“Malam ini jadi ke rumahku, kan?” Tanya Meta dengan napas memburu. Dadanya naik turun mengikuti irama detak jantungnya yang berpacu cepat. Keringat membasahi tubuhnya yang membara. Rambutnya sudah tak beraturan, basah di sekitar kening. Kakinya bergantian menjejak bumi.
Yasa masih mengayun langkah, dia tak menjawab. Matanya menikmati pemandangan jalanan yang ramai oleh manusia.
“Yasa….”
Meta bergelayut manja memeluk lengan Yasa. Sejak semalam dia memikirkan apa yang membuat lelakinya gelisah. Tak ada cara lain selain terus berada di sisi Yasa sepanjang hari. Demi membuang kecemasan yang juga mulai mengusiknya.
Pagi-pagi sekali dia sudah datang ke rumah Dewi. Membangunkan Yasa yang baru terlelap selepas subuh. Dengan memakai pakaian olahraga yang melekat sempurna di tubuhnya, Meta meminta Yasa menemaninya lari pagi.
Rumah keduanya memang tak begitu jauh, hanya berbeda kompleks. Membuat Meta semakin leluasa datang dan itu sudah sering dia lakukan sejak mereka sama-sama belum menikah.
Setelah lari pagi yang berujung sarapan bubur ayam bersama, Meta tak juga menjauh. Dia meminta Yasa menemaninya berbelanja. Dengan dalih ingin belajar menjadi istri yang baik,Yasa memenuhi harapan Meta. Mereka pergi setelah berganti pakaian terlebih dahulu.
“Temani aku belanja kayak biasanya, ya?”
Yasa memegang troli belanja yang baru berisi dua bahan. Susu dan roti. Yasa akui, selera berbelanja kebutuhan sehari-hari Meta tidaklah sebanyak Indira. Meta lebih sering membeli makanan jadi dari pada memasak sendiri. Berbanding jauh dengan Indira yang jarang makan di luar.
Itu yang diingat Yasa. Tak tahu lagi kalau sifat Indira berubah.
Dada tegap itu mengembuskan napas dalam.
Tiba-tiba ingatan tentang Indira muncul tanpa diminta. Dari kemarin dia seperti dibayangi undangan mantan istrinya. Dia senang tentu saja, Indira sudah mau berbicara dengannya dengan lembut. Tapi entah kenapa ini semua terasa aneh. Kelembutan suara Indira dan tatapan matanya yang berkobar amarah, membuat Yasa bertanya-tanya sepanjang malam.
Ada apa dengan Indira?
“Mau buah apa kamu, Sa? Anggur?” Mereka kini berada di kontener buah. Meta menunjuk anggur yang berjejer rapi di etalase. Dia mengambil beberapa jenis anggur setelah mendapati Yasa mengangguk.
“Kamu belanja buah ini judulnya.”
Yasa mentap troli belanja yang kini mulai penuh dengan aneka warna. Meta memang sangat menyukai buah. Selain untuk menjaga tubuhnya tetap ideal, buah juga bagus untuk kulitnya. Biasanya perempuan itu akan memakannya langsung atau diolah menjadi salad.
“Oke, aku akan beli protein hewani. Kamu mau makan malam di rumahku lagi, kan?”
Ini kali kedua Meta bertanya. Dia memang belum mahir berkutat di dapur. Sejak kecil, orang tuanya selalu memanjakan dia. Bahkan hingga dia menjanda pun, kedua orang tuanya tetap menuruti apa pun permintaannya. Namun sejak bersama Yasa, dia ingin berubah. Setidaknya dia sudah bisa membuat tumisan sayur sederhana. Dengan modal google tentunya.
Sebagai anak tunggal, Meta memang terbiasa serba dilayani. Maka tak ada dalam kamus hidupnya beramah tamah di dapur. Meski orang tuanya tinggal di luar negeri, Meta tak pernah tinggal sendiri. Yasa pun memaklumi sifat manja calon istrinya. Dia sudah mengenal lekuk hidup Meta sejak masih anak-anak. Friendzone yang berakhir manis.
“Aku nggak yakin, Sayang. Lihat nanti saja lah.”
Meta mengehentikan langkah dengan tiba-tiba.
“Kenapa berhenti?” Tanya Yasa bingung.
“Percuma juga aku belanja banyak kalau kamu enggak mau dateng.”
Yasa menarik napas panjang. “Oke, aku makan malam di tempatmu.”
