Apakah dia masih mencintai mantan suaminya?
Pertanyaan itu menyentak tepat di hatinya. Membuat tubuh Indira yang berdiri kaku, semakin menegang. Dia terdiam dengan mengulik isi hati yang kedalamannya sulit dia ukur.
Indira mengingat-ingat hal apa yang membuatnya sampai di tempat ini. Benarkah karena masih ada cinta yang tersisa? Sudah berulang kali dia menimbang kadar perasaan yang ada. Tak pernah cukup memenuhi batas sebuah tahap rasa yang dia miliki.
Mengingat Yasa seperti membuka luka yang belum sepenuhnya sembuh. Luka itu memang sudah kering, tapi dalamnya siapa yang tahu. Penampilan luar mudah mengecoh, tapi isi hati tak bisa ditebak. Jika mengingat namanya saja sudah menimbulkan luka lama, lantas atas dasar apa dia masih menyimpan rasa pada lelaki itu?
Indira yakin dia sudah tidak mencintai lelaki itu. Baginya, segala kenangan indah bersama Yasa adalah sebuah legenda. Hanya bisa dikenang tapi tak dapat diulang. Karena tak ada legenda yang sama untuk kedua kali.
Namun entah kenapa hatinya masih sakit dan kecewa bila menyangkut tentang Meta. Benarkah dia hanya cemburu? Lalu untuk apa perasaan cemburu masih dia pelihara? Bukankah mereka sudah tak terikat apapun?
Atau kah dia terlalu penasaran dengan perasaan yang Yasa miliki? Tergelitik menggodanya hanya demi mengukur rasa yang tersisa. Indira benar-benar tak dapat menemukan jawaban, walau batinnya bergulat.
Yang dia tahu, dia kembali untuk mengirim rindu pada Janu.
Kedatangan Meta beberapa hari yang lalu, membuatnya tersentak. Andai saja perempuan tak tahu malu itu tak datang, apakah dia akan melakukan semua ini? Indira tak yakin dengan jawabannya. Tetapi bila mengingat segala hal yang perempuan itu lakukan membuat dadanya dipenuhi kobaran api.
Amarah kembali menguasai hati. Dia tersadar sepenuhnya untuk apa dia di sini. Menuntaskan dendam yang tak sempat dia tanam pada orang-orang yang menyakitinya di masa lalu. Serta menyempurnakan rindu yang mereka ciptakan untuk Janu. Rindunya yang tak akan pernah selesai.
“Ndi…”
Bisikan Yasa kembali mengambil separuh nyawanya yang hampir menghilang, mengembalikan kesadarannya. Lelaki itu sudah berdiri di hadapannya tanpa melepas genggaman tangannya. Tangan Indira yang dingin terasa hangat berada dalam dekapan jemari Yasa. Sesuatu yang dulu tiba-tiba datang menghangatkan hatinya, tak lagi terjamah di dadanya.
“Benar kamu masih mencintaiku?” Yasa masih bertanya penasaran.
Dia tak dapat membohongi hatinya
kala mendapati mantan istrinya itu hanya terdiam seperti kehabisan kata. Ada gelombang dahsyat yang tiba-tiba datang menggulung semua rasa kecewa yang selama ini memenuhi hatinya. Dadanya sesak, tapi bukan sesak yang menyiksa.
Berkali-kali dia menyelami kedalaman hati Indira melalui matanya, tapi dia tak dapat menemukan apa-apa.
“Apa kamu baru menyadarinya selepas bercerai?” Yasa kembali bertanya tak sabar. Segala risiko dia ambil demi memenuhi rasa penasaran yang semakin melambai. Genggamannya semakin erat. Seakan ingin menjalari kehangatan di jemari Indira yang beku.
Manik kelam yang berlindung di kelopak bulat itu hanya menatap wajah gelisah di hadapannya. Suara yang sudah dia rangkai mendadak tertahan begitu saja di tenggorokan. Saat tubuh tegap milik Yasa semakin mendekat, Indira kesulitan meneguk ludahnya.
“Seharusnya aku tak menuruti permintaanmu waktu itu, kan?” Jemari kokoh itu membelai pipi Indira yang tirus. Meresapi setiap belaian. “Seharusnya aku lebih bersabar mendengar teriakan perceraian yang selalu kamu gaungkan.”
Dalam benaknya Yasa berandai-andai. Jika waktu itu dia tidak gegabah meloloskan permintaan cerai Indira, mungkin kah akan sama? Atau kah segalanya tetap berbeda namun dengan akhir yang tak semenyesakkan ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
RomansaPertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
