan akal, dia berpindah ke meja rias. Dibukanya laci satu persatu. Namun hasilnya tetap nihil. Yasa terduduk di lantai dengan wajah frustrasi. Indira tak mungkin mau berkata jujur padanya, karena sudah dua bulan ini mereka tidur di kamar terpisah.
Yasa memijit keningnya yang berdenyut. Dia menengadahkan kepala dan meregangkan lehernya. Matanya menangkap lemari pakaian yang berdiri kokoh. Lemari dari kayu jati yang dia pesan khusus dari salah satu keluarganya yang memiliki kebun jati.
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
RomansaPertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