Yasa tak bisa menghindar begitu saja dari cengkeraman Meta. Perempuan itu benar-benar merantainya sepanjang hari. Selepas berbelanja, mereka berangkat ke kedai berdua. Di sana, Meta selalu membuntutinya ke mana pun dia melangkah.
“Kamu ini sekretarisku, bukan asisten pribadiku, Ta?” keluh Yasa ketika senja mulai melambai. Dia sangat lelah, tubuhnya berteriak ingin menyentuh tempat tidur.
“Kamu kenapa, sih, Sayang? Enggak biasanya ngebentak aku kayak gini? Kamu mikirin Indira?” tebakan Meta membuat Yasa menggeleng. Nyeri di kepalanya semakin berdenyut.
“Kepalaku sakit. Semalaman aku mengecek laporan mingguan dari cabang. Maaf kalau aku jadi sedikit emosi hari ini. Aku capek, Ta.” Yasa menyandarkan tubuh di kursi kerjanya.
Meta mendekat, diraihnya kening Yasa dan mulai memberi pijatan lembut. Dia melakukannya dengan tulus, Yasa tahu itu.
“Kenapa enggak bilang dari tadi, sih? Tahu gitu, aku bantuin kamu semalam.”
“Kamu kan enggak boleh capek-capek. Pernikahan kita tingga beberapa minggu lagi.” Yasa berkata serupa bisikan. Pijatan Meta memang menenangkan. Matanya mulai diserang kantuk yang luar biasa.
“Kamu pindah ke sofa, deh. Biar lebih enak.”
Yasa tak membantah, dia meletakkan kepala di pangkuan Meta dan mulai terpejam.
-o0o-
Langit sudah gelap ketika Yasa membuka mata. Dia melirik jam di tangan, alisnya terangkat begitu menyadari dia tertidur cukup lama. Hampir dua jam. Dia meregangkan tubuh dan menyadari Meta sudah tak ada.
Dia berjalan ke meja dan mengecek ponselnya. Tak ada panggilan. Hanya ada ada pesan suara dari Meta yang mengabari kalau dia pulang duluan karena ingin memasak.
Yasa tahu dia benar-benar tak bisa menjauh dari Meta. Segera dia bersiap pulang menyusul clon istrinya.
Tiba di rumah Meta yang jauh lebih besar dari pada rumahnya, Yasa segera masuk menuju dapur. Aroma lada hitam menguar menusuk indra penciumannya.
“Hei, kamu sudah datang.” Meta baru saja memindahkan masakannya ke piring saji begitu mendengar langkah seseorang. Tapi matanya fokus ke penampilan Yasa yang masih sama dengan siang tadi. “Kamu mau mandi di sini dulu?”
“Boleh. Bajuku sudah dicuci, kan?”
“Kamu pikir di sini bajumu cuma satu?” Meta memutar bola matanya. “Udah sana buruan mandi.”
Yasa hanya menggeleng pelan. Sebelum dia berlari ke kamarnya, dia menyempatkan mencuri kecupan di pipi Meta.
Lima belas menit kemudian Yasa turun dari kamarnya yang berada di lantai dua. Berseberangan dengan kamar Meta. Sejak menemani Meta mengurus perceraian dengan Bram, Meta memintanya menginap di rumahnya karena tak ingin diteror Bram saat malam hari. Yasa menuruti permintaan sahabatnya, mereka akhirnya tidur satu atap dengan kamar terpisah.
Makan malam yang disiapkan Meta kali ini tak berhasil membuat Yasa makan dengan lahap. Bukan salah di makanannya. Sapi lada hitam yang dibuat Meta cukup enak, tapi perutnya mulai bergejolak. Begitu makanan di piringnya tandas dengan sedikit memaksa menelan, Yasa undur diri.
“Aku pulang, ya. Mau lanjut tidur.”
Melihat gurat lelah masih membayangi wajah Yasa, Meta akhirnya mengangguk. “Oke, kamu langsung pulang aja.”
Lepas dari belenggu Meta, Yasa mengembuskan napas lega. Dia masih tidak tahu kenapa tiba-tiba dia seperti ini. Yang dia tahu, laju mobilnya tak lagi menuju rumah. Tapi ke suatu tempat yang sejak semalam memenuhi kepalanya.
Dia harus menuntaskan sesak yang menyiksanya.
-o0o-
Kalau kangen bilang, dong, Saaaaaa. Biar gak sesak itu hatimu.
Hai, Yasa datang, nih. Barangkali yang butuh kang kipas buat nyate, dia bisa, kok.
10 Juli 202w
Vita
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
Storie d'amorePertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
